Cerita tentang Sekolah

Pagi cerah bel berbunyi anak-anak masuk lapangan Devi temanku, berjalan pelan anak-anak lain berjalan di belakangnya. Aku bosan terus berdiri. Aku bosan, bosan sekali. Tapi ada beberapa momen kusuka. Aku juga seperti berada di antara manusia dan hewan di kebun binatang. Kenapa? Aku tak pandai menjawabnya aku pun tak pandai bercerita meski aku sedang bercerita….

Sebuah Cerita Untuk Paman

— buat Menji   Ruang dipenuhi kursi-kursi yang mengobrol, orang-orang tertawa sementara pamanku bergigi seperti monster menaiki tangga meninggalkan alunan pada kayu-kayunya. Dia lelaki yang suka menggodaku saat bunda memarahiku, ia memperlihatkan gigi-gigi berantakannya. Ia bisa-bisanya menertawaiku menggunakan bahasa mahkluk planet-planet lain wajahnya nyaris menyerupai alien di film-film. Aku tidak menyukainya ketika ia tertawa. Tetapi…

Membaca Kartini

  Amplop berperangko Jepara dikirim ke meja kerja seorang perempuan Belanda, tentang perempuan yang terkurung di rumah, anak-anak dipaksa menikah, juga Belanda yang menjajah kota ukiran. Kotak berukir dikirim pada ratu negeri penjajah. Perempuan Belanda menerbitkan surat-surat. Kartini menjadi cerita di mulut orang-orang Belanda. Tapi jauh di kota asalnya, ia dipaksa Menikah.Tak ada sekolah seperti…

CERITA LIBURAN

Liburan seperti menyambut raja. Raja adalah liburan yang mengetuk pintu kelasku. Aku gembira. Chinka sahabatku melompat katak riang tapi bukan karena hujan. Hari itu liburanku ke candi Sambisari. Aku berlari di halaman candi. Di sana ada gajah membeku. Aku ingat cerita bunda tentang Ganesha. Bunda bilang ia cerdas. Di sana ada stupa seperti mahkota batu…

Gadis yang Mencintai Seorang Buruk Rupa

Di hutan yang sangat aneh salju turun di bulan Juni dan sebuah istana, dihuni barang-barang antik. Mereka bisa bicara. Di dalam keanehan itu bersembunyi seorang buruk rupa egois. Ia dikutuk penyihir. Mereka tidak memberitahu itu pada seorang gadis bernama Belle semacam rahasia di buku diari. Belle berambut secoklat bola mata ibuku. Dia gadis yang suka membaca…

Di Pameran Lukisan

Lelaki bernama Hasan Gauk membacakan puisiku. Bageera keluar dari mulutnya dan berjalan di hutanyang indah. Kulitnya, langit dipenuhi bintang berwarna biru. Gajah penyelamat penghuni hutan, diburu manusia. Seorang anak menyelamatkan gajah dengan balon warna-warni di dalam mimpi rumput putih dari gading gajah. Tiba-tiba, aku terjatuh ke dalam laut berenang disusul paus yang baik. Ia bercerita…

Monster Jahat

Di rumah sebesar balon udara tiga orang anak dan ibunya menetap bersama banyak monster. Monster itu tidak terlihat, seperti udara. Mereka tidak tahu jika di sana tinggal banyak sekali monster, sebanyak butiran pasir. Monster itu pendek sependek kaki meja belajarku tetapi mereka sekuat Orc. Monster-monster itu hanya ingin mencuri buku Spiderwick. 2016

Di Perpustakaan

Ia duduk di kursi di dekat lemari dengan banyak buku dan laptop berwarna putih. Aku mengajak ia membaca buku bahasa Inggris, menggambar, mewarnai, dan mengobrol. Matanya secoklat kulit kayu dengan jilbab berwarna aspal dan berkacamata.  Kulitnya putih seperti kulit telur . Mungkin karena kakeknya dari Jerman. Dan dia juga mengajakku bermain sambung cerita. Kami berbisik-bisik…

Teman-teman Bunda

Kami duduk di sofa selembut awan. Ada om Richard dan tante Atta. Om Yoga tidak ikut karena harus pulang ke Semarang seperti aku yang ingin cepat-cepat sampai di rumah. Kami berfoto dan aku senang sekali, seperti lukisan-lukisan di dinding. Kami memesan pizza denga keju mozarela aku juga makan pie susu dari Bali. 2016

Sepeda

Ketika kudayung sepeda angin membelai wajah dan rambutku. sepedaku rodanya sepasang gelang besar, rantainya seperti belalai gajah yang terjepit, jari-jarinya seperti anak panah yang disusun rapi, belnya seperti mangkuk telungkup, kursinya seperti posisi tangan dewi Durga di Prambanan, pegangannya seperti gulungan benang di tongkat kayu, remnya seperti tangkai sendok sup. Sepedaku melaju secepat kuda. 2016

Menulis Puisi

Di buku tulisku ada pensil ujung pensil seakan menyentuh ulat-ulat kecil yang sedang tertidur. Perlahan ulat itu memakan ujung pensil dan meninggalkan bekas yang bisa aku baca menjadi Menulis Puisi. Tanganku terasa pegal aku meletakkan pensilku. 2016

Puisi-puisi Abinaya Ghina Jamela (Basabasi.co)

http://basabasi.co/puisi-puisi-abinaya-ghina-jamela-menembus-kaca/ Menembus Kaca Alice mengejar kupu-kupu sebiru kemeja ibuku Alice melihat, ternyata teman lama. Alice melihat, ia masuk ke dalam kaca seperti air bergelombang. Alice mengikutinya, gerombolan burung pulang ke sarang dan tersesat seekor. Tapi Alice menjadi sekecil bayi kangguru. Ia bertemu Hatter yang tak ingin tersenyum. Ia sekarat dan mengusir Alice, seperti pengamen diusir…