Orang-orang yang Ceroboh /2/

/2/

Acara mantenan pun berubah menjadi acara kesialan Ledor. Biasanya tak ada ampunan untuk anak yang ceroboh, kecuali dia sendiri yang meraung-raung minta ampun sambil menangkupkan telapak tangannya di depan ibunya, seperti seekor lalat sebelum ditepuk raket pemukul lalat. Tapi Ledor tidak menceritakan yang sebenarnya. Padahal aku terlanjur membayangkan wajah memelasnya yang banjir air mata. Katanya sih, dia cuma dikurung di lemari saja. (Eh, jangan mengira kalau lemari itu seperti dalam kisah Matilda, ya) Aku tahu Ledor sedang berbohong saat itu, dia mungkin tidak mau aku menganggap ibunya seperti Trunchbull. Oh, Ledor yang malang. Dan setiap hari selalu ada kecerobohan.

Lain lagi cerita Yuka, teman yang terlanjur dianggap paling banyak usul. Aku sendiri sering bingung apa perbedaan usul dengan menyusahkan orang lain. Apalagi ketika dia sudah mengeluarkan jurus telunjuk, dan teman-teman yang lain akan mendukungnya sambil merengek ke telingaku mirip sekumpulan anak bebek mengeluh. Kapan mereka dewasanya? Maksudku, bukan menjadi orang dewasa, tetapi harusnya bisa menyelesaikan masalah yang mereka buat sendiri. Ibuku pernah bilang begitu ketika ayah sedang labil. Tapi Yuka tidak seperti ayahku, Yuka hanya suka bergantung kepada teman yang lain. Aku pikir, Yuka bukanlah si Pemberi Usul. Ya, meski dia selalu menganggap dirinya seperti itu.

Aku masih berdiri di balik pohon mangga. Dan ibuku sedang disambar panik saat tahu aku tidak bersama mereka. Seperti biasa Ledor akan menutup-nutupi kesialannya, berdiri di belakang Yuka sambil menghalangi luka di lututnya dengan tangan, sama ketika dia berbohong padaku tentang kemarahan ibunya. Aku jadi semakin tidak tenang. Satu per satu pintu rumah tetangga diketuki ibuku. ‘Ini sudah kelewatan,’ ibu pasti berkata begini kalau sudah ngos-ngosan paniknya. Memang serba salah, sekali menghindar dari mereka malah bikin ibuku jantungan. Apa mungkin kecerobohan teman-temanku sudah menular padaku?

Pelan-pelan aku keluar dari persembunyian. Sambil melangkah pelan, aku bernyanyi ‘na na na na na na na,’ tidak jelas lagu apa yang berputar dalam kepalaku. Padahal aku sedang berpikir, oh aku terlihat bodoh sekali. Sekali-sekali aku melirik ke mereka, ibuku, Yuka, Ledor, dan teman-teman yang lain. Aku seperti seorang kesatria yang menyerah kepada sekumpulan pengacau. Hmmm, sungguh ceroboh dan sia-sia. Pertama-tama, mereka menyambutku dengan begitu riang, yang sebenarnya memusingkanku, kemudian ibu menarikku tergesa-gesa ke rumah, mirip yang dialami Ledor.

Tutturutturut! Mereka serentak menyeru sambil membuang muka kemana-mana. Tidak ada satupun yang menolongku. Dan apapun alasanku tidak akan mungkin dimengerti ibu. Hanya karena karet? Itu terlalu mengada-ada. Sama seperti temanku yang lain, Pina, nama ejekannya, saat ketahuan pipis di celana di kasur, dia mengaku karena kakaknya sering mendongengkan rumah Pak Ubon yang berhantu. (NS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s