Categories
Puisi

Puisi-puisi Abinaya Ghina Jamela di Harian Media Indonesia, 10 Juni 2018

DI BANGKU SEKOLAH   Sekolah itu tidak menarik hanya duduk dan belajar itu saja, tak menarik, tak ada. Jika terus seperti itu otak terbebani. Seperti filsuf penyair, cerpenis, esais, ada waktu menulis, membaca dan bermain. Di sekolah ada waktu istirahat, tapi belum cukup. Anak-anak seperti orangtua yang dipaksa belajar. Soal-soal berada di atas kepala, berputar-putar, […]

Categories
Puisi

Repotnya Ibuku

Ibu selalu terlihat sibuk. Membangunkan aku, berbenah dalam rumah, menghidang sarapan, hingga urusan yang belum aku mengerti. Kalau sudah begitu, Ibu akan berkata, Tunggu sebentar, Nak. Aku akan ambil sikap diam Mengerjakan kesenanganku di kamar; menunggunya bersama buku, Atau melukis, bahkan mungkin ngomong-ngomong konyol. Ibu begitu repot, bukan cuma mengatasi rumah, urusan sekolah juga menghabiskan […]

Categories
Puisi

Kata Ibu, Sekolah Itu Menyenangkan

Aku sudah katakan, aku tidak ingin sekolah. Tapi ibu berkata, itu menyenangkan. Aku akan bertemu banyak teman, banyak permainan seru. Di sana, ada bapak dan ibu guru. Mereka hebat berpetualang. Aku pasti suka. Aku tidak sepakat dengannya. Ibu berkata lagi, ada perpustakaan sekolah. Saat aku bosan, aku boleh membaca semua koleksi di sana dan memiliki […]

Categories
Puisi

Betapa Pelupanya Aku

Aku tidak ingat omongan Bunda. Jika aku disuruh mandi, aku sering berkata, dua menit atau lima menit, dan itu pun dibangunkan. Dan itu pun aku sering mengeluh. Terkadang pun aku kembali berkata, dua menit lagi atau lima menit lagi. Sehingga aku sering telat datang ke sekolah. Tetapi di jalan aku mengeluh dan tetap menyalahkan Bunda. […]

Categories
Puisi

Cerita tentang Sekolah

Pagi cerah bel berbunyi anak-anak masuk lapangan Devi temanku, berjalan pelan anak-anak lain berjalan di belakangnya. Aku bosan terus berdiri. Aku bosan, bosan sekali. Tapi ada beberapa momen kusuka. Aku juga seperti berada di antara manusia dan hewan di kebun binatang. Kenapa? Aku tak pandai menjawabnya aku pun tak pandai bercerita meski aku sedang bercerita. […]

Categories
Puisi

Puisi-puisi Abinaya Ghina Jamela di Harian Media Indonesia, 14 Mei 2017

Di Kebun Binatang Di kebun binatang, para hewan menunggu dengan kesepian, bertahan untuk tidak lari, mereka seperti penjahat, terpenjara. Kura-kura berlumut seperti rumput laut tumbuh di tempurungnya, leher panjangnya muncul, kura-kura itu berenang dengan bebas tapi tidak sebebas saat mereka di laut. Aku gembira, tapi para binatang tak seperti perasaanku, gembira. Mereka hanya menatap para […]

Categories
Puisi

Kemarahan Gunung Merapi

Gunung Merapi sungguh berbahaya Manusia mempersembahkan kesayangannya Sultan membuat upacara-upacara. Mengapa? Karena ada penjaga di luar sana. Para jin akan meletuskan gunung merapi seakan tumpahan dari tungku dua petapa yang diusir para dewa demi pulau Jawa. Penjaga murka pada manusia. Manusia membuang sampah sembarangan manusia menebang pohon-pohon alam kotor, penjaga marah. Seratus keburukan, seratus kesalahan […]

Categories
Puisi

Di Bangku Sekolah

Sekolah itu tidak menarik hanya duduk dan belajar itu saja, tak menarik, tak ada. Jika kita terus menerus seperti itu, otak terbebani sama dengan filsuf penyair, cerpenis, esais, ada waktu menulis, membaca dan bermain, walau di sekolah ada waktu istirahat, itu belum cukup. Anak-anak seperti orangtua yang dipaksa belajar. Soal-soal berada di atas kepala berputar-putar […]

Categories
Puisi

Sebuah Cerita Untuk Paman

— buat Menji   Ruang dipenuhi kursi-kursi yang mengobrol, orang-orang tertawa sementara pamanku bergigi seperti monster menaiki tangga meninggalkan alunan pada kayu-kayunya. Dia lelaki yang suka menggodaku saat bunda memarahiku, ia memperlihatkan gigi-gigi berantakannya. Ia bisa-bisanya menertawaiku menggunakan bahasa mahkluk planet-planet lain wajahnya nyaris menyerupai alien di film-film. Aku tidak menyukainya ketika ia tertawa. Tetapi […]

Categories
Puisi

Membaca Kartini

  Amplop berperangko Jepara dikirim ke meja kerja seorang perempuan Belanda, tentang perempuan yang terkurung di rumah, anak-anak dipaksa menikah, juga Belanda yang menjajah kota ukiran. Kotak berukir dikirim pada ratu negeri penjajah. Perempuan Belanda menerbitkan surat-surat. Kartini menjadi cerita di mulut orang-orang Belanda. Tapi jauh di kota asalnya, ia dipaksa Menikah.Tak ada sekolah seperti […]