“Waktu berlalu dengan sangat cepat, ya.”

Kalimat itu hampir selalu terdengar setiap kali sebuah tahun mencapai ujungnya. Entah di 2022, 2023, 2024, atau sekarang—2025. Aku pun sering mengucapkannya, seolah kalimat itu adalah penutup paling aman untuk menandai berlalunya waktu. Namun semakin sering ia diulang, semakin besar pula pertanyaanku: mengapa waktu terasa bergerak berbeda bagi setiap orang? Mengapa bagi sebagian orang ia melesat tanpa ampun, sementara bagi yang lain ia berjalan tertatih, bahkan terasa kejam?

Ada yang bilang, jawabannya ada pada usia yang bertambah. Ada pula yang menyalahkan rutinitas yang berulang-ulang. Media sosial sering dituding sebagai penyebab utama. Lima menit scrolling yang diniatkan sebagai jeda singkat berubah menjadi lima jam yang tak terasa. Linimasa dipenuhi potongan-potongan hidup orang lain, berita-berita yang datang silih berganti, dan dunia yang terasa semakin bising—namun anehnya, juga semakin jauh dari kita.

Tahun ini, terlalu banyak hal terjadi dalam hidupku. Hal-hal baik, juga hal-hal buruk. Barangkali karena itu, 2025 terasa lebih lambat, lebih berat, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Salah satu perubahan terbesar dalam hidupku adalah memasuki Sekolah Menengah Atas. Dulu, kata “SMA” terdengar sangat jauh—hampir mustahil—dan sering kali hadir sebagai ancaman kecil di kepala. Bertambah dewasa bukan sesuatu yang kunanti dengan sukacita. Terlebih karena orang-orang gemar mengatakan bahwa masa SMA bisa menjadi masa terbaik, atau justru masa terburuk dalam hidup seseorang, tanpa pernah menjelaskan bagaimana cara bertahan di dalamnya.

Kini aku menjalaninya. Hari demi hari. Dan sering kali rasanya tidak nyata. Ada momen-momen ketika aku berhenti sejenak dan berpikir, benarkah aku sudah sampai di tahap ini? Saat melihat kembali foto-foto masa kecilku, perasaan itu berubah menjadi ketakutan: waktu ternyata tidak menunggu siapa pun. Dan di situlah, ketakutan akan menjadi dewasa tumbuh—pelan, tapi pasti.

Namun kenyataannya, bertumbuh tidak sepenuhnya seburuk itu. Ya, ada tugas-tugas yang menumpuk, tuntutan untuk mulai berdiri di atas kaki sendiri, dan ekspektasi yang datang dari berbagai arah—sering kali tanpa peduli apakah kita siap atau tidak. Aku sempat kewalahan. Sampai sekarang pun masih, meski dengan kadar yang sedikit lebih terkendali. Aku yakin, banyak teman sebayaku merasakan hal yang sama. Perlahan, aku belajar menerima bahwa bertambah tua bukan sesuatu yang bisa ditawar. Tidak ada tombol jeda. Mau atau tidak, semua orang akan dipaksa bergerak maju dan beradaptasi. Orang-orang dewasa di sekitarku pernah berada di titik ini dan bertahan. Maka, barangkali aku pun harus belajar bertahan.

Di beberapa titik, aku merasa tertinggal. Tertinggal dari teman-temanku. Tertinggal dari dunia yang berubah terlalu cepat. Kepalaku dipenuhi pertanyaan seperti, mengapa aku tidak bisa melakukan lebih? Dan kadang-kadang, kesedihan datang tanpa aba-aba, membuatku mempertanyakan hidupku sendiri. Aku pikir, perasaan itu wajar. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Entah ia seorang pemilik perusahaan kaya raya, guru favoritmu yang selalu tersenyum ramah setiap pagi, orang tuamu, teman sekelasmu—atau siapa pun. Kesadaran bahwa semua orang menyimpan kegelisahan masing-masing sedikit banyak membuatku merasa tidak sendirian.

Di antara momen-momen sedih dan apa yang sering kusebut sebagai “krisis eksistensial”—frasa yang terdengar berat, tetapi terasa nyata—ada pula banyak momen membahagiakan di tahun 2025. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang barangkali terdengar sepele, tetapi penting. Bahagia karena bisa masuk ke sekolah yang kuinginkan. Bahagia karena kesempatan-kesempatan baru terbuka. Bahagia karena proyek buku yang sempat tersendat akhirnya bisa dilanjutkan. Bahagia karena gambarku tidak lagi disalahartikan sebagai roti gosong. Bahagia karena bertemu orang-orang yang membuat hari terasa lebih ringan. Kebahagiaan-kebahagiaan yang, untuk sesaat, membuat dunia terasa lebih masuk akal.

Namun kebahagiaan itu rapuh. Terutama ketika aku kembali berhadapan dengan kenyataan di luar diriku sendiri.

Berita-berita tentang negeri ini datang tanpa henti. Dan semakin lama aku menyadari bahwa banyak dari tragedi itu bukanlah kejadian tiba-tiba. Ia adalah hasil dari keputusan-keputusan yang dibuat jauh sebelum 2025—keputusan yang sering kali tidak melibatkan suara mereka yang paling terdampak. Kebijakan makanan bergizi di sekolah, misalnya, yang dalam praktiknya kerap mereduksi nyawa anak-anak menjadi sekadar angka dalam laporan. Suara rakyat yang terus berbicara, namun tidak pernah benar-benar didengar. Hingga banjir besar di Sumatera yang baru-baru ini terjadi, merenggut ratusan—bahkan ribuan—nyawa, sementara perhatian publik dengan cepat berpindah ke topik lain.

Berita-berita itu berseliweran di layar ponselku, dan tiba-tiba krisis eksistensialku terasa memalukan. Seolah kegelisahanku hanyalah kemewahan seorang remaja yang masih punya ruang untuk merenung.

Bagaimana aku bisa meratapi hidupku sendiri, ketika ada ratusan anak yang kehilangan rumahnya dalam semalam?

Bagaimana aku bisa sibuk mempertanyakan masa depanku, ketika begitu banyak orang di kampung halamanku bahkan kesulitan untuk bertahan hidup hari demi hari?

Maka, 2025 terasa seperti tahun yang edan. Tahun yang dipenuhi ketidakpastian, luka kolektif, dan kenyataan pahit bahwa tidak semua orang diberi kesempatan yang sama untuk sekadar merasa aman. Tahun yang memaksaku menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang diriku sendiri. Dan satu-satunya harapan yang bisa kugenggam adalah semoga keadaan benar-benar membaik. Semoga kita semua—dalam bentuk kebahagiaan sekecil apa pun—masih diberi ruang untuk bernapas dan bertahan.

Leave a comment

Trending