Finding Fanny: Film India Rasa Portugal

Ferdie, Angie, Savio, Don Pedro, dan Rosie. Pertama kali mendengar nama-nama itu pasti yang terpikirkan oleh kalian adalah nama-nama dari Amerika Latin, Spanyol, atau Portugal. Tapi nama-nama itu bisa kalian temukan di sebuah film produksi India atau Bollywood berjudul Finding Fanny.  

Pertama menonton, aku mengira itu film dabing. Tentu saja bukan tanpa alasan aku mengatakannya. Film itu tidak seperti film Bollywood yang biasa aku tonton: musik, goyangan, arsitektur, pakaian, nama, lokasi, upacara kematian, hingga hal-hal lainnya, sama sekali tidak terlihat India. Hanya bahasanya saja, bahasa India. Dan hal yang membuatku baru percaya total jika film itu benar-benar film India, bukan film dabing, disebabkan hal sepele; saat kereta api khas India dan sebuah bajai, kendaraan identik India, melintas. Benar-benar konyol!

Di sepanjang menonton film, aku bertanya-bertanya: apa maksud pembuatan film itu? Kenapa yang menulis naskah dan sutradara mencampur aduk ini dan itu seperti seorang koki meramu makanan? Apalagi aku menemukan nama Gabo sebagai salah satu karakter di dalam film. Gabo adalah seorang laki-laki yang mati tersedak di hari pernikahannya. Dan kamu tahu apa penyebabnya? Dia tersedak lilin dari kue pernikahannya, yang dia pikir bisa dimakan. Padahal, itu lilin sungguhan. Hal konyol dan menyedihkan itu terjadi karena ibu Gabo, Rossie, terlalu irit dan tidak mau menghambur-hamburkan uang untuk pesta pernikahan.

Finding Fanny adalah film dengan setting di Goa, India. Jangan kalian pikir Goa ini seperti ‘gua Altamira’ yang berada di Spanyol. Tetapi itu nama salah satu daerah di India. Pssst, Goa adalah wilayah termiskin keempat di India. Letaknya di pesisir pantai. Andai saja Om Mahfud Ikhwan tidak memberitahuku, mungkin esai ini tidak akan hadir karena aku sibuk dengan kebingunganku.  

Aku awalnya berpikir jika setting tempat dalam film itu hanya imajinasi saja, tidak benar-benar ada. Mungkin yang menulis naskah tergila-gila pada Gabo dan karya-karyanya. Karena beberapa ide cerita dalam film itu mirip sekali dengan karya Gabo. Tapi setelah diberitahu om Mahfud, akhirnya aku tahu bahwa Goa itu daerah yang benar-benar ada, bukan Macondo.

Aku langsung membuka laptopku dan mencari tahu. Dari sumber yang aku temukan dan aku baca, kebudayaan masyarakat di Goa memang sangat dipengaruhi oleh budaya Portugis. Budaya katolik masyarakat Goa sudah berpadu antara budaya Portugis dan budaya India. Termasuk gaya arsitekturnya. Rumah-rumah dan gereja di Goa, sangat mirip dengan gaya rumah-rumah di portugis dan Amerika Latin.

Aku juga berpikir jika gereja sangat mempengaruhi kehidupan orang-orang di Goa. Gereja katolik sangat mendominasi di tempat itu. Hingga ada hal-hal yang tidak perlu dilakukan dan terlalu berlebihan. Misalnya, saat para pemeran akan berangkat untuk melakukan perjalanan. Lalu muncul seorang pastor. Kamu tahu apa yang dilakukan pastor itu? Dia tidak hanya memberkati orang-orang yang akan berangkat tapi juga mobil butut yang akan mereka kendarai. Bukankah itu berlebihan? Pastor terlihat berdoa dengan sengat serius. Tetapi bagusnya, di film itu kekonyolan pastor yang mendoakan mobil butut ditertawakan lewat adegan tangan pastor yang terjepit pintu mobil yang dibanting Savio. Awwwww! Aku antara menahan sakit dan tertawa melihat ekspresi pastor lugu itu. Oh ya, omong-omong tentang katolik, apakah kalian tahu jika katolik adalah agama terbesar ketiga di India? Dari yang aku baca, agama itu masuk ke wilayah India pada abad 16 melalui gereja Katolik Roma.

Sejarah bilang jika Portugis tiba di India pada tahun 1510, yang dipimpin oleh laksamana Alfonso de Albuquerque. Meskipun Goa bukan wilayah penting bagi Portugis, tetapi kehadiran bangsa Portugis membuat masyarakat India di Goa mengadopsi budaya portugis ke dalam budaya India, kecuali satu hal. Sistem kasta Hindu di Goa tidak berubah sama sekali. Empat kasta utama dalam sistem kasta Hindu India yaitu, Brahmana (pendeta), Ksatria (pemerintah), Waisya (pedagang), dan Sudra (petani) tetap ada. Menurutku, sistem kasta itu terlalu kaku dan mengotak-kotakan manusia. Apalagi sistem kasta bersifat abadi dan tidak bisa berubah. Tetapi di film itu, aku tidak begitu melihat sistem kasta. Hanya dominasi Rossie yang kelewatan sebagai penguasa di desa kecil itu. Apakah itu pengaruh sistem kasta?

Aku juga tidak menemukan ciri khas film-film India di film itu. Selain itu, rasa film India juga hilang saat menonton Finding Fanny, lagu dan jogetnya. Sudah jelas-jelas ditulis film produksi India, jadi aku sudah bersiap untuk bergoyang-goyang. Eh, ternyata, lagu yang muncul di sepanjang film tidak seperti yang aku bayangkan. Bahkan tidak ada joget ala India di sepanjang film. Menurut pendapatku, sangat tidak adil untuk mengganti kebiasaan menyanyi dan berjoget ala India. Karena lagu dan joget india jadi ciri khas dan salah satu yang aku suka dari film-film India. Lagu dan joget India itu seperti Ganoche di atas Cheesecake. Jika tidak ada Ganoche, cheesecake akan terlihat tidak menarik dan juga menjadi kurang enak.

Keanehan lain dari film ini adalah nama-nama tokoh yang terlalu eropa. Aku tidak menemukan nama tokoh yang asli India dalam film ini. Tapi yang membuatku sangat tidak senang dan terganggu adalah adegan vulgar seperti film barat kebanyakan. Di film-film India yang pernah aku tonton, meski mereka menari dan saling peluk, tapi aku tidak menemukan adegan vulgar. Apakah artinya kehidupan masyarakat Goa juga mengadopsi cara hidup penjajahnya itu?

Tapi meski Finding Fanny tidak seperti kebanyakan film India, film itu menurutku sangat menarik dan lucu. Aku tertawa-tawa sampai film selesai. Banyak sekali adegan konyol yang akan bikin perutmu sakit. Film itu bercerita tentang perjalanan lima orang untuk mencari kekasih masa lalu Ferdie. Perjalanan itu diawali dengan kebencian masing-masing tokoh yang berada di satu mobil butut milik pelukis egois. Bisakah kamu bayangkan bagaimana jadinya orang yang saling benci berada dalam satu mobil kecil selama berjam-jam? Tentu saja itu menjadi perjalanan yang super konyol. Mereka kaku dan kebingungan untuk mengobrol atau tertawa-tawa kecil. Sehingga penontonlah yang dibuat tertawa oleh kekonyolan mereka.

Film itu juga menunjukkan bagaimanapun besarnya kebencian atau ketidaksukaan orang-orang, saat mereka melakukan perjalanan bersama, atau tinggal bersama, kebencian itu akan hilang. Jadi menurutku, kebencian dan ketidaksukaan itu muncul karena manusia tidak saling jujur dan terbuka satu dan yang lainnya. Mereka tidak terlalu banyak bicara dan mengobrol.

Aku jadi ingat pepatah yang bilang, ‘kebahagiaan dinikmati bersama, kesusahan dihadapi bersama, hidup menjadi sempurna.’ Tokoh-tokoh di dalam film mengalami dan membuktikannya, hanya saja mereka terlambat menyadarinya. Mereka membutuhkan sebuah perjalanan konyol, kisah kehabisan bensin, dipermalukan, hingga mati tanpa diketahui keberadaannya, untuk menyadarinya.

Sebenarnya, film itu hanyalah sebuah film sederhana yang bercerita tentang orang-orang yang egois dan tidak mau jujur satu sama lain. Mereka melakukan perjalanan untuk menemani Ferdie mencari kekasih masa lalunya, Fanny. Menurutku, yang dilakukan Ferdie itu konyol dan egois. Dia menunggu berpuluh-puluh tahun untuk menyatakan cinta dan meminta wanita pujaannya itu untuk menikahinya. Tapi kasihan Ferdie. Dia datang terlambat. Kasihannya lagi, karena ketidakjujurannya, dia jadi tidak tahu jika sebenarnya Fannie sama sekali tidak menyukainya. Ferdie menghabiskan berpuluh-puluh tahun sendirian dan kesepian menanggung perasaannya.  

Film itu juga bercerita tentang pencarian cinta. Cinta harus dicari dan diungkapkan. Tapi kadang orang-orang lupa dan mengabaikan orang-orang yang ada di dekatnya. Mereka terlalu sibuk mencari cinta yang jauh. Padahal ada yang dekat, seperti Ferdie dan Rossie. Aku pikir, hanya butuh keberanian dan kejujuran saja.

Dan apakah kamu tahu karakter yang paling aku benci dalam film ini? Don Pedro si pelukis yang sok keren. Dia selalu bilang jika perempuan adalah inspirasinya, perempuan adalah segalanya. Tapi kamu tahu perempuan yang seperti apa? Perempuan yang montok dan bahenol. Don Pedro  menurutku tipe laki-laki yang merendahkan wanita lewat karya seni. Pelecehan yang dilakukan Don Pedro seakan tertutupi karena ada kata seni.  Don Pedro sangat ingin Rosie untuk menjadi model dalam lukisan konyolnya itu. Tetapi, maha karya yang disebut Don Pedro justru merendahkan dan mempermalukan Rossie sebagai perempuan. Ah, sukur saja dia mati tertembak dan tenggelam di dasar sungai tanpa ada yang tahu. Tetapi justru adegan kematian Don Pedro yang membuat aku merinding.

Meski film Finding Fanny tidak seperti film India yag aku harapkan. Tapi aku menyukainya. Filmnya sederhana tapi konyol dan bisa membuat perut dan mulutmu sakit karena tertawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s