Categories
Resensi Film dan Buku

Barfi!: Orang-orang Berkebutuhan Khusus Juga Manusia

Aku pernah bertemu seorang anak perempuan, namanya Jessika. Dia autis, tapi dia sangat jago menggambar dan hasilnya bagus. Menurutku, Jessika bermain dengan pilihan warna sehingga gambarnya terlihat sangat cerdas. Umurnya baru 14 tahun dan Jessika sudah menerbitkan buku yang ditulis dari ilustrasi yang dikerjakannya. Judul bukunya, Umbi dan Kucing-kucing Kecil.

Aku teringat Jessika ketika menonton film India berjudul, Barfi! yang berseting tahun 1970. Film itu ditulis dan disutradarai Anurag Basu. Dan anak autis di dalam film itu bernama, Jhilmil, diperankan Priyanka Chopra. Aku yakin kamu pasti tahu artis India itu.

Masyarakat suka memperlakukan anak autis semena-mena, seakan mengganggu. Mengerikannya lagi, mereka bahkan diperlakukan seperti anak yang tidak diharapkan, seperti yang dialami Jhilmil. Anak autis memang terlihat tidak memedulikan hal-hal di sekitar mereka, sering menangis, bahkan sampai histeris. Buat beberapa orang, itu menyebalkan. Apalagi anak autis sangat suka kegiatan yang mengulang, seakan mereka tidak pernah bosan melakukannya meski sampai 1000 kali. Mereka juga punya gangguan dalam berkomunikasi, tidak suka kebisingan atau suara-suara yang berisik. Emosi mereka juga sering berubah-ubah tanpa sebab.

Jika tidak memerhatikan sungguh-sungguh, anak autis memang terlihat sedikit merepotkan, kadang menyebalkan. Menurutku, itu alasan mengapa mereka sering dibuang dan dikucilkan. Hufft!

Tetapi masih banyak orang yang memperlakukan anak autis selayaknya manusia. Daju misalnya. Daju merawat dan menjaga Jhilmil dengan sangat baik. Di saat orang tua kandung Jhilmil membuangnya, seakan Jhilmil anjing yang seluruh badannya penuh luka dan koreng.

Orang-orang seperti Daju tidak hanya menjaga dan merawat anak-anak itu. Mereka juga membela dan melindungi dengan sepenuh hati. Mereka akan marah jika ada yang merendahkan atau mencela anak-anak itu. Aku berharap, orang-orang seperti Daju semakin banyak di dunia, memperlakukan anak-anak sebagai sebenar-benarnya manusia, entah mereka normal atau berkebutuhan khusus.

Memangnya anak-anak itu ingin dilahirkan dengan semua kekurangan itu? Setiap anak pasti ingin seperti anak-anak kebanyakan, anak-anak yang diinginkan orangtua mereka.  Jadi, jangan menyalahkan anak-anak jika mereka lahir tidak seperti yang diharapkan.

Lagipula, meski anak-anak itu terlihat berbeda, mereka pasti punya kelebihan. Hanya saja orang tua tidak mau repot untuk menemukan dan melihatnya. Mereka hanya tahu, anak-anak itu menyusahkan dan sebaiknya dibuang. Mereka terlalu banyak menggunakan otak mereka sehingga lupa di mana menyimpan hati mereka.

Jessika, misalnya. Dia suka menggambar, dan aku sarankan kamu untuk melihat gambar-gambar Jessika.  Masih banyak anak berkebutuhan khusus lain yang memiliki kemampuan istimewa. Bahkan ada yang jago matematika dan memecahkan kode rahasia Pentagon. Aku pernah menontonnya, tapi aku lupa judul filmnya. Film itu diangkat dari kisah nyata, seperti film Barfi!

Lagipula, menurutku anak-anak berkebutuhan khusus juga ingin melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang-orang yang katanya normal. Aku yakin mereka juga berusaha, seperti yang dilakukan Barfi dan Jhilmil. Mereka bekerja, mencari uang, memasak, belajar, bermain.

Tentu saja mereka mengalami sedikit kesulitan. Tapi apa pentingnya jika dibanding keinginan dan semangat mereka? Dan jika dipikir baik-baik, kesulitan itu bukan disebabkan keterbatasan mereka, tetapi karena orang-orang di sekitar mereka. Maksudku begini, orang-orang berkebutuhan khusus tentu juga bisa bekerja. Tapi jangan kamu meminta mereka mengerjakannya seperti kamu melakukannya. Masa Barfi kamu suruh menyanyi? Tentu saja tidak mungkin. Bodoh itu namanya!

Tapi meskipun Barfi tidak bisa mendengar dan bicara, dia justru lebih baik ketimbang orang-orang yang punya pendengaran bagus dan lancar berbicara. Barfi lebih memahami perasaan orang lain. Dia selalu berusaha membuat orang tersenyum dan tertawa karena ulah konyolnya. Dia tidak mau orang-orang bersedih dan menderita sekalipun orang-orang itu mengecewakan atau menyakiti hatinya.

Seperti Shruti yang mengecewakan Barfi. Aku tahu jika Barfi begitu menyukai Shruti. Meskipun Shruti lebih memilih untuk menikah dengan laki-laki normal, tapi Barfi tidak marah dan dendam kepada Shruti. Wajar saja Barfi sedih! Siapa yang tidak sedih ditinggal oleh orang yang disayanginya? Aku saja sedih sekali ketika Bunda atau Om pergi.

Tapi ketika Barfi bertemu lagi dengan Shruti di Kolkata, Barfi terlihat begitu senang. Bahkan dia tidak lupa menyisir rambutnya agar terlihat rapi di depan Shruti. Mungkin jika itu terjadi padamu, kamu akan berlari menjauh sekencang-kencangnya seperti melihat hantu. Aku, sih, tidak tahu. Itu urusan orang dewasa!

Kamu yang belum menonton film Barfi! pasti bingung dengan ceritaku. Jadi, film ini bercerita tentang Barfi yang tuli dan bisu. Barfi tinggal di Darjeeling, India. Hidup Barfi selalu menyenangkan dan orang-orang menyukainya karena Barfi ramah dan lucu. Barfi  jatuh cinta pada Shruti. Sayangnya Shruti sudah bertunangan dan akan menikah.

Nah, yang dialami Barfi seperti kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga lagi. Ayah Barfi sakit dan dia butuh uang untuk biaya operasi ayahnya. Barfi dan teman baiknya berpikir untuk menculik Jhilmil, anak perempuan autis, yang juga teman masa kecil Barfi. Barfi akan meminta uang tebusan pada keluarga Jhilmil yang kaya raya. Tapi keseruan justru terjadi setelah penculikan, seperti film Piku atau Finding Fanny.

Meskipun Barfi bisu tapi dia bisa berkomunikasi dengan baik pada siapa saja. Barfi tidak bicara dengan suaranya, tapi menggunakan semua anggota tubuh dan ekspresinya. Bunda bilang, nonverbal namanya. Aku jadi ingat perkataan bunda kalau aku sedang marah, dia selalu berkata, Kamu sedang kesalkan? Jangan berbohong, Naya. Bunda bisa lihat dari matamu loh! Ternyata penting mengetahui ekspresi dan gerak tubuh orang lain. Seperti Bundaku, ia tahu kapan aku berbohong. 😂

Aku juga teringat pesan ibu Shruti tentang Barfi, Kebisuan Barfi akan membuat cinta di dalam rumah tanggamu hilang, karena dia tidak akan  pernah mengatakan apa yang ingin kamu dengar. Dan dia juga tidak akan pernah mendengar apa yang sangat ingin kamu katakan. Tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Suami Shruti yang normal dan super sibuk malah jarang mengajak Shruti bicara, apalagi mendengarkan Shruti. Rumah mereka seperti gua di tengah hutan belantara, cuma ada suara jangkrik. Krik..krik…krik…krik!

Oh ya, kamu tahu Charlie Chaplin? Dia termasuk aktor sekaligus sutradara terbaik yang sangat terkenal dengan film bisunya. Charlie Chaplin merancang sekaligus memerankan film buatannya itu. Dan semua filmnya, film bisu alias tidak ada dialog. Bukankah itu menarik?

Setelah kupikir-pikir, aku menyadari jika film Barfi! sama lucunya dengan film-film Charlie Chaplin. Bahkan ada adegan yang mirip sekali di dua film itu: adegannya saat Barfi dikejar-kejar polisi. Barfi menaiki tangga yang disandarkan di dinding. Tangga itu cukup panjang, melebihi tinggi dinding. Jadi, saat Barfi melewati anak tangga yang lebih tinggi dari dinding, tangga itu akan berayun ke arah di seberangnya. Lalu datang polisi di kedua sisi, dan Barfi terjebak di antaranya, berayun-ayun di tangga. Aku tidak tahu apakah adegan yang sama persis diperbolehkan di dalam film.  

Mungkin, Anurag Basu menyukai Charlie Chaplin. Atau bisa jadi dia ingin membuat film Bollywood yang bisa diterima oleh orang-orang di seluruh dunia. Siapa, sih, yang tidak suka Chaplin? Tapi bagaimanapun tidak semua orang bisa bermain film bisu, apalagi berakting seperti Chaplin. Dan Ranbin Kapoor, pemeran Barfi, berhasil melakukannya. 

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s