Categories
Resensi Film dan Buku

Misteri dalam Dua Buku Karya Clarissa Goenawan

Naya menyukai novel-novel misteri seperti, Sherlock Holmes, Murder in The Crooked House, dan judul lainnya. Beberapa waktu lalu, Naya baru selesai membaca dua novel misteri: Rainbirds dan The Perfect World Of Miwako Sumida. Kedua novel itu ditulis oleh Clarissa Goenawan. Clarissa Goenawan itu penulis asal Indonesia, lahir di Indonesia, dan  sekarang tinggal di Singapura. Dia baru menerbitkan dua novel, tetapi keduanya sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam berbagai bahasa. Clarisaa Gunawan juga sudah mendapat berbagai penghargaan, terutama untuk novel pertamanya, Rainbirds.

Awalnya Naya tidak berencana untuk membaca novel Clarissa Goenawan itu karena Bunda juga sedang membacanya. Tapi karena Naya gabut dan kebingungan mencari bahan bacaan, dan Naya lihat buku itu tergeletak di samping tempat tidur, jadi Naya ambil saja. Naya lalu buka buku itu, dan membaca sinopsis di sampul bagian belakangnya. Menarik juga! Ya sudah, Naya baca saja. Eh, tidak tahunya malah keterusan.

Buku The Perfect World of Miwako Sumida itu bercerita tentang Ryusei yang menyukai seorang gadis bernama Miwako Sumida, perempuan yang di dalam novel diceritakan menyimpan banyak sekali misteri. Tragisnya, dia ditemukan tewas bunuh diri. Dia bunuh diri karena sesuatu yang tidak bisa Naya ceritakan. Karena kalau Naya ceritakan, nanti kamu jadi tidak asik lagi membacanya.

Saat membaca buku The Perfect World of Miwako Sumida, Naya jadi teringat buku pertama Clarissa Goenawan yang berjudul Rainbirds, karena tokohnya sama-sama bernama Miwako Sumida. Sebenarnya Naya sudah pernah membaca buku itu. Sayangnya Naya agak lupa ceritanya. Karena penasaran apakah Miwako Sumida di buku pertama dan kedua adalah orang yang sama, jadi Naya membaca ulang buku Rainbirds itu.

Tetapi ternyata di buku Raindbirds, Miwako Sumida hanya karakter yang perannya kecil di dalam cerita. Buku itu lebih bercerita tentang Ren Ishida yang berusaha mencari pembunuh kakaknya. Naya kasih bocoran jika kakak Ren Ishida ditemukan tewas karena  ditikam berkali-kali menggunakan pisau. Rainbirds bercerita tentang kehidupan remaja biasa. Hidupnya membosankan sekali: pindah ke apartemen, menjadi guru bimbel, lalu pergi mencari pembunuh kakaknya. Ternyata, pelaku pembunuhan itu orang yang sudah dikenal Ren Ishida.

Naya menyukai dua novel karya Clarissa Goenawan itu. Tentu saja salah satu alasannya karena Naya menyukai cerita misteri. Selain itu, kedua buku itu ceritanya mengalir, meski menurut Naya masih jauh dari One Hundred Years of Solitude. Tapi dua buku Clarissa Goenawan memiliki banyak kejutan yang kadang tidak kita sadari sebagai pembaca.

Teman-teman yang tidak menyukai buku dengan terlalu banyak deskripsi, pasti bisa langsung menyukai dua buku Clarissa Goenawan itu, karena Clarissa Goenawan minim deskripsi dan lebih suka bernarasi di dalam buku-bukunya. Tidak seperti John Steinbeck di dalam East Of Eden. Steinbeck sangat pintar mendeskripsikan sesuatu. Misalnya saja paragraf pertama yang menceritakan tentang Salinas dengan sangat baik. Tapi Naya pikir, sekarang pembaca lebih menyukai cerita yang penuh narasi, apalagi pembaca muda. Karena menurut yang Naya baca, pembaca menganggap buku-buku yang terlalu banyak deskripsi itu membosankan dan bikin ngantuk.

Jika pertanyaan itu diajukan kepada Naya, Naya lebih suka jika sebuah buku memiliki porsi deskripsi dan narasi yang sama banyak. Jadi, Naya tidak perlu membaca terlalu banyak kisah yang kadang menurut Naya kurang menarik dan terlalu dipaksakan. Tetapi Naya juga tidak perlu membaca deskripsi yang terlalu mendetail dan bisa membuat pembaca bosan bahkan mengantuk. Semuanya harus seimbang, seperti halnya alam.

Di kedua bukunya, Clarissa Goenawan juga lebih suka menggunakan kalimat yang singkat dan sederhana. Kalau Bunda dan Om bilang, kalimat efektif. Kalimat efektif sangat membantu pembaca dibandingkan kalimat-kalimat yang panjang. Huuft, buku-buku yang seperti itu bikin Naya terpaksa membolak-balik halaman agar benar-benar paham apa yang disampaikan penulis.

Clarissa Goenawan di buku The Perfect World Of Miwako Sumida juga lebih suka menggunakan kata kerja dan kata benda dibandingkan kata sifat. Misalnya, ketika dia mendeskripsikan bau udara setelah hujan. Clarissa tidak cuma menuliskan jika ‘udaranya sejuk’, tetapi mendeskripsikannya: aroma tanah segar bercampur bunga plum (meski Naya masih tidak bisa membayangkan bunga plum itu baunya seperti apa). Contoh lainnya di kalimat awal pada prolog, Ryusei dan Chie Kembali ke Jalan Setapak. Clarissa mencoba untuk mendeskripsikan tempat dan suasana kepada pembaca, meski menurut Naya belum terlalu detil. Jika kamu tidak percaya, silahkan kamu coba bandingkan saja dengan paragraf awal buku East of Eden karya John Steinbeck, karena Naya tidak mungkin menyalin keduanya di sini. Itu terlalu membuang waktu dan membuatmu jadi malas mengecek dan membacanya. Bisa saja Naya bohong, kan?

Clarissa Goenawan juga menjadikan Jepang sebagai latar ceritanya. Sayangnya, Clarissa Goenawan mengambil Jepang di dalam ceritanya hanya seperti  nama dan tempat saja. Menurut Naya, dia kurang memunculkan budaya dan hal-hal yang sangat identik dengan Jepang. Jika nama-nama tokoh di dua bukunya diganti menjadi bukan nama khas Jepang, Naya yakin pembaca kesulitan mengenali itu sebagai Jepang. Padahal akan lebih seru jika Clarissa Goenawan lebih banyak memunculkan hal-hal yang berbau Jepang, tidak seperti stiker mainan tempelan.

Tapi apa mungkin itu terjadi karena kedua buku Clarissa Goenawan lebih banyak narasi daripada deskripsinya? Atau mungkin juga karena itu buku populer dan pembacanya remaja? Hm, Naya tidak begitu yakin. Kabarnya, Clarissa Gunawan di buku pertamanya sering disamakan dengan Haruki Murakami. Masalahnya, Naya belum membaca satu pun buku Murakami.

Selain itu, menurut Naya buku-buku Clarissa juga lebih banyak dialog. Setelah beberapa kalimat, bahkan kata, dialognya tahu-tahu sudah ada saja di hadapan matamu, tidak seperti Steinbeck. Naya terpaksa membolak-balik halaman buku untuk melihat dialog yang bersembunyi di paragraf-paragraf gemuknya. Sebenarnya membosankan juga membaca sebuah buku yang butuh bermenit-menit untuk memecahkan kesunyian di kepala pembaca lewat sebuah dialog. Tetapi menurut Naya, itu seru! Kamu tidak tahu apa yang ada di paragraf berikutnya, apakah hanya deskripsi, narasi, atau percakapan para tokoh.

Tetapi meskipun dua buku Clarissa Goenawan ada beberapa kekurangannya, buku-buku itu tetap menarik dan sebaiknya kamu baca. Ceritanya memiliki alur cerita yang susah ditebak. Jika tidak percaya, kamu baca saja sendiri. Oh ya, kamu pasti bertanya-tanya mengapa Naya selalu menulis East of Eden karya John Steinbeck. Benarkan dugaan Naya? Naya pikir, buku Steinbeck itu termasuk salah satu buku yang mendekati sempurna untuk deskripsi, narasi, dan dialog. Makanya Naya menyebut buku itu terus.

Di luar bukunya, ada hal menarik dari seorang Clarissa Goenawan: mengapa dia suka menulis cerita dengan latar belakang Jepang? Awalnya, Naya kira dia orang Jepang. Tetapi membaca namanya, Naya ragu. Itu bukan nama khas Jepang. Apalagi menurut Naya, Clarissa Goenawan lebih mirip nama orang Indonesia. Ternyata dugaan Naya benar.

Eits, buku ini ada adegan dewasanya, lho! Tetapi Naya melewatkannya, karena menurut Naya adegan-adegan seperti itu tidak terlalu penting dalam sebuah buku. Kamu pasti heran mengapa Naya sudah membaca buku yang ada adegan dewasanya. Apa Bunda atau Om Naya tidak melarang? Ya, enggaklah! Lagian buat apa juga! Naya sudah tahu dan dikenalkan Bunda dan Om pendidikan seks sejak umur Naya masih lebih kecil. Kata Bunda dan Om, agar Naya lebih berhati-hati.

Hal lain yang membuat Naya semakin penasaran setelah membaca buku Clarissa Goenawan ini, mengapa orang-orang memilih bunuh diri? Bunuh diri itu hal yang paling menyeramkan.

Kamu pasti bilang, mungkin tokohnya stress, terlalu banyak tekanan, dan bla..bla..bla…

Tetapi apakah orang yang berniat bunuh diri atau sudah bunuh diri itu pernah membayangkan wajah orang-orang yang menyayangi mereka ketika melihat mereka tergeletak mati? Orang yang melihat itu semua pasti lebih stress, atau mungkin bisa gila! Itu artinya, orang-orang yang bunuh diri adalah orang yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Entahlah, Naya juga bingung!

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s