Yogyakarta, Pendidikan, dan Anak

Tidak ada yang tidak kenal Yogyakarta. Mungkin ada beberapa orang yang masih asing dengan nama Yogyakarta, tapi aku sangat yakin jika Yogyakarta menjadi kota yang cukup populer tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. Tentu saja dalam tulisan ini aku tidak akan membahas mengenai gudeg, batik, tugu golong-gilig, jalan Malioboro, atau bakpia karena kamu bisa menemukannya di buku panduan wisata, buku sejarah, bahkan di Google. Tapi ada satu hal menarik yang ingin aku tuliskan dalam esai pendekku ini yang ada hubungannya dengan Yogyakarta sebagai kota pelajar.

Kamu pasti sudah penah dengar jika Yogyakarta dikenal juga sebagai kota pelajar. Menurut beberapa artikel yang aku baca, gelar itu diberikan kepada Yogyakarta disebabkan banyaknya pusat Pendidikan atau lembaga pendidikan yang berdiri dan berada di Yogyakarta. Misalnya saja yang paling populer Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara. Nah, ketika sesuatu gelar sudah ditempelkan pada sebuah kota, maka kota tersebut punya tanggungjawab untuk mempertahankan dan membuktikannya. Tapi menurutku, pembuktiannya tentu saja bukan hanya dilihat dari jumlah sekolah yang ada di Yogyakarta. Yogyakarta juga harus punya lingkungan yang mendukung kemajuan Pendidikan masyarakat. 

Bicara mengenai lingkungan, tentu saja akan berhubungan dengan keluarga, sekolah, masyarakatnya. Aku pernah membaca sebuah artikel yang diterbitkan dalam Proceeding of the National Academy of Science, tahun 2015. Artikel itu kurang lebih bicara seperti ini; lingkungan memiliki peran yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan kognitif seorang anak. Itu sudah diuji melalui penelitian yang dilakukan oleh Virginia Commonwealth University dan Lund University of Sweden. Artinya, hasil penelitian itu nggak asal tulis tapi berdasarkan data. Oh ya, aku tidak akan menjelaskan apa itu kognitif, karena kamu juga bisa mencari dan membacanya.

Lalu apa hubungannya antara Yogyakarta sebagai kota pelajar dengan hasil penelitian tersebut? Nah, begini, aku akan memberikan sebuah ilustrasi sederhana yang aku alami beberapa waktu lalu. Aku harap kamu bisa bersabar untuk membaca. Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya, menurutmu apakah merokok bisa menyebabkan kehamilan? Silahkan kamu simpan dahulu jawabanmu.

Sebelum membahas lebih lanjut, aku ingin kamu tahu bahwa tahun ini aku berusia 13 tahun, yang berarti aku sudah mulai masuk SMP. Nah, sekarang tidak ada yang namanya MOS, melainkan digantikan dengan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). MPLS di sekolahku berlalu dengan seminar-seminar tentang bencana, kenakalan remaja, hingga kurikulum Merdeka. Meskipun semua narasumber di acara itu berbicara dengan penuh semangat, bahkan beberapa di antaranya dengan mulut berbusa-busa, aku tidak begitu yakin jika anak-anak fokus mendengarkan mereka. (Ini menjadi catatan penting jika metode ceramah untuk anak-anak dan remaja harus dikurangi. Apalagi jika lebih dari 30 menit dan narasumbernya menyampaikan materi dengan cara dan gaya yang membosankan).

Di salah satu materi MPLS terdapat topik mengenai Kenakalan Remaja yang diisi oleh seorang polisi dari dari kantor kepolisian dekat sekolahku. Oh ya, sekolahku mendatangkan narasumber yang memang berhubungan dengan materi, seperti Polisi dan Jaksa. Menurutku, itu keren! Nah, Bapak Polisi itu menyampaikan materi tentang kenakalan remaja, pengertian dari kenakalan remaja, jenis-jenis kenakalan remaja, akibat dari kenakalan remaja, dan juga penyebab kenakalan remaja. Tentu saja itu hal yang penting diketahui remaja. Apalagi akhir-akhir ini muncul kasus kenakalan remaja yang berakhir kematian. Aku menggarisbawahi satu hal bahwa, kenakalan remaja bisa disebabkan oleh lingkungan yang buruk dan pergaulan yang salah. 

Semua tampak baik-baik saja dan berjalan lancar. Tidak ada yang aneh hingga salah satu temanku mengajukan pertanyaan, ‘Apakah merokok bisa bikin hamil, pak?’. Kebanyakan anak-anak di ruangan itu tertawa mendengar pertanyaan itu. Mungkin mereka pikir itu pertanyaan yang konyol dan bodoh. Bagaimana tidak, jawabannya sudah jelas, bahwa rokok atau merokok tidak akan bisa membuatmu hamil. Tapi, bisa jadi pertanyaan itu muncul karena temanku yang bertanya selama ini mendapatkan informasi yang salah. 

Seharusnya pertanyaan itu tidak sulit untuk dijawab. Akan tetapi malah jawaban dan penjelasan dari narasumber yang membuat aku ingin tertawa sekeras-kerasnya. Aku mengira Bapak Polisi itu akan menjawab ‘tidak’ dengan cepat dan kemudian mejelaskan alasannya. Akan tetapi, Bapak polisi itu menjawab panjang lebar, berbicara kesana kemari, hingga berbicara tentang pengalamannya, yang dipertegas dengan pernyataan, ‘ya, berdasarkan pengalaman bapak, merokok memberi kemungkinan kita bisa hamil’. 

Tentu saja aku terkejut mendengar jawaban itu, tidak percaya. Apalagi penjelasan yang diberikan narasumber sungguh tidak masuk akal dan jauh sekali dari inti pertanyaan. Aku berharap ada salah satu guru yang akan memperbaiki penjelasan Bapak tersebut ketika si Bapak dengan sepatu bot hitamnya meninggalkan ruangan. Tapi tidak ada, seakan-akan jawaban itu sudah tepat dan bisa diterima. Aku juga berharap, ketika mata pelajaran Bimbingan Konseling, aku akan mendepatkan penjelasan dari guru BK. Tapi hal itu sama sekali tidak disinggung, seakan-akan itu hal yang sudah pasti benar atau itu hal yang tidak perlu didiskusikan lagi. 

Sesampainya di rumah, aku mencoba mengingat kembali kejadian pagi itu. Aku tidak mau mendiskusikannya dengan Bunda karena menurutku itu hal konyol. Aku mencoba memahami bahwa yang dimaksud Bapak Polisi dengan merokok bisa menyebabkan kehamilan dikarenakan dengan merokok, kita bisa terbawa ke lingkungan atau pergaulan yang buruk. Lingkungan buruk itulah yang bikin seorang anak perempuan bisa hamil. Meski itu juga tidak bisa diterima karena hubungannya yang sangat jauh sekali. 

Dan yang menjadi pertanyaanku, bagaimana jika sebagian besar anak-anak di ruangan itu benar-benar mengira bahwa karena merokok mereka bisa hamil? Bukankah itu sebuah pembodohan dan pembodohan-pembodohan seperti itu dilakukan atau terjadi di lembaga bernama sekolah?

Nah, kembali ke persoalan yang aku sampaikan di awal, lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan anak. Apa yang akan terjadi pada anak-anak jika sejak dini pembodohan-pembodohan itu terjadi, malahan terus-menerus tanpa ada yang bisa menghentikannya? Aku hanya memberikan satu ilustrasi yang aku alami. Aku yakin banyak ilustrasi-ilustrasi lain yang akan muncul jika anak-anak berani dan mau berbicara.

Seharusnya anak-anak diberi pemahaman dan pengetahuan yang benar, yang sesuai, bukan mengada-ada seperti yang dilakukan oleh bapak narasumber. Aku pikir, tidak ada lagi hal tabu untuk diceritakan dan disampaikan pada anak-anak. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan itu tabu, padahal ada anak yang meninggal dunia karena dirundung, dipaksa menyetubuhi kucing, divideokan, lalu diviralkan? Orangtua harus memberikan informasi dan pengetahuan yang benar kepada anak. Guru di sekolah harus memberi informasi dan pengetahuan yang benar kepada anak. Lingkungan dan masyarakat di sekitar harus memberi informasi dan pengetahuan yang benar pada anak. Tapi yang terjadi justru seperti pengalamanku. 

Orang-orang dewasa sering merasa hebat dan berkuasa. Mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk mengontrol dan mengatur anak-anak agar sesuai dengan kemauan mereka, agar anak-anak tidak nakal, agar anak-anak jadi baik dan patuh. Orang-orang dewasa memaksakan kebenaran agar tujuan mereka tercapai. Contoh yang paling mudah, apakah ketika kamu masih sangat kecil kamu pernah ditakut-takuti oleh orangtuamu jika ada hantu atau monster yang akan menjemputmu jika kamu nakal? Itu pembodohan!

Penjelasan yang seharusnya diberikan oleh Bapak polisi atau Bapak dan Ibu Guru kepada teman-temanku, merokok tidak bisa membuatmu hamil, titik! Tapi merokok bisa mebahayakanmu, baik secara Kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Jika kamu merokok di usia sekolah dan kamu tidak memiliki penghasilan, maka kamu akan mengandalkan uang jajan dari orangtuamu. Jika orangtuamu tidak punya uang, bisa saja kamu mencuri, dan itu tindak kriminal. 

Tapi kamu juga harus tahu, rokok itu banyak jenisnya. Apakah yang kamu konsumsi rokok pabrikan atau tembakau murni yang dilinting, seperti yang dilakukan Omku? Bapak narasumber atau Bapak dan Ibu guru bisa menjelaskan pada kami banyak hal mengenai kebijakan pemerintah mengenai rokok, bea cukai dan pajaknya, eksploitasi anak dalam bisnis tembakau, politik dalam bisnis tembakau, hingga kepentingan kapitalis yang ada dalam bisnis tembakau dan rokok. Ya, itu jika Bapak Polisi atau Bapak dan Ibu guru mau dan tahu bagaimana cara menjelaskannya dengan baik kepada kami. Bukan hanya, merokok bisa bikin kamu hamil, titik!

Aku berharap Yogyakarta bisa seperti gelarnya sebagai kota pelajar dengan lingkungan yang mendukung anak-anak untuk belajar. Bukan sekadar jumlah sekolah atau Lembaga Pendidikan yang jumlahnya banyak di Yogya. Karena menurutku, anak-anak butuh lingkungan yang baik, yang benar-benar menyayangi mereka dan ingin mereka tumbuh menjadi yang terbaik. Kalau kata Omku, masa kanak-kanak harus dipenuhi dengan banyak cinta dan kasih. Ya, salah satunya cinta pada pengetahuan yang benar dan tidak membodohi kami.

Ketika salah seorang teman Bundaku bilang, ‘Selama masih Yogya, tidak perlu khawatir dengan kualitas pendidikan anak-anak,” membuatku jadi bertanya-tanya, apakah memang benar jika kualitas Pendidikan di Yogya tidak perlu diragukan seperti gelarnya sebagai kota pelajar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: