Aku sempat terobsesi dengan mitologi Yunani. Banyak sekali ensiklopedia mitologi yang berjejer di rak bukuku. Pengetahuanku mengenai dua belas dewa dan dewi Olympus tidak perlu dipertanyakan. Dari dewa paling besar seperti Zeus hinga dewa minor sekalipun, aku mengenalnya luar dalam. Jadi, begitu aku menyadari keberadaan serial buku ‘Percy Jackson’, aku gembira bukan main. Siapa anak yang tidak suka membaca cerita dengan tokoh utama seusianya yang melakukan hal-hal heroik?

Dalam mitologi Yunani, para dewa seringkali dipuja sebagai makhluk sempurna—bukan hanya di Yunani saja, melainkan dewa secara general, di berbagai budaya— meski sebenarnya, sebagian besar dari mereka memiliki sifat yang sangat destruktif. Bagi anak-anak para dewa di Yunani, Olympus sering kali terasa seperti rumah yang gagal. Kronos yang memakan anak-anaknya sendiri karena rasa iri, Zeus yang mengabaikan ratusan anak-anaknya, atau juga Poseidon yang jarang hadir di kehidupan anak-anaknya.

Hal-hal ini membawa kita ke suatu titik, bahwa sebenarnya mitologi Yunani dipenuhi trauma keluarga. Kekuasaan yang melimpah juga tidak menjamin kedewasaan emosional. Bahkan si Dewi Kebijakan, Athena, tidak bisa melihat kebenaran dengan baik ketika dia mengutuk Medusa. Padahal, Poseidonlah yang bersalah telah melakukan pelecehan.  

            Percy Jackson dan Anak-anak yang Terlupakan

Di sinilah Rick Riordan memulai kehadirannya melalui karakter Percy Jackson, anak laki-laki 12 belas tahun—lewat buku pertama—Seorang demigod, manusia setengah dewasa dan Ayah yang tidak hadir secara emosional. Ia mencoba mengajak remaja-remaja di seluruh dunia berpetualang bersama Percy, menyaksikan petualangan-petualangan heroiknya, dan menemukan semacam ‘cerminan diri’ lewat buku tersebut.

Satu kesamaan yang bisa ditemukan di antara Percy dan teman-teman demigod-nya adalah, mereka sama-sama tidak memiliki rumah yang sempurna. Annabet, Nico, Luke, semuanya korban dari orangtua yang tidak hadir. Mereka berusaha keras berlatih, bertambah kuat, hanya dengan satu keinginan: diperhatikan oleh orangtua yang berwujud dewa-dewi.

Meski melawan banyak hal-hal menakutkan, monster terbesar bagi mereka bukanlah hydra, titan,atau cyclops bermata satu, melainkan rasa tidak diinginkan.

Dalam dunia Percy Jackson, luka terbesar para demigod sering kali bukan berasal dari perang, melainkan dari rumah yang gagal memberi rasa aman. Seperti yang dijelaskan John Bowlby tentang keterikatan anak dan orang tua, kehilangan afeksi pada masa kecil meninggalkan kehampaan yang terus dibawa hingga dewasa.

            Sebelum Anak Mengenal Dunia

Menurut Bowlby, ada beberapa tahap dalam keterikatan anak dan orang tua: preattachment (pra-kelelakatan), indiscriminate attachment (kelekatan tanpa pembedaan), discriminate attachment (kelekatan terarah), dan multiple attachement (kelekatan jamak).

Teori ini mengatakan, bahwa bahkan sebelum seorang bayi bisa bicara, mereka sudah belajar untuk menjalin ikatan. Contohnya pada tahap awal, pre-attachment. Di tahap ini, seorang anak belum benar-benar mengenal siapa yang akan menjadi rumah bagi emosinya. Ia hanya mengenali hangatnya pelukan, senyuman, atau tangan-tangan yang datang untuk menenangkannya. Mereka mulai mencari kedekatan emosional, tapi belum memiliki pusat keterikatan.

Tahap kedua adalah indiscriminate attachment. Di tahap ini, seorang anak mulai mengenali wajah yang sering hadir di sekitarnya. Memberi kehangatan kepada orang yang familier, juga mencari ketenangan dalam pelukan yang berulang.

Seorang anak mulai membangun keterikatan di tahap ketiga: discriminate attachment. Menurut Bowlby, ini tahap paling penting pada perkembangan seorang anak. Mereka mulai membangun sebuah ikatan kuat dengan satu figur utama—dalam hal ini, orangtua.

Terakhir, yaitu multiple attachment. Seperti namanya, inilah momen seorang anak mulai menyadari kenyamanan tidak hanya berasal dari satu atau dua orang. Ia mulai mengenal lebih banyak suara—bisa dari nenek, kakek, paman, bibi, atau saudara terdekat lainnya. Di tahap ini, anak mulai belajar bahwa kasih sayang bisa tumbuh dalam segala bentuk.

 Ironisnya, masyarakat modern sering kali lebih peka terhadap kebutuhan fisik anak daripada kebutuhan emosional mereka. Kita tahu kapan seorang anak lapar, sakit, atau membutuhkan biaya sekolah. Akan tetapi tidak selalu menyadari kapan mereka merasa sendirian. Padahal luka emosional jarang muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia bisa tumbuh menjadi kemarahan, menarik diri dari lingkungan, atau perasaan bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk diperhatikan.

Melihat tahapan keterikatan Bowlby, kebanyakan demigods di Percy Jackson memiliki masalah di tahap ketiga: discriminate attachment. Yaitu ketika orangtua dewa-dewi mereka mengabaikan mereka begitu saja. Para dewa-dewi teralihkan oleh banyaknya tugas ‘menyelamatkan dunia’ sehingga melupakan tugas lain yang tidak kalah penting: menjalin keterikatan dengan anak mereka sendiri.

            Anak-Anak yang Tidak Tinggal di Olympus

Mungkin itulah mengapa begitu banyak anak dan remaja hari ini merasa dekat dengan dunia Percy Jackson—atau dunia fantasi mana pun. Bukan semata karena pedang, monster, atau ramalan-ramalannya, melainkan karena para tokohnya tumbuh dengan perasaan yang terasa begitu akrab: kesepian, kemarahan, dan kebutuhan untuk diakui oleh orang yang terlalu jauh untuk dijangkau, oleh orang yang seharusnya berada di sampingmu ketika kamu membutuhkan mereka.  

Di tengah dunia penuh pengabaian, percakapan yang setengah didengar, serta orang-orang dewasa yang sering kali terjebak dengan tuntunan hidup mereka sendiri, Camp Half-Blood terasa seperti kemungkinan kecil bahwa seseorang masih bisa menemukan rumah di luar hubungan darah itu sendiri.

Sayangnya, tidak semua rumah yang gagal bukan hanya berasal dari pengabaian. Tetapi juga dalam bentuk yang seringkali lebih ekstrem. Dalam banyak kasus, rumah justru menjadi ketakutan itu sendiri. Berita mengenai kekerasan atau pelecehan yang beredar kesana-kemari sering kali menunjukkan jika pelakunya bukan orang asing, melainkan orang yang seharusnya melindungi mereka.

Lalu, apa yang harus dilakukan ketika rumah bukan tempat yang nyaman untuk pulang? Ketika anak-anak memilih bersembunyi ketimbang pulang? Ketika pulang menjadi tempat penghakiman?

Pengabaian dan kekerasan tentu dua hal yang berbeda. Namun kedua hal itu berangkat dari sumber masalah yang serupa: ketidakmampuan orang dewasa melihat anak sebagai makhluk hidup yang membutuhkan kasih sayang, dan perlindungan. Di sisi lain, ketidaknyamanan dan ketakutan anak karena rumah bukan tempat yang akan melindungi mereka dari semua hal buruk.

 Dan barangkali, tanpa disadari sebagian besar anak atau remaja yang membaca Percy Jackson bukan untuk membayangkan dirinya menjadi setengah dewa, melainkan untuk memastikan bahwa luka itu juga dimiliki anak-anak lain.

            Fantasi Sebagai Tempat Pulang

“Fantasy is escapist, and that is its glory.”

(Fantasi adalah pelarian, dan di situlah keindahannya).

Begitulah ucapan J.R.R Tolkien, penulis dari Lord of The Rings. Awalnya aku merasa kalimat itu agak berlebihan. Pelarian terdengar seperti sesuatu yang pengecut. Seolah-olah orang yang membaca cerita fantasi hanyalah sekumpulan anak-anak yang tidak mampu menghadapi kenyataan hidupnya sendiri. Tetapi belakangan aku mulai mengerti, mungkin manusia memang tidak selalu diciptakan untuk kuat menghadapi dunia nyata setiap waktu. Kadang-kadang, kenyataan terlalu berisik. Terlalu penuh tuntutan. Terlalu dipenuhi orang-orang yang merasa dirinya paling benar. Dan pada saat-saat seperti itu, seseorang hanya ingin pergi sebentar saja. Bukan untuk benar-benar meninggalkan dunia, melainkan hanya untuk bernapas tanpa terus-menerus merasa sesak.

Sementara di dunia nyata, banyak anak justru tumbuh di tengah orang-orang yang terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk mempertahankan ego, terlalu sibuk bertengkar, atau terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri sampai lupa bahwa ada anak kecil di rumah yang diam-diam sedang belajar merasa kesepian. Dan lucunya, ketika anak-anak itu mulai tumbuh murung, marah, atau sulit dipahami, orang-orang dewasa justru bertanya, “kamu kenapa?” “kenapa kamu nakal dan keras kepala?” “kenapa kamu jadi pemberontak begini?”

Karena itu, bagi anak dan remaja, bagi kami, fantasi terasa lebih menenangkan. Bukan karena naga, sihir, atau monster-monsternya, tetapi karena dunia fantasi sering kali memberikan sesuatu yang gagal diberikan dunia nyata: rasa dimengerti. Setidaknya di dunia fantasi, anak-anak yang hancur masih bisa menjadi pahlawan. Setidaknya di dunia fantasi, kemarahan memiliki alasan. Setidaknya di dunia fantasi, kesepian tidak membuat seseorang terlihat lemah.

            Setiap Orang Membutuhkan Rumah

   Dalam Percy Jackson, monster memiliki bentuk yang jelas. Warna, bentuk, dan rupa yang konkret. Sayangnya, dunia nyata tidak sesederhana itu. Monster bisa datang dari mana saja. Ada monster yang tidak hidup di hutan, ataupun bersembunyi di lautan. Melainkan para monster yang bersembuyi di balik kata ‘rumah’, bersembunyi di balik pengabaian, atau bersembunyi di balik bentakan-bentakan yang membuat seseorang anak tidak hanya kehilangan kepercayaan dirinya, melainkan juga kehilangan dirinya dan kehilangan arah pulang.

Mungkin karena alasan itu, fantasi terasa begitu menyenangkan. Karena setiap anak bisa menjadi siapa pun, menjalani petualangan dan kehidupan mereka sendiri. Sekadar penenang sesaat dari ributnya dunia nyata. Di dalam cerita fantasi, anak paling ‘biasa’ sekalipun bisa menjadi pahlawan.

Dan ketika halaman cerita Percy Jacksons ditutup, yang tersisa bukanlah para dewa dan peperangannya. Melainkan pengingat sederhana bahwa setiap anak layak mendapatkan rumah. Bukan hanya beton dan batu bata, melainkan tempat untuk membuat mereka merasa aman, didengar, dan dicintai.

Leave a comment

Trending