Bukankah Setiap Perempuan Berhak Disebut Pahlawan?

Apa yang ada dalam pikiranmu ketika mendengar frasa ‘pahlawan perempuan’? Mungkin di kepalamu akan terlintas nama-nama seperti, R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Rasuna Said, Fatmawati, hingga Martha Cristina Tiyahahu. Tentu saja apa yang kamu pikirkan tidak salah, karena memang mereka Pahlawan Nasional yang sudah diakui negara. Tapi dalam tulisanku kali ini, aku ingin mengajakmu untuk lebih peka dan memperhatikan sekitarmu. Apakah di dekatmu ada nama-nama yang pantas untuk kamu sebut sebagai pahlawan perempuan? Bisa jadi kamu akan menyebutkan banyak sekali nama. Mungkin kamu akan menyebut ibumu, gurumu, nenekmu, atau perempuan-perempuan lain yang hanya kamu yang tahu. Aku pikir, sudah seharusnya aku, kamu, kita semua, mulai mengenalkan perempuan-perempuan yang selama ini mungkin saja diabaikan, tidak mendapat perhatian tapi punya jasa dan konstribusi bagi keluarga dan masyarakatnya. Karena menurutku, setiap perempuan berhak disebut sebagai pahlawan. Mari kita memulainya dengan lebih memperhatikan mereka, mengapresiasi apa yang mereka lakukan, dan memberikan hak mereka sebaik-baiknya. 

***

Bukan Sekadar Hafalan Nama-nama Pahlawan Nasional

Sejak Sekolah Dasar (SD), mungkin kita sudah tahu banyak nama pahlawan perempuan yang ada di Indonesia. Kita malah diminta untuk menghapal nama-nama mereka. Tetapi apakah kamu punya nama-nama lain yang ingin kamu sebut sebagai pahlawan? Atau apakah kamu punya pahlawan perempuan versi kamu sendiri? Eits, Kamu tidak perlu takut. Tidak ada yang salah jika kamu tidak menyebutkan nama-nama pahlawan Nasional perempuan yang sudah kamu hapal sejak kelas satu sekolah dasar itu. Kamu boleh menyebutkan nama lain yang memang sudah berjasa dalam hidupmu atau orang-orang di sekitarmu. 

Lagipula, seperti yang aku sampaikan sebelumnya, kali ini kita tidak akan membahas nama-nama pahlawan Nasional. Melainkan orang-orang yang ada di sekitar kita. Mungkin selama ini kita sering bertemu, berbicara, atau dibantu mereka, tapi kita tidak menyadari kehadiran mereka. Mulai hari ini, mari kita bersama-sama memberikan ruang untuk semua yang sudah mereka lakukan.

Tapi sebelumnya, tentu saja kita perlu mencari tahu terlebih dahulu definisi dan kategorisasi seseorang bisa disebut sebagai pahlawan. Nah, pertama-tama mari kita lihat dan baca definisi pahlawan yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut KBBI, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau juga pejuang yang gagah berani. Kalau kita melihat definisi pahlawan dari kamus Merriam-Webster, mereka mendefinisikannya sebagai, a person who is admired for great or brave acts or fine qualities, or a person admired for achievements and noble qualities.

 Jadi, jika kita lihat dan pikir-pikir lagi, orang-orang di sekitar kita yang memiliki keberanian untuk membela orang-orang yang benar, melakukan tindakan yang hebat, atau yang memiliki kualitas diri yang menonjol dan berguna bagi orang lain, bisa saja kita sebut sebagai pahlawan. Tidak ada yang keliru. Setiap perempuan yang ada di kehidupan sehari-hari berhak disebut sebagai pahlawan.  Kenapa aku katakan begitu? Nanti akan kita bahas. Tapi yang pasti, para perempuan adalah pahlawan bagi diri mereka sendiri, pahlawan bagi keluarga mereka, dan pahlawan bagi orang-orang yang mereka sayangi dan ada di sekitar mereka.

Apakah Ibumu Masih Belum Pantas Disebut Pahlawan?

Aku yakin kamu akan setuju jika aku katakan bahwa pahlawan perempuan yang paling berjasa bagi hidup seorang manusia adalah ibu. Tanpa ibu, kamu mungkin tidak akan bisa seperti hari ini, atau aku tidak akan duduk dan mengetik esai tentang pahlawan perempuan ini. Jika kamu mau serius mendengar cerita orang-orang, atau kamu mau membaca banyak buku, maka kamu akan tahu bahwa ibumu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu ke dunia. Apakah pengorbanan itu tidak bisa disebut sebagai tindakan seorang pahlawan? 

Bukan hanya itu, sejak kamu masih bayi dan kamu tidak tahu atau tidak bisa melakukan apa-apa, ibu selalu ada, mendampingimu. Ibu menyusuimu, menjagamu, menyayangimu, melindungimu, bahkan mengajarimu banyak hal yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Ibu tidak peduli apakah mereka sudah makan atau belum, sudah tidur atau belum, punya uang atau tidak, capek atau tidak, asal bisa memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. 

Hebatnya lagi, ibu melakukan itu semua tanpa mengharapkan apa-apa. Dia hanya ingin agar anak-anaknya tumbuh sehat dan baik, itu saja! Bahkan sebagian besar perempuan yang menjadi ibu punya beban ganda. Selain menjaga dan menyayangi anak-anaknya, mereka juga harus bekerja mencari uang, mengurus suaminya, mengurus rumah. 

Tahukah kamu jika mereka tidak pernah mengeluh? Coba saja kamu bayangkan, mereka sudah bangun pagi-pagi sekali. Mereka menyiapkan segala hal untuk suami dan anak-anak mereka. Mereka memasak, membersihkan rumah, menyetrika, bahkan juga berbelanja ke pasar. Setelah itu, mereka harus tergesa-gesa bersiap untuk berangkat bekerja mencari uang. Mungkin saja mereka belum bisa bernapas lega, atau bisa jadi mereka belum sarapan. Di tempat kerja, tumpukan tugas sudah menunggu. Bisa saja atasan mereka seorang laki-laki atau perempuan yang misoginis, atau orang-orang yang tidak peduli pada hak perempuan. Tapi ibu tetap melakukan pekerjaan mereka dengan sebaik-baiknya.

Kadang ketika sedang bekerja, mereka direpotkan oleh panggilan dari gurumu, atau orang tua murid yang anaknya kamu ganggu. Sesampainya di rumah, mereka tidak bisa langsung beristirahat. Ibu harus menyiapkan banyak hal untuk anak-anaknya. Belum lagi mereka harus menemani dan mengajari anak-anak belajar. Syukur sekali jika mereka memiliki anggota keluarga yang peduli pada semua kerepotan mereka dan mau membantu. Bagaimana jika tidak? Apakah kamu bisa membayangkan betapa repotnya menjadi seorang ibu? Dan mereka harus mengulangi semua aktivitas itu lagi dan lagi, berhari-hari, terus menerus, hingga anak-anaknya dewasa dan mandiri. Apakah Ibumu masih belum pantas kamu sebut sebagai pahlawan perempuan di hidupmu?

Perempuan-perempuan Hebat yang Sering Terabaikan

Aku ingin bercerita tentang Ibu penjual gas keliling di dekat rumahku. Namanya Bu Sutinah. Setiap hari, menggunakan sepeda ontel tuanya, Bu Sutinah berkeliling membawa tabung-tabung gas 3 kilo berwarna hijau. Tabung-tabung gas itu digantung Bu Sutinah di bagian belakang sepeda tuanya. Kadang dia hanya membawa 2 tabung. Tapi sering hingga 6 tabung. Tentu saja Bu Sutinah tidak bisa mengayuh sepedanya. Dia harus menuntun sepedanya berkeliling kampung, masuk-keluar kompleks, melewati jalan menanjak dan berbatu. 

Kadang-kadang Bu Sutinah membawa pulang tabung-tabung yang sudah kosong. Tapi tak jarang, hanya satu atau dua tabung yang terjual. Bu Sutinah tidak pernah menyerah. Setiap hari dia selalu berkeliling membawa tabung gas. Aku dan Bunda pernah bertanya, mengapa Bu Sutinah tidak di rumah saja. Jawab Bu Sutinah, dia punya cucu yang masih sekolah dan kuliah. Anak-anaknya hanya bekerja sebagai tukang bangunan serabutan. Uang mereka tidak akan cukup untuk membiaya sekolah dan kuliah cucu-cucu Bu Suitnah. Jadi, Bu Sutinah ingin membantu meringankan beban anak-anaknya dengan berjualan gas keliling. Dan tahukah kamu berapa usia Bu Sutinah? 72 tahun.  Luar biasa, bukan? Bahkan diumur yang setua itu, Bu Sutinah masih memikirkan cara untuk membantu anak-anaknya. Bukankah Bu Sutinah sudah layak kita sebut pahlawan?

Selain Bu Sutinah, aku bertemu dengan seorang perempuan hebat lainnya bernama Bu Disma. Bu Disma seorang buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Aku pertama kali bertemu Bu Disma ketika sedang praktik fotografi. Aku sempat ngobrol dan bertanya beberapa hal pada Bu Disma. 

Bu Disma menjadi buruh gendong lebih dari 26 tahun. Dia Pertama kali diajak Ibunya yang juga buruh gendong. Bu Disma punya empat orang anak yang masing bersekolah. Setiap pukul delapan pagi, Bu Disma sudah harus berada di pasar dan menunggu mobil-mobil yang membawa barang-barang keperluan pedagang di pasar. Bu Disma membantu membawakan barang-barang itu dari parkiran menuju kios. 

Bu Disma tidak memilih-milih barang yang harus dia bawa. Kadang berat, kadang ringan. Sesekali, dia harus menggendong berkarung-karung jahe. Setiap koli barang yang dibawanya, Bu Disma mendapatkan upah Rp.3000 sd. Rp.10.000,- tergantung ukuran dan berat barang. Kadang Bu Disma bisa membawa uang yang cukup ke rumah. Kadang, Bu Disma hanya membawa beberapa ribu rupiah saja.

Apalagi ketika pandemi covid-19 terjadi. Orang-orang memilih diam di rumah. Kios-kios di pasar tutup. Tidak ada yang berjualan atau berbelanja di pasar. Berbulan-bulan Bu Disma kesulitan mendapatkan uang. Tapi Bu Disma tetap ke pasar. Katanya, mungkin saja ada rejeki untuknya dan untuk anak-anaknya. Jika tidak mendapat uang, Bu Disma pulang hanya membawa nasi bungkus sumbangan dari orang-orang baik. Apakah Bu Disma sudah layak kita sebut sebagai pahlawan?

Lain lagi cerita Bu Suni, seorang penjual koran di persimpangan lampu merah di salah satu jalan raya di kota Yogyakarta. Bu Suni berusia 52 tahun dan memiliki 6 orang anak. Bu Suni sudah berjualan koran di lampu merah sejak 23 tahun yang lalu. Bu Suni biasa mengambil koran-korang dari distributor dan menjualnya sepanjang hari di lampu merah. 

 Jika kamu melewati Jalan Sudirman, Kota Yogyakarta, persis di lampu merah seberang toko buku Togamas, kamu mungkin akan bertemu dengan Bu Suni. Bu Suni biasa berjualan sejak pagi hingga malam. Kadang korannya habis, tapi seringkali korannya tersisa banyak. Apalagi sekarang, ketika semua orang sudah menggunakan gawai mereka. 

Keuntungan Bu Suni dari berjualan koran tidak banyak, tidak sampai seribu rupiah per koran yang terjual. Tapi Bu Suni tidak punya keterampilan lain. Katanya, untuk mencari pekerjaan untuk dia yang sudah tua, sudah susah sekali. Apalagi Bu Suni hanya lulus sekolah dasar. Tapi Bu Suni ingin bisa membantu suaminya yang juga hanya buruh serabutan. Setidaknya, hasil penjualan koran bisa untuk uang jajan anak-anaknya ke sekolah. Kadang-kadang, anak-anak Bu Suni terlihat ikut berjualan koran, terutama sore dan malam hari. Aku mengetahuinya karena salah satu dari anak Bu Suni adalah kakak kelasku di sekolah. Apakah Bu Suni sudah layak kita sebut sebagai pahlawan?

Aku yakin, setelah membaca ini kamu akan menemukan dan menyebutkan lebih banyak lagi nama-nama yang layak dan pantas disebut sebagai pahlawan perempuan. Karena menurutku, setiap perempuan berhak disebut sebagai pahlawan. Mereka sudah berjuang dan berkorban untuk anak-anak mereka, untuk keluarga mereka, untuk orang-orang yang mereka sayangi.

Jika Setiap Perempuan Adalah Pahlawan, Mengapa Mereka Masih Diperlakukan Tidak Adil?

Sejak masih kecil, orang tua sudah menanamkan di otak anak-anak bahwa laki-laki derajat dan kedudukannya lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Kamu tidak percaya? Coba kamu lihat buku pelajaranmu, berapa banyak gambar atau teks yang menceritakan tentang Ayah sedang membaca koran, Ibu memasak atau membersihkan rumah, anak laki-laki bermain mobil-mobilan atau bermain gawai, dan anak perempuan membantu pekerjaan ibu mereka? Pengetahuan seperti itu, meski terlihat sepele tapi kamu konsumsi hampir tiap hari dan tertanam dalam ingatanmu hingga kamu dewasa. Apakah kamu menyadarinya atau sama sekali tidak peduli? Dan apakah kamu tahu betapa berbahayanya itu?

Itu tidak hanya terjadi di sekolah, bahkan sejak dari dalam rumah kamu sudah diajarkan bahwa laki-laki adalah orang yang berkuasa, kepala keluarga, orang yang bertugas mencari uang dan menghidupi seluruh keluarga. Bagaimana dengan perempuan? Perempuan dibiasakan untuk mengurus pekerjaan domestik saja, seperti memasak, membersihkan rumah, berkebun. Aku tidak mengatakan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh perempuan itu tidak bernilai. Akan tetapi, sadarkah kamu jika kebiasaan itu membuat perempuan seperti tidak punya hak dan tidak punya wewenang. Mereka selalu bergantung pada laki-laki karena laki-lakilah yang mencari uang, kepala keluarga. Bukan cuma itu, semua yang dilakukan oleh perempuan seharian di rumah, dianggap tidak bekerja karena tidak menghasilkan uang. Padahal, mereka sudah melakukan semuanya sejak mereka bangun tidur hingga tidur lagi.

Sebelum aku melanjutkan tulisanku ini, aku ingin menceritakan pengalamanku beberapa waktu lalu. Aku dan teman-teman sekelas diberi tugas kelompok oleh guru. Setelah kelompok dibentuk, yang menentukan siapa yang menjadi ketua kelompoknya adalah guru, bukan anggota kelompok. Anehnya, semua ketua kelompok adalah laki-laki, mulai dari kelompok satu hingga kelompok empat. Padahal, aku punya banyak teman perempuan dan aku yakin teman-teman perempuanku juga mampu menjadi ketua kelompok. Untuk menjawab rasa penasaranku mengapa bisa terjadi seperti itu, aku pun bertanya melalui Whatsapp Group.

Sayangnya, pertanyaanku itu tidak langsung dijawab oleh guru. Aku mendapatkan jawaban dari salah satu orang tua murid yang juga ketua Paguyuban Kelas. Orang tua murid tersebut menjawab, karena praktik itu menyangkut masalah kelistrikkan maka dipilih ketua laki-laki. Alasannya, ketua kelompok perlu berbelanja peralatan praktik ke toko listrik, melakukan uji coba, dan jika terjadi kesalahan, korslet, lalu kebakaran, ketua kelompok bisa menanganinya dengan cepat. 

Tentu saja aku tidak setuju dengan pendapat itu. Jawaban yang ganjil dan tidak masuk akal. Memangnya kenapa dengan listrik dan anak perempuan? Apakah artinya anak perempuan tidak paham listrik? Apakah artinya anak perempuan tidak bisa bertanggungjawab terhadap kelompoknya? Apakah artinya anak perempuan tidak bisa melakukan apa-apa dan biarkan saja semua itu dikerjakan anak laki-laki? Bodoh sekali, bukan? Dan anehnya, tidak satupun dari teman perempuanku yang menganggap jika jawaban itu telah merendahkan mereka sebagai anak sekolah kelas enam SD. Dan itu semua disebabkan oleh hal sepele yang ditanamkan oleh orang tua, guru, atau siapa saja kepada anak-anak sejak kami kecil.

Lagipula, ketua kelompok itu bukan babu atau pembantu dari anggota kelompoknya. Bukan orang yang harus mengerjakan semua hal sementara anggota kelompoknya hanya duduk-duduk atau tertawa dan menggosip. Ketua kelompok adalah pemimpin. Tugasnya mengorganisir anggota dan pekerjaan, bukan mengerjakan semua hal. Masa perbedaan sederhana itu saja tidak tahu, sih?

Baiklah, kita Kembali lagi pada persoalan perempuan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Maksudku, kenapa perempuan selalu diperlakukan seperti makhluk kelas dua?  Faktor utamanya adalah lingkungan sosial dan budaya. Misalnya saja begini, sejak dari lingkungan keluarga sudah ditentukan bahwa warna anak perempuan adalah merah jambu (lembut) dan warna anak laki-laki adalah biru (keluasan seperti langit). Nah, kamu bisa melihat betapa berbedanya, kan? 

Tidak cuma itu. Apakah kamu ingat mainan apa yang pernah kamu punya atau dihadiahkan kepadamu ketika kamu berulangtahun? Jika kamu perempuan, pasti banyak yang akan menjawab, alat permainan memasak, menjahit, atau boneka. Dan jika kamu anak laki-laki, pasti kamu akan bilang, mobil-mobilan, pesawat tempur, helikopter, atau permainan yang terlihat keren. Apakah kamu masih belum bisa melihat perbedaannya? 

Bukan hanya masalah warna dan mainan, masalah cita-cita pun juga sama. Jika kamu perempuan, kamu lebih cocok jadi guru, perawat, koki, penari. Jika kamu laki-laki, maka kamu bisa jadi presiden, insinyur atau pekerjaan yang sepertinya terlihat jauh lebih keren ketimbang yang diberi untuk anak perempuan. 

Karena masalah ‘ini wilayah anak perempuan dan ini wilayah anak laki-laki’ tanpa disadari kita sudah ikut-ikutan mengelompokkan dan membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Nah, pembedaan itu terbawa hingga kita besar. Akibatnya, yang menurut mereka bisa dilakukan oleh laki-laki, tidak bisa dilakukan oleh perempuan. Begitu juga dengan perempuan. Parahnya lagi, itu dianggap benar. Sehingga perempuan akan selalu berada dalam posisi yang lemah, di bawah laki-laki, mahkluk kelas dua.  Padahal banyak hal yang dilakukan oleh perempuan yang juga sama baiknya dan sama kerennya dengan yang dikerjakan laki-laki. Bahkan, banyak perempuan yang juga bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki. Begitu juga sebaliknya. Contohnya, Marie Cury dan Gordon Ramsey. 

Seharusnya, perbedaan lelaki dan perempuan itu hanya biologisnya saja: perempuan bisa melahirkan, menyusui, dan menstruasi, yang tentu saja tidak akan bisa dilakukan laki-laki. Selain itu, laki-laki dan perempuan sama-sama manusia. Sama-sama ciptaan tuhan. Punya hak dan kedudukan yang sama. Tapi, ya, itu tadi. Lingkungan dan budaya membuat perempuan selalu saja berada dalam posisi inferior. 

Ketika seseorang dianggap sebagai pahlawan, maka dia layak mendapat perlakuan yang baik, yang adil. Lagipula, 0rang-orang besar akan selalu menghargai jasa pahlawan mereka. Artinya, kamu harus bisa menghargai dan menghormati ibumu, guru perempuanmu, saudara perempuanmu, atau bahkan perempuan-perempuan lainnya. Kamu tidak boleh melecehkan, menghina, atau menganggap rendah mereka hanya karena status sosial atau kondisi ekonomi mereka. 

Tapi sayangnya, yang terjadi justru sebalikannya. Akhir-akhir ini, terlalu banyak berita mengerikan mengenai betapa tidak berharganya perempuan. Tidak sedikit perempuan yang dibunuh, dianiaya, diperkosa, dilecehkan, atau direndahkan. Itu terjadi karena pandangan patriarki, misogonis, dan bibit-bibit seksis di sekitar perempuan. Sudah seharusnya kita belajar melihat dan memperlakukan perempuan sebagai manusia, dengan adil dan bermartabat, bukan orang-orang kelas dua, apalagi kelas tiga. Sebab, setiap perempuan adalah pahlawan bagi setiap orang.

#PahlawanPerempuan

#LombaHariIbuKPPPA

One response to “Bukankah Setiap Perempuan Berhak Disebut Pahlawan?”

  1. Mukami Eva Wisman Bali Avatar
    Mukami Eva Wisman Bali

    Cerdas kayak mamanya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: