Categories
Resensi Film dan Buku

Memoirs of A Geisha: Arthur Golden yang Keliru

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca atau mendengar kata geisha? Jika kamu sudah membaca buku Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden, atau menonton filmnya, mungkin kamu akan berpikir jika kamu tahu mengenai geisha. Tapi sayangnya, Arthur Golden bercerita tentang geisha menjelang perang dunia kedua. Jadi aku tidak menyalahkan jika kamu menganggap geisha sebagai perempuan penghibur dan penggoda laki-laki yang jago menari, menyanyi, bermain musik, mengenakan kimono mahal, dan berdandan. Awalnya aku juga berpikir begitu. Geisha itu istilah untuk perempuan cantik yang mau belajar bertahun-tahun agar bisa menggoda laki-laki dengan sekali lirikan. Bayangkan, semua keterampilan yang dipelajari sejak kecil itu tujuannya hanya satu: menarik perhatian laki-laki dan mengambil uang mereka.

Tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Aku mencari tahu banyak informasi mengenai geisha. Dan dugaanku benar, jika geisha tidak seburuk dan sekotor seperti yang kamu pikirkan. Profesi geisha menjadi buruk karena perang, karena kelaparan, karena kemiskinan, karena otak cabul para tentara Amerika ketika perang dunia kedua.

Begini, aku akan memberi tahu kamu sebuah fakta yang akan membuatmu terkejut. Apa kamu percaya jika geisha pertama itu seorang laki-laki, bukan perempuan? Ya, seperti yang aku tuliskan, ternyata laki-laki yang berprofesi sebagai geisha sudah ada di Jepang sejak tahun 1600. Sedangkan perempuan, baru menjadi geisha 150 tahun setelahnya. Menurutku, sudah pasti itu disebabkan budaya patriarki. Perempuan tidak boleh keluar rumah, bertemu dengan banyak orang, apalagi menari dan menyanyi di hadapan mereka. Itu penghinaan bagi keluarga perempuan. Karena itu hanya laki-laki yang boleh menjadi geisha.

Kamu pasti bertanya-tanya, apa saja yang dilakukan geisha laki-laki itu selama satu setengah abad? Ya, tentu saja sama: menghibur dengan mengenakan kimono cantik, berdandan, menari, menyanyi, memainkan alat musik. Tapi aku tidak tahu apakah geisha laki-laki itu berdandan seperti perempuan—rambut disanggul besar, memakai lipstik merah, membentuk bibir terlihat kecil, menggunakan bedak tebal sampai-sampai muka mereka berwarna putih, dan mengenakan kimono perempuan–atau tetap berdandan seperti laki-laki. Jika mereka berdandan seperti perempuan, betapa menyedihkannya laki-laki jepang di masa itu. Mereka menganggap jika perempuan satu-satunya makhluk yang bisa menghibur dengan baik. Tapi karena mereka membatasi gerak perempuan, laki-lakilah yang harus berlaku seperti perempuan. Mereka tidak hanya merendahkan perempuan tapi juga menipu diri mereka sendiri, dan itu berlangsung ratusan tahun. Tapi mungkin aku perlu membaca lagi tentang geisha.

Memoirs of A Geisha adalah novel pertama Artur Golden. Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang anak perempuan bernama Chiyo. Chiyo tinggal di kampung nelayan miskin dan kumuh bersama orang tua dan kakaknya. Karena terlalu miskin, ayah Chiyo terpaksa menjual kedua anak perempuannya itu. Setelah membaca banyak buku dan menonton banyak film, aku jadi tahu jika banyak juga orang tua yang tega menjual anak-anak mereka. Aku pikir mereka hanyalah orang tua yang kejam, tidak punya hati, dan tidak benar-benar menyayangi anak-anak mereka apapun alasannya. Eyang Pramoedya Ananta Toer juga menuliskannya dalam novel Gadis Pantai. Beberapa hari lalu, aku menonton film yang hampir sama, judulnya Capernaum.

Orang-orang begitu miskin, hidup mereka susah, dan melarat. Bahkan mereka harus melumuri es batu dengan gula lalu dihisap sampai habis untuk mengganjal perut mereka supaya tidak kelaparan. Orang-orang seperti ini harusnya mendapat perhatian. Orang-orang kaya harusnya bisa memberi bantuan. Jika niat mereka memang baik, anak-anak itu harusnya dipelihara, disekolahkan, diberi kebebasan. Tetapi malah mereka yang punya uang melakukan bisnis perdagangan manusia. Bahkan juga dalam novel Eyang Pram itu. Menikahi anak usia empat belas tahun itu sama artinya dengan menjadikan mereka budak, bukan membantu mereka.

Di buku Memoirs of A Geisha, Chiyo diceritakan bekerja sebagai pembantu di rumah para Geisha. Chiyo begitu terpesona melihat penampilan para geisha yang cantik dan elegan. Dia juga membayangkan menjadi seorang geisha. Ya, tentu saja awalnya itu hanya khayalan. Bagaimana mungkin seorang pembantu bisa mengikuti semua pelatihan untuk menjadi seorang geisha. Biayanya sangat mahal sekali. Tapi karena Chiyo tokoh utama dalam novel ini, tentu saja dia akhirnya menjadi seorang geisha.

Hanya saja menurutku ada hal yang keliru di dalam novel Arthur Golden ini. Begini, dari sumber-sumber yang aku baca, geisha itu tidak sama dengan perempuan penghibur. Geisha itu seniman. Sedangkan perempuan penghibur disebut oiran. Geisha dan oiran bekerja bergantian. Maksudnya, geisha menghibur tamu dengan tarian dan nyanyian mereka hingga para oiran datang.

Pandangan terhadap geisha berubah ketika terjadi perang dunia kedua.  Jadi ceritanya, Jepang kalah perang. Tentara sekutu, terutama Amerika menduduki Jepang. Akibat dari kalah perang dan bom atom, kondisi jepang berantakan. Banyak orang-orang kelaparan, terutama para perempuan. Nah, oiran yang kehilangan pekerjaannya ini lalu mulai mendatangi tenda tentara. Tentu saja para tentara itu sudah tahu rumor mengenai kecantikan dan keanggunan geisha. Oiran ini memanfaatkan itu dan mengaku jika mereka seorang geisha, padahal bukan. Akhirnya, banyak perempuan Jepang yang mengaku jika dia seorang geisha pada tentara sekutu biar mereka bisa makan, bisa dapat selimut, bisa bertahan hidup. Sejak itu, geisha dinggap sebagai perempuan penghibur.

Persoalannya, latar waktu dalam novel Memoirs of A Geisha ini terjadi sebelum perang dunia kedua hingga perang dunia kedua selesai. Dan di novel itu diceritakan jika geisha adalah perempuan penghibur, bahkan sebelum perang dunia kedua terjadi. Geisha juga harus memiliki seorang danna agar bisa bertahan hidup. Arthur Golden menceritakan geisha dengan sangat buruk dan menyimpang. Geisha adalah perempuan yang dipelihara dan disimpan oleh para penguasa, pejabat kelas atas, atau orang-orang yang punya banyak uang. Aku tidak tahu, apa maksud Arthur Golden dalam novelnya ini. Apakah dia benar-benar ingin merusak nama baik geisha? Menurutku, justru yang merusak nama geisha itu perang, kelaparan, dan para tentara Amerika itu sendiri. Dan di dalam novel itu, menurut Arthur Golden, geisha dari awal sejarahnya memang seorang perempuan penghibur yang menggoda laki-laki. Mereka simpanan para laki-laki kaya dan berkuasa.

Nah, kekeliruan lain, seharusnya semakin dewasa dan profesional seorang geisha, maka riasannya akan semakin sederhana. Justru geisha yang dirias rumit dengan rambut besar, muka putih, dan kimono berlapis-lapis adalah seorang maiko, calon geisha. Sementara geisha senior, dandanannya biasa-biasa saja. Tetapi di novel itu, seingatku (karena aku selesai membacanya sudah cukup lama) semua geisha berdandan dan berias seakan-akan mereka itu maiko.

Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dari novel ini, selain aku jadi tahu banyak hal mengenai geisha (Ingat ya, Arthur Golden keliru menceritakan geisha dalam novelnya). Arthur Golden lebih banyak menggunakan alur maju. Ya, sesekali ada flashback tentang Chiyo yang telah menjadi Sayuri. Dan Sayuri seorang perempuan yang dipenuhi keberuntungan. Aku tidak tahu, apakah itu karena dia tokoh utama, atau karena dia dideskripsikan sebagai perempuan cantik.

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s