Categories
Resensi Film dan Buku

Luis Sepulveda, Camar, dan Para Kucing yang Menggemaskan

Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang, sebuah novel pendek dengan judul yang super panjang karya Luis Sepulveda. Buku itu, (aku tidak akan menuliskan judulnya lagi dengan lengkap karena bisa bikin jariku keseleo) bisa dibilang tipis, hanya 89 halaman saja. Ceritanya pun menurutku cukup sederhana, tetapi sangat menyentuh. Jadi sebelum aku melanjutkan tulisanku, aku sarankan kamu untuk segera membaca buku itu. Aku yakin kamu akan menyukainya. Aku akan memberi sedikit bocoran. Tapi sedikit saja, ya?

Novel pendek itu berawal dari kisah Kengah, seekor camar betina yang begitu asiknya terbang bersama kelompok camar dan burung-burung lain. Tentu saja mereka sedang melakukan migrasi para burung. Apakah kamu tahu atau pernah mendengar cerita mengenai migrasi hewan-hewan? Jika belum, kamu harus mencari tahu karena proses migrasi itu menakjubkan sekali. Kamu bisa membacanya di ensiklopedia.

Sayangnya, Kengah yang begitu asik terbang sambil menikmati ikan segar di laut biru terperangkap sampar hitam. Awalnya aku sempat bingung, karena sampar hitam istilah yang baru buatku. Aku coba tanyakan pada bunda. Tapi bunda bilang, bagaimana jika Naya cari tahu dulu, baru kita diskusikan? Hmmm, menurutku bunda juga sedang mencari tahu soal sampar hitam itu, karena aku menemukan coretan pensil di halaman 12.

Sayangnya, setelah aku cari tahu, aku masih bingung. Maksudku begini, istilah sampar hitam yang aku temukan merupakan wabah yang menyerang daratan Eropa pada tahun 1347. Sampar hitam yang terjadi itu, dikenal juga dengan Black Death, dan menurut beritanya hampir memusnahkan manusia di Eropa. Bagaimana tidak, wabah itu membunuh hampir 60% populasi masyarakat di Eropa, mirip dengan pandemi Covid-19. Sampar hitam yang terjadi di Eropa itu disebabkan oleh bakteri yersinia pestis. Apakah kamu tahu dari mana asal bakteri itu? Bayangkan, dari kuku tikus! Ckckck, betapa joroknya mereka. Dan tikus yang membawa bakteri itu, ikut berlayar bersama kapal-kapal Eropa keliling dunia dan singgah di banyak negara, termasuk Indonesia. Akibatnya, orang-orang di pulau Jawa juga terserang sampar hitam itu di awal abad ke-20.

Anehnya, sampar hitam yang ada di buku ini tidak ada hubungannya dengan tikus, melainkan sisa minyak dari kapal-kapal tanker yang dibuang sembarangan di laut. Aku tidak tahu alasan Luis Sepulveda menggunakan istilah Black Death. Apakah karena akibatnya sama-sama mematikan, yang satu untuk manusia, yang lain untuk hewan yang hidup di laut, atau karena warnanya yang sama-sama hitam? Sayangnya Luis Sepulveda sudah meninggal dunia. Jika dia masih hidup, aku ingin mengirimkannya surat dan menanyakannya: mengapa anda menggunakan istilah sampar hitam yang membuatku bingung?

Kembali ke Kengah, akibatnya dia tidak bisa melanjutkan terbang. Badannya terperangkap cairan lengket dan bau berwarna hitam itu. Aku tidak pernah membayangkan jika tumpahan minyak di laut itu begitu mematikan. Aku hampir menangis membayangkan kesulitan yang dialami Kengah. Manusia membuat Kengah sekarat. Mungkin bukan hanya Kengah, juga semua hewan yang hidup di laut. Bisa kamu bayangkan betapa kejamnya kita?

Luis Sepulveda berhasil mendeskripsikan Kengah yang kesakitan karena minyak dengan begitu sempurna. Aku coba mengutip kalimat yang paling aku suka di bagian itu, ‘Itulah nasib yang menantinya, dan ia ingin raib dengan cepat ke dalam mulut seekor ikan besar.’ (hal. 13) Kalimat pendek itu menunjukkan, terkena minyak itu sangat menyakitkan. Bahkan Kengah ingin dimakan ikan besar saja daripada mati perlahan-lahan di tengah laut dengan badan lengket dan kaku!

Di film-film seperti di National Geographic, sering ditunjukkan burung-burung yang sekarat karena tumpahan minyak di lautan. Tetapi jujur saja, rasanya tidak semenyakitkan seperti yang dideskripsikan oleh Luis Sepulveda. Bayangkan saja, aku merinding dan hampir menangis membayangkan Kengah yang sekarat karena sampar hitam itu.

Luis Sepulveda juga mendeksripsikan dengan sangat baik saat tubuh Kengah terperangkap gumpalan hitam itu, ‘Gumpalan berlendir itu-sampar hitam demikian kawanan camar menyebutnya – membuat sayap-sayapnya lengket ke badan. Maka ia mulai menendang-nendang kaki, dengan harapan bisa berenang cepat agar terlepas dari tengah-tengah lapisan hitam itu.’ (hal.12)

Luis Sepulveda ingin bilang pada pembaca, tidak ada yang lebih buruk saat seluruh badanmu lengket dan tidak bisa digerakan sedikit pun. Bahkan saat Kengah berusaha mencari air laut yang bersih dan tidak tercemar pun, dia harus berusaha dan baru menemukannya sangat lama!

Jadi aku tidak menyalahkan Kengah ketika dia memaki manusia yang seenaknya membuang kotorannya ke laut itu. Aku juga akan mendukung Kengah. Seharusnya kita, manusia menyadari akibat membuang minyak hitam kotor itu di laut bagi seluruh makhluk laut atau burung-burung.

Bagaimana mungkin kalian bisa tega melakukan hal seburuk itu? Jika kalian bingung ke mana harus membuang kotoran hitam dan bau itu, SEBAIKNYA KALIAN TELAN SAJA!! Jangan jadikan rumah makhluk lain sebagai tempat pembuangan kalian! Apa sebenarnya yang ada di dalam kepala kalian?

Bukan hanya soal membuang sisa minyak hitam ke laut, tapi juga sampah-sampah manusia lainnya. Laut itu masih saja dianggap sebagai tempat sampah. Apalagi sekarang, sejak pandemi. Masker-masker sekali pakai mulai banyak ditemukan di laut. Pakai saja masker kain, lalu cuci, dan pakai lagi, sehingga kalian tidak perlu merusak hidup binatang lain. Tolong kurangilah membuang sampah ke laut.  Banyak sekali ikan atau makhluk laut yang mengira sampah kalian itu sebagai makanan mereka. Bukankah itu menyakitkan buat mereka?

Aku semakin sedih karena ternyata Kengah akan segera bertelur. Dia memaksakan diri untuk terbang karena tidak mau mati, dia ingin menyelamatkan telurnya. Dan cerita itu baru benar-benar dimulai ketika Kengah mendarat darurat di balkon rumah Zorbas, seekor kucing pelabuhan. Kengah memaksa Zorbas untuk berjanji tiga hal. Dan kamu tahu, janji yang ketiga adalah janji yang paling mustahil untuk bisa dilakukan oleh seekor kucing.

Buku itu juga bercerita tentang kesetiaan. Jangan kamu pikir ini tentang kesetiaan manusia. Kamu keliru. Justru Luis Sepulveda ingin menyampaikan jika hewan-hewan jauh lebih setia kawan, bisa bekerjasama, saling membantu dibandingkan manusia. Sekarang, banyak orang saling membenci, memaki, bahkan membunuh hanya karena orang lain tidak sama dengan dirinya.

Tapi Zorbas dan semua kucing pelabuhan menunjukkan bahwa hewan jauh lebih manusiawi ketimbang manusia. Bayangkan, sekelompok kucing pelabuhan menjaga dan merawat telur camar hingga dia besar. Padahal, kucing-kucing itu bisa saja menjadikan anak camar itu sebagai santapan.

Tapi Zorbas dan kucing pelabuhan lain punya prinsip, janji harus ditepati, bagaimana pun sulitnya. Lagipula, para kucing pelabuhan itu juga punya prinsip yang harus ditiru oleh manusia sekarang ini: masalah satu kucing pelabuhan, adalah masalah bagi semua. Janji satu kucing pelabuhan, adalah janji bagi semua. Seru sekali, bukan?

Aku jadi ingat cerita Om mengenai nasihat Mahatma Gandhi pada seorang laki-laki yang telah membunuh orang tua dari seorang anak kecil hanya karena mereka berbeda agama. Gandhi mengatakan pada laki-laki itu, jika dia harus merawat anak laki-laki itu seperti dia merawat anaknya sendiri. Tapi laki-laki itu tidak boleh memaksakan agama dan keyakinannya pada anak laki-laki itu. Harusnya seluruh manusia seperti itu. Maksudku bukan menyakiti atau membunuh dulu manusia lain baru berbuat baik. Tetapi menyayangi dan menghormati manusia lain tanpa dipusingkan dengan perbedaan mereka.

Jadi Zorbas, kucing yang menjadi tokoh utamanya, harus menjalankan permintaan seekor burung camar yang sekarat bernama Kengah. Padahal bisa saja dia mengabaikan permintaan itu. Apa urusan Zorbas dengan burung camar yang sekarat itu: kenal tidak, teman tidak, saudara juga tidak. Malah mereka berbeda jenis, yang satu aves yang satu mamalia. Hanya saja Zorbas dan kucing-kucing pelabuhan lainnya menghargai janji dan kesetiaan.

Tetapi sayangnya, orang-orang di dunia ini egois. Meski mereka dianugerahi akal, sayangnya mereka menggunakannya untuk keuntungan mereka sendiri. Banyak di antara mereka tidak memikirkan orang lain. Mereka hanya tahu, yang penting aku senang, aku puas, aku yang paling hebat dan berkuasa. Sungguh egois!

Tentu berbeda dengan Zorbas. Meski dia kucing pelabuhan, gemuk, dan hitam, semaksimal mungkin menepati janjinya. Ajaibnya lagi, kucing-kucing pelabuhan lain membantu dan mendukungnya dengan sepenuh hati. Mereka tidak peduli jika Zorbas kucing rumahan, sementara yang lain kucing petualang, atau kucing kutu buku, atau kucing yang sok-sokan menjadi komandan. Bagi mereka, ‘masalah satu kucing di pelabuhan ini adalah masalah semua kucing di pelabuhan ini.’ Tapi jika yang terkena masalah itu seseorang, mungkin manusia lain akan berkata: ‘itu urusanmu, bukan urusanku. Untuk apa aku repot-repot membantumu?’ Memang tidak semua, tapi sekarang banyak sekali manusia yang hanya memikirkan diri mereka sendiri.

Selain Zorbas dan Kengah, buku itu menampilkan karakter-karakter lain yang sangat menarik, sebagian besar memang para kucing, tetapi ada juga manusia. Oh ya, dia seorang penyair. Dan di buku itu Luis Sepulveda mendeskripsikan penyair sebagai sosok yang memiliki nilai seni tinggi, unik, dan lebih dekat dengan hewan dibandingkan dengan manusia. Aku tidak tahu alasan Luis Sepulveda memilih profesi penyair sebagai tokoh di bukunya. Mengapa tidak nahkoda, tukang daging, guru, atau mungkin dokter? Tapi penyair? Apakah Luis Sepulveda ingin bilang jika penyair itu aneh tetapi baik hati? Aku juga tidak tahu.

Karakter lain yang aku suka, seekor kucing kutu buku. Kucing pelabuhan mengenalnya dengan nama Profesor. Aku menyukai Profesor bukan karena dia suka membaca. Tetapi karena akhirnya Profesor itu sadar bahwa tidak semua hal, jawabannya bisa ditemukan di buku. Bahkan buku bisa menyesatkan dan membunuhmu.

Mungkin beberapa orang mengira buku adalah segala-galanya: apa-apa buku, melakukan ini harus baca buku, sedikit-sedikit harus melihat buku. Di buku itu, Luis Sepulveda justru bilang jika buku-buku yang kamu baca bukan segala-galanya. Buku itu tidak selalu bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu harus ngobrol dengan yang lain, bertanya pada kucing atau manusia lain. Kamu juga harus memperhatikan fenomena alam di sekitarmu, bukan hanya bukumu.

Aku jadi teringat film Into The Wild. Film itu bercerita tentang seorang mahasiswa Amerika yang memilih berpetualang dan hidup di alam. Dia pergi menjelajah hutan. Tragisnya, dia mati  karena buku yang dibacanya. Dia membaca penjelasan yang keliru mengenai satu jenis tanaman. Akhirnya dia terbunuh setelah memakan tanaman itu. Huff…, terlihat jelas jika buku bukanlah segala-galanya, seperti yang ingin disampaikan Luis Sepulveda.

Selain itu, juga ada tokoh kucing Secretario dan Kolonel. Mereka dua ekor kucing yang tingkahnya lucu sekali. Meskipun sebenarnya Secretario mengetahui banyak hal dan Kolonel itu sebenarnya sedikit bodoh, tapi Secretario tetap hormat pada Kolonel. Dialog mereka berdua itu lucu sekali. Aku sampai tertawa membacanya. Bisakah kamu membayangkan meongan seekor kucing dalam bahasa Itali? Apalagi ditambah tingkah konyol dua ekor kucing berandalan yang sok jago tetapi takut pada Zorbas.

Di buku itu aku juga menemukan kata-kata yang masih asing buatku. Misalnya saja, kaok, piyik, kelder, berdekus, dan beberapa kata lainnya. Tapi tidak terlalu menganggu, sih. Lalu bahasanya juga tidak terlalu kaku. Malahan gaul dan kekinian. Buku ini juga tidak sok-sokan bijak dan mengajari anak-anak tentang hal-hal baik dan buruk. Semuanya mengalir dalam narasi dan deskripsi yang seimbang tentang kucing-kucing pelabuhan dan anak camar. Ini salah satu buku yang aku suka. Aku tidak tahu, apakah buku anak lainnya yang ditulis Luis Sepulveda akan semenarik buku ini.

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s