Categories
Resensi Film dan Buku

Tradisi Ikat Kaki yang Patriarki dan Egois

Pastinya terasa sangat menyakitkan dan membuat menderita jika mendapat perlakuan seperti yang dialami gadis-gadis kecil di China ratusan tahun lalu. Mereka dipaksa menjalani tradisi pengikatan kaki. Naya pertama kali mendengarnya dari cerita Bunda. Bunda juga bilang, sebaiknya Naya membaca buku Lisa See yang berjudul Snow Flower. Kata Bunda, Naya bakalan merasakan penderitaan anak-anak perempuan di China saat membaca buku itu. Naya juga mencoba mencari informasi tentang ikat kaki lewat internet dan ensiklopedia. Naya antara mual, takut, marah, dan merasa kesakitan membacanya. Dan seperti yang bunda bilang, semua hal tentang tradisi ikat kaki, dan loutong dijelaskan dengan sangat baik dalam buku berjudul Snow Flower itu.

Buku ini bercerita tentang Lily kecil yang masih berusia lima tahun dan harus menjalani tradisi ikat kaki. Naya tidak bisa bayangkan betapa sakit yang harus ditanggung Lily. Telapak kaki Lily harus ditekuk dengan sangat kuat hingga tulangnya patah. Tidak hanya itu, tulang yang sudah patah itu diikat dengan bambu dan dililit dengan kulit selama berbulan-bulan. Aku tidak tahu kenapa nenek moyang mereka tega memikirkan hal semenyakitkan itu untuk dilakukan pada anak-anak.

Oh ya, apakah kamu pernah mendengar tentang tradisi itu? Menurut Naya, siapa yang tidak tahu hal yang menyeramkan itu? Tapi jika memang ada teman-teman yang belum pernah mendengar atau membacanya, Naya akan menceritakannya sedikit.

Tradisi ikat kaki pertama kali dilakukan di masa dinasti Song tahun 920 M. Sudah lama sekali, ya? Naya mengetahuinya dari membaca beberapa artikel dari internet. Sebenarnya tradisi ikat kaki itu hanya diberlakukan bagi anggota kerajaan, seperti permaisuri, putri mahkota, atau mungkin selir. Tetapi akhirnya kebiasaan itu menyebar ke kalangan para bangsawan, terutama mereka yang dari kelas menengah dan kelas atas. Tradisi itu juga dilakukan oleh rakyat jelata di masa Dinasti Ming. Akhirnya itu menjadi kebiasan selama beratus-ratus tahun. Menurut Naya, di situ letak kekeliruan nenek moyang bangsa China.

Jika suatu hal sudah dilakukan di kalangan istana oleh permaisuri, putri mahkota, selir, atau siapa saja di dalam istana, orang-orang akan menganggapnya mulia, hebat, luar biasa, atau entah apalagi sebutannya. Mereka memercayai jika kaisar adalah anak dewa. Jadi, segila apapun yang dilakukan oleh kaisar dan orang-orang di dalam istana, tetap menjadi hal hebat di mata rakyatnya. Hm, kalau Naya, mungkin Naya akan berpikir beribu-ribu kali untuk melakukannya.

Tapi Naya juga tidak yakin, soalnya tradisi ikat kaki sudah menjadi kebiasaan di daratan China. Mereka memercayai jika perempuan yang cantik itu, yang kakinya kecil seperti bunga lotus. Dan semua anak perempuan pasti sangat ingin menjadi cantik, lalu menikah dengan laki-laki kaya, dan tidak perlu bekerja di ladang atau bertani.

Tidak jauh berbeda dengan sekarang. Cantik itu yang badannya kurus, rambutnya lurus, dan kulitnya putih. Dan semua perempuan melakukan apa saja agar menjadi seperti itu. Padahal dulu perempuan yang dikatakan cantik di Eropa itu yang berbadan gendut-gendut. Bahkan Cleopatra yang kecantikannya bisa menaklukan kaisar Roma, kulitnya hitam.

Baiklah, kita kembali ke tradisi ikat kaki dan Snow Flower, apakah kamu pernah melihat bunga lotus? Eits, bunga lotus dan bunga teratai itu berbeda ya, teman-teman. Nah, tradisi ikat kaki bertujuan agar kaki perempuan dewasa nanti bisa seperti bunga lotus; bulat seperti kelopak lotus dan berwarna kuning, putih, atau merah muda, seperti kaki perempuan China. Apakah kamu tahu berapa panjang telapak kaki yang diharapkan dari seorang perempuan China masa itu? Tidak lebih dari 10 sentimeter. Bisakah kamu bayangkan bagaimana bentuk telapak kaki yang tidak lebih dari sepuluh senti? Huft, betapa kerepotannya mereka berjalan dengan kaki kecil dan bulat seperti itu. Bahkan mereka mungkin tidak bisa berlari.

Jika diperhatikan, telapak kaki seperti bunga lotus saat tidak mengenakan sepatu, terlihat sangat buruk dan mengerikan. Naya yakin kamu akan lari ketakutan dan menjauhinya karena kaki-kaki kecil itu seperti kaki-kaki monster. Naya mual membayangkannya. Tapi kaki itu menjadi indah ketika mengenakan sepatu. Apalagi sepatu-sepatu mereka warnanya mencolok dengan motif dan sulaman yang indah. Jadi, sebenarnya yang cantik itu kakinya yang seperti lotus atau sepatunya?

Selain bentuk kaki yang aneh, pengikatan kaki juga bisa menyebabkan kaki menjadi busuk dan bernanah. Bahasa kerennya sih, infeksi. Apalagi waktu itu pengetahuan orang-orang tentang kesehatan dan kebersihan tidak seperti sekarang. Tidak sedikit anak perempuan yang meninggal dunia karena pengikatan kaki itu. Jika mereka sedikit keberuntungan, paling-paling kakinya menjadi cacat atau mereka tidak bisa berjalan.

Seharusnya itu juga diberlakukan untuk anak laki-laki. Jadi mereka ikut merasakan sakitnya dan mereka tidak lagi bilang jika perempuan yang cantik itu yag kakinya kecil seperti bunga lotus. Tapi sayangnya China sangat patriarki, dan laki-laki selalu benar. Laki-laki diperlakukan seperti dewa dan perempuan dianggap seperti benda-benda. Lisa See membahas itu di buku Snow Flower.

Naya jadi teringat buku cerita silat Jin Yong. Mungkin teman-teman ada yang sudah membaca buku-buku Jin Yong. Itu salah satu buku kesukaan Naya. Serial cerita silat karya Jin Yong jika Naya tidak salah, berlatar Cina sekitar tahun 1200-an. Naya mencarinya berdasarkan nama Guo Jing. Selain itu, Naya juga mencarinya dari nama Temujin atau Genghis Khan.

Nah, Naya tidak tahu apakah tokoh-tokoh dalam cerita Jin Yong berasal dari bangsa Han. Karena jika mereka bangsa Han, para perempuannya seharusnya melakukan tradisi ikat kaki. Atau mungkin mereka dari suku Hakka yang perempuannya bekerja di ladang. Mungkin nanti Naya perlu membaca ulang buku-buku Jin Yong kembali karena sepertinya ada sesuatu yang mungkin Naya lewatkan. Pendekar wanita tidak mungkin kakinya kecil. Pastinya akan sangat susah melakukan berbagai jurus dalam bertarung. Atau apakah mungkin Jin Yong yang kurang teliti?

Sebelum ada larangan melakukan tradisi pengikatan kaki di awal abad 20 atau mulai tahun 1911, sudah ada penolakan yang dilakukan oleh masyarakat China, misalnya di masa Dinasti Qing. Kekaisaran pernah beberapa kali melarang proses pengikatan kaki, tapi ternyata tidak berhasil. Ya, pasti karena itu sudah jadi tradisi kuat dan dipercaya oleh semua masyarakat China, khususnya bangsa Han. Beberapa sastrawan di masa Dinasti Song dan Dinasti Ming juga sempat menolak tradisi ikat kaki ini, tapi tentu saja gagal. Hm, sepertinya mereka melakukan penolakan lewat tulisan-tulisannya.

Kalau kamu pernah menonton film Ip-Man, kamu pasti ingat adegan saat teman-teman Ip- Man melakukan protes terhadap tradisi ikat kaki. Naya belum tahu pasti, mungkin mereka juga ikut dalam pemberontakan Taiping yang terjadi hampir 20 tahun lamanya. Para pemberontak memrotes dan melarang dilakukannya tradisi pengikatan kaki terhadap anak perempuan di China.

Selain bercerita tentang tradisi ikat kaki, buku Snow Flower juga bercerita tentang Loutong. Loutong atau kembaran sehati hanya bisa dimiliki para perempuan. Tetapi tidak semua perempuan memiliki loutong. Bisa kamu bayangkan berapa beruntung dan senangnya anak-anak perempuan yang mempunyai loutong? Mereka bisa melakukan banyak hal bersama; menghadiri festival musim panas, saling berkirim surat, melukis kipas, bertukar kue, bahkan saling mengunjungi.  Kabarnya, loutong lebih penting dari calon suami dan pernikahan itu sendiri.

Menurutku, bisa jadi loutong itu cuma akal-akalan saja. Ya, biar para perempuan tidak terlalu merasa tersiksa sendirian, kesakitan, dan mati bosan. Kalau saja mereka melakukan protes, bisa-bisa itu membahayakan. Jadi perlu ada bonus. Ya, namanya juga bonus, pasti tidak semua anak perempuan yang sudah tersiksa itu bisa mendapatkannya. Di buku ini diceritakan jika Lily mempunyai loutong bernama Bunga Salju.

Tapi kalian tahulah, ketika anak perempuan itu dewasa, urusan rumah tangga akan menyibukkan mereka. Mereka akan diributkan dan dibuat pusing oleh masalah masing-masing; anak, suami, atau urusan domestik lain sehingga kemungkinan besar mereka akan melupakan loutung dan tidak akan menjadi sehati seperti saat mereka masih kanak-kanak. Tapi jika loutung itu bukan akal-akalan, sampai sekarang pasti masih ada anak perempuan yang memiliki kembaran sehati. Tapi apa mereka masih menyadari atau justru sudah tidak peduli?  

Kembaran Sehati tentu saja ditentukan oleh Mak Comblang yang bertugas mencarikan calon suami bagi para perempuan China. Oh ya, soal Mak Comblang, aku baru tahu jika di masyarakat China, Mak Coblang lebih penting dari seorang ibu ketika anak perempuan itu sudah melakukan tradisi pengikatan kaki. Mak Coblang digunakan untuk persoalan perjodohan. Pernikahan itu sangat penting bagi perempuan. 

Mungkin Mak Comblang itu sudah seperti peramal. Mereka tidak hanya melihat latar belakang keluarga, tapi juga membaca hari baik dan hari buruk. Dan peramal kabarnya juga bisa menunjukkan takdir. Tapi menurutku, ramalam itu semacam sugesti. Apa yang akan dikatakan peramal diyakini benar dan akan terjadi. Orang-orang terus mensugestikannya, lalu masuk ke alam bawah sadar mereka, dan tanpa sadar mereka pun melakukan seperti apa yang diramalkan.

Misalnya dari sebuah cerita yang pernah Naya baca. Saat itu terjadi perang, kemudian seorang raja mendatangi peramal dan bertanya apakah dia akan mati atau tidak. Peramal berkata jika raja itu akan mati dalam peperangan. Raja itu pun menjadi putus asa. Dia memercayai semua yang dikatakan peramal, membuatnya tidak mau berlatih, tidak mau ikut perang, dan memilih duduk saja di istananya menunggu kematian. Dan tentu saja dia kalah karena tidak melakukan perlawanan dan terbunuh.

Omong-omong tentang keputusasaan, apakah kalian juga akan putus asa dan tidak mau melawan jika kalian menjalani tradisi ikat kaki? Tetapi wanita-wanita China itu tidak melakukannya sama sekali. Jika kalian tidak percaya, baca saja buku Snow Flower. Kata Bunda, ada banyak buku yang juga menceritakan perlawanan perempuan China, seperti The Big Breasts and Wide Hips karya Mo Yan. Tapi sayangnya aku belum selesai membaca buku itu.

Kalian tahu apa tujuan tradisi ikat kaki itu? Menurutku, tradisi ikat kaki itu tujuannya biar anak perempuan diam di rumah dan bisa mengerjakan banyak pekerjaan, seperti menenun, menjahit, menyulam, memintal. Dan hasil pekerjaan mereka bisa dijual dan dimanfaatkan untuk menghidupi keluarga. Maka laki-laki tidak perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk menenun atau menjahit. Selain itu, tradisi ikat kaki dilakukan biar perempuan tidak banyak memprotes dan tidak bisa pergi ke mana-mana. Mereka akan selamanya bergantung kepada ayah atau suami mereka. Mereka tidak bisa mengerjakan hal lain di luar rumah. Jadi selamanya perempuan akan patuh dan menurut pada laki-laki.

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

One reply on “Tradisi Ikat Kaki yang Patriarki dan Egois”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s