Orang-orang yang Ceroboh /10/

/10/

Oh ya, bicara mengenai peri bantal, saat pertama kali mendengar tentang cerita itu, aku seratus persen tidak percaya omongan ibuku. Aku pikir, itu sama seperti cerita tentang mahkluk kecil yang akan memberikan anak-anak koin logam bernilai 500 atau 1000 rupiah hanya karena mereka menyimpan gigi mereka yang baru copot di bawah bantal. Menurutmu, mahkluk itu baik hati atau justru menyeramkan? Bayangkan, siapa yang mau mengumpulkan semua gigi anak-anak dan menukarnya dengan koin logam? Lalu untuk apa semua gigi anak-anak itu? Hiii, aku tidak bisa membayangkan. Sepertinya rumah mereka dipenuhi oleh gigi anak-anak. Atau jangan-jangan, atap, jendela, pintu, kursi, meja, dan semua perabot mereka terbuat dari gigi anak-anak. Yeaaaksss! Jorok dan mengerikan. Itu juga jika mereka benar-benar ada.

Ibuku bilang, peri yang satu ini berbeda. Aku bilang, itu bukan peri, hanya trik yang sangat membantu. Menurut ibuku, peri bantal berhasil membangunkan siapa saja tepat seperti yang diminta. Yup, siapa saja, bukan hanya anak-anak. Ibu juga bilang, coba dulu satu atau dua kali. Jika tidak berhasil, baru boleh tidak percaya. Desakan ibu dan rasa penasaran memaksaku untuk mencobanya juga.

Akhirnya malam itu, dengan diawasi sepasang mata ibu, aku menepuk bantalku tiga kali, mengucapkan mantra, Peri Bantal, bangunkan aku jam lima, dan menepuk lagi bantalku tiga kali. Di dalam hati aku protes, itu bukan mantra. Itu sekadar permintaan tolong kepada entah siapa untuk membangunkanku lebih pagi, itu saja. Tapi Ibu bersikeras mengatakan jika itu mantra ajaib. Lagipula, mengapa harus tiga kali? Apa yang akan terjadi jika bantalku kutepuk empat, lima, atau sepuluh kali? Aneh sekali!

Aku tidak tahu apakah Peri Bantal yang diceritakan ibuku sama dengan mahkluk yang biasa mengambil gigi anak-anak lalu menukarnya dengan uang koin. Tapi yang jelas, keduanya sama-sama peri dan suka bantal. Tapi peri gigi, menurutku menyeramkan, seperti Bangkak Parau. Aku penasaran mengapa orang dewasa suka sekali menceritakan peri dengan gaya yang sama kepada anak-anak. Tidak ada peri yang unik, semua sama: berwajah cantik, bertubuh langsing, rambut yang panjang dan berkilauan, mempunyai sayap, telinga runcing, baik hati, dan kadang bercahaya. Bahkan, peri gigi yang jelas-jelas begitu menyeramkan, tetap saja terlihat cantik dan disukai anak-anak. Jika tidak, bagaimana mungkin anak-anak mau memberikan giginya kepada peri aneh itu? Huh! Ceroboh sekali mereka!

Keesokan harinya, aku dibangunkan, seperti kata ibuku, oleh peri bantal, tepat jam lima. Hm, aku tidak yakin peri bantal itu ada dan membangunkanku. Aku memang kebetulan terbangun tepat pukul lima, itu saja. Pagi ketika sarapan, aku menceritakannya pada ibu. Ibuku tertawa. Ibu bilang, mungkin kamu bisa mencobanya beberapa kali dan ibu yakin hasilnya akan sama. Aku menyendok serealku. Aku pura-pura tidak mendengarkan ibu. Tapi aku menuruti juga permintaan Ibu. Aku beberapa kali mencoba mantra ajaib peri bantal, dan tidak pernah gagal.

Ibuku memang kadang terlihat aneh. Ibu semacam punya bgitu banyak persedian cerita yang tidak masuk akal. Ibu pernah bercerita padaku tentang Panjagu Jaru. Nama itu muncul ketika ibu melihat aku sedang memotong kuku sebelum tidur. Gotos, apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin Panjagu Jaru menelan semua jarimu? teriak Ibu dari pintu kamar. Ibu bilang, aku tidak boleh menggunting kuku ketika malam, hanya pagi atau siang. Jika aku tidak menurut, Panjagu Jaru akan dengan senang hati menelan semua jari kaki dan tanganku ketika aku tidur. Kata Ibu, jari-jari manusia makanan kesukaan Panjagu Jaru, seperti aku menyukai kukis coklat.

Tapi anehnya, mengapa mereka hanya memakan jari-jari orang yang memotong kuku malam-malam? Padahal ada banyak manusia. Artinya, ada banyak jari yang bisa mereka makan. Mereka bisa gendut. Bahkan mereka bisa mati kekenyangan karena memakan semua jari manusia. Tapi jari yang kukunya dipotong malam-malam? Hm…, aku tahu, ibuku mengada-ada. Kadang aku berpikir jika ibuku makhluk dari planet lain. Barangkali mereka sedang mempelajari manusia yang ada di bumi. Apakah manusia di bumi gampang percaya pada bualan. Ya, semacam itulah. Atau mereka sekadar menyebarkan kebohongan yang tidak masuk akal ke kepala anak-anak.

Peri bantal, Bangkak Parau dan Panjagu Jaru hanya sedikit dari ratusan cerita ibu. Tapi aku tidak akan menceritakannya pada teman-temanku. Ya, sesekali aku pernah keceplosan, sih. Untungnya teman-temanku tidak memedulikannya. Lagipula, aku yakin mereka akan mengejekku, mengejek ibuku. Dan Yuka, dia mendadak jadi punya usul untuk membawa ibuku ke kantor NASA.

Semua cerita ibuku yang tidak masuk akal itu, tentu saja tidak akan bisa dibandingkan dengan cerita hantu kak Sulu. Kak Sulu tidak ada apa-apanya dibanding ibuku. Kecuali cerita tentang kak Sulu yang pernah bertemu penculik. Huuft, itu benar-benar menegangkan. Aku dengar kak Sulu mengalami berbagai hal yang akan membuatmu berteriak ketakutan. Itu tidak akan bisa kamu hindari. (AGJ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s