Surat Kepada Bapak Menteri Nadiem Makarim

17 Mei 2020

Kepada Yth.
Bapak Menteri Pendidikan.

Assalammualaikum.
Selamat pagi, Pak, Selamat Hari Buku Nasional. Perkenalkan, nama saya Abinaya Ghina Jamela, dipanggil Naya. Naya berasal dari Padang, Sumatera Barat. Sekarang Naya tinggal dan bersekolah di Jogja. Naya duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.

Beberapa hari lalu, Naya mendapat informasi dari Nenek dan Datuk mengenai Lomba Menulis Surat untuk Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Datuk bersemangat sekali meminta Naya menulis surat untuk Bapak. Kata Datuk, Naya bisa menyampaikan hal-hal menarik yang Naya lakukan selama pandemi. Naya mencari pengumumannya menggunakan handphone Bunda. Setelah Naya baca, Naya memutuskan menuliskan surat ini, tapi bukan untuk ikut lomba. Naya hanya ingin menyampaikan beberapa hal saja kepada Bapak. Bolehkan, Pak?

Naya yakin, banyak sekali guru atau orang tua yang bersemangat agar anak-anak mereka ikut lomba, karena surat yang paling menarik akan mendapatkan kesempatan untuk mengobrol melalui video call dengan Bapak Menteri. Siapa yang tidak bangga bisa mengobrol dengan Bapak Menteri? Bisa-bisa, anak-anak yang menang nanti susah tidur membayangkannya. Naya pikir-pikir, seandainya tidak pandemi, mereka pasti akan diundang naik pesawat ke Jakarta dan menginap di hotel. Pasti mereka akan gembira sekali. Tapi bisa video call saja dengan Bapak Menteri, sudah pasti membanggakan. Apalagi buat orang tua dan guru-guru di sekolah.

Sebenarnya, Naya sedikit kecewa dengan hadiahnya. Mengapa hanya dua orang, Pak? Kok sedikit sekali? Bapak bisa pilih sepuluh atau dua puluh orang anak. Pasti anak-anak yang Bapak pilih akan senang sekali. Banyak sekali anak sekolah di Indonesia ini. Naya pernah membaca jika jumlah anak sekolah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saja hampir 300 ribu orang. Itu baru anak SDnya saja, Pak. Naya mengetahuinya dari disertasi Bunda. Bunda pernah meminta Naya untuk membantu mengeditnya. Apalagi anak-anak seluruh Indonesia? Pasti jutaan banyaknya.

Terus, kenapa nggak ada hadiah uangnya, seperti lomba-lomba yang lain? Padahal, di masa pandemi virus Corona ini, semakin banyak orang yang membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan pokok mereka. Naya membaca berita, banyak sekali orang-orang yang dipecat dan diberhentikan dari pekerjaan mereka. Para penjual keliling, dagangannya juga tidak laku karena tidak ada yang beli. Semua orang harus diam di rumah. Misalnya saja Ibu kantin di sekolah Naya atau tukang es cendol yang biasa lewat di depan rumah Naya.


Jika orang tua tidak bekerja, bagaimana mereka bisa mendapatkan uang untuk kebetuan sehari-hari anak-anaknya? Naya jadi teringat teman-teman Naya di sekolah. Beberapa teman Naya, biasanya sepulang sekolah berjualan kerupuk, bahkan hingga malam. Juga ada yang berjualan koran di lampu merah. Keluarga mereka pasti sangat membutuhkan uang, Pak. Apalagi sekarang ini. Jika hadiah dari Bapak ada uangnya, pasti teman-teman Naya bersemangat ikut lomba. Bukan hanya karena bisa ngobrol dengan Bapak, tapi hadiah uangnya mungkin bisa membantu orang tua mereka.

Bapak tidak boleh bilang, anak-anak jangan memikirkan uang. Bagaimana mereka tidak memikirkannya jika perut mereka lapar? Bagaimana mereka bisa bersekolah jika tidak punya uang untuk membeli pakaian dan sepatu sekolah? Banyak sekali anak-anak yang kesusahan. Tidak peduli mereka pintar atau bodoh, jika hidup mereka seperti itu, pasti menderita sekali. Naya cerewet sekali, ya, Pak?

Naya juga bertanya-tanya, kenapa maksimal panjang suratnya hanya satu lembar saja? Apa yang bisa ditulis dalam satu lembar kertas A4? Apakah Bapak tidak benar-benar ingin mendengarkan cerita anak-anak? Anak-anak itu kalau bercerita bisa berlembar-lembar. Buktinya saja, Naya dengan sahabat pena Naya, namanya Putri. Naya dan Putri sering berkirim surat. Bapak tahu berapa lembar surat yang kami tulis? Bisa berlembar-lembar, apalagi jika ada gambarnya. Putri suka menggambar dan gambarnya bagus.

Seharusnya, anak-anak diizinkan untuk menulis lebih banyak. Jadi, mereka bisa bercerita lebih banyak. Bapak juga jadi tahu lebih banyak. Atau Bapak cuma ingin anak-anak menceritakan yang baik-baik saja? Apa gunanya kami menulis surat buat Bapak? Katanya literasi, tapi ketika diminta menulis, hanya boleh satu halaman saja. Duuh, apakah menurut Bapak kami anak-anak yang tidak bisa menulis dan bercerita?

Naya tahu, Naya menulis surat ini dengan sia-sia. Jika Naya berbicara panjang lebar tentang ini-itu seperti ini, surat Naya tidak akan mungkin Bapak baca. Pasti surat-surat seperti ini tidak akan dibiarkan oleh semua orang di kantor Bapak, untuk Bapak baca. Masa anak-anak memprotes Menterinya? Lagian, orang-orang yang mengkritik pejabat akan dimusuhi, dan mungkin ditangkap. Naya membaca beritanya dari internet. Di negara ini, pejabat tidak boleh dikritik, hanya boleh membicarakan yang baik-baiknya saja. Apalagi sampai dikritik oleh anak-anak. Duuuh, sudah pasti memalukan!

Oh ya, omong-omong tentang pandemi virus Corona, sebenarnya Naya lebih suka belajar dari rumah. Jika belajar dari rumah, beban untuk mengerjakan tugas-tugas yang membosankan jadi lebih sedikit. Naya juga tidak dikejar-kejar waktu. Coba Bapak bayangkan, kami harus sampai di sekolah pukul setengah tujuh pagi dan baru pulang pukul tiga sore. Lalu kapan kami beristirahat dan bermain? Jika pelajaran di sekolah menyenangkan, tidak masalah. Tapi kami harus belajar banyak hal, kami harus belajar semuanya. Bahkan Naya tidak tahu apa gunanya Naya belajar tentang pecahan dan volume jika tidak diterangkan Bunda di rumah. Kami hanya diminta patuh untuk membaca buku pelajaran, menghapal rumus, mengerjakan tugas, dan mendapat nilai.

Tapi jika belajar dari rumah, Naya bisa lebih bebas. Naya belajar menggambar, Naya belajar desain, Naya belajar masak, Naya belajar membuat presentasi, Naya belajar mengurus rumah. Bahkan Naya juga masih bisa membaca buku-buku dan menulis lanjutan novel Naya. Malam hari, Naya masih punya waktu untuk menonton film kesukaan Naya dan sesekali membuat ulasannya. Menyenangkan sekali rasanya.

Oh ya, Pak, hari ini, kan Hari Buku Nasional. Naya ingin menyampaikan, tolong jangan paksa anak-anak membaca terlalu banyak buku sementara orang tua tidak suka membaca. Orang tua terlalu egois. Mereka tidak benar-benar peduli. Mereka hanya tahu membelikan anak-anak mereka buku yang banyak, memaksa anak-anak mereka membaca, lalu membanggakannya. Apa hebatnya orang tua seperti itu?

Anak-anak tidak pernah ditanya buku kesukaan mereka. Ketika anak-anak sudah membaca, mereka jarang diajak ngobrol dan berdiskusi, seakan-akan anak-anak makhluk yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Lalu buat apa kami membaca? Memangnya orang tua yakin, jika kami banyak membaca, kami akan jadi anak yang pintar? Sepertinya kami hanya menjadi anak yang cerewet dan tidak mereka sukai, seakan-akan kami itu lumut. Kasihan teman-teman Naya, Pak.

Sekian dulu surat dari Naya. Semoga Bapak tidak marah membacanya.
Wassalam

3 comments

  1. Mantap dek. Sebagai manusia yg lebih tua dari kamu ngerasa tertegun melihat semangat berkomentar dalam urusan menkritik mentri. Sehat selalu ya, salam buat ayah bunda dan semua keluarga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s