Roald Dahl Itu Penulis Buku Anak, Tetapi Mengapa Kejam Sekali pada Matilda?

 

 Aku duduk mendengarkan tante Reda Gaudiamo bicara. Dia bercerita tentang buku anak. Penonton bertanya pada tante Reda, buku apa yang dia suka. Tante Reda bilang, Matilda, salah satunya.

Siapa yang tidak kenal Matilda. Matilda anak perempuan berusia lima tahun. Matilda tokoh utama dalam buku yang judulnya sama, Matilda. Buku itu ditulis Roald Dahl. Matilda menjadi kesukaan semua orang di dunia. Mungkin seperti Harry Potter. Bahkan, tanggal ulang tahun Matilda dirayakan oleh pembacanya. Hm, Matilda sudah seperti benar-benar nyata. Aku kagum pada Roald Dahl. Dia bisa menghidupkan tokoh dalam ceritanya dan tokoh itu disukai oleh banyak orang di seluruh dunia. Aku ingin bisa menulis seperti Roald Dahl.

Hm, tapi tunggu dulu. Aku tidak ingin benar-benar seperti Roald Dahl. Apalagi Roald Dahl yang menulis cerita Matilda. Tapi apakah kamu sudah pernah membaca buku Matilda? Sayang jika kamu belum membacanya. Aku sudah membaca buku itu beberapa kali. Ceritanya memang seru sekali.

Matilda anak yang spesial buatku, dan sepertinya spesial bagi banyak orang. Kamu pasti pernah bercita-cita, atau membayangkan menjelang tidur, jika kamu secerdas Matilda. Aku sering melakukannya. Aku membayangkan punya otak seperti Matilda. Bundaku pasti akan bangga sekali. Tapi aku sudah tidak mungkin lagi menyaingi Matilda. Aku sudah berumur sepuluh tahun. Itu dua kali lipat dari umur Matilda. Dan aku masih saja belum bisa menjumlahkan perkalian dengan angka besar seperti Matilda melakukannya. Jadi, walaupun tiba-tiba otakku menjadi secerdas Matilda, aku tetap kalah darinya. Aku sudah sangat telat. Jadi, mungkin aku lupakan saja keinginanku bisa seperti Matilda.

Matilda  tidak hanya cerdas, dia jenius. Sayangnya, keluarga Matilda hanya sekelompok orang yang benar-benar bodoh dan dungu. Di buku Roald Dahl, keluarga Matilda tidak menyukai semua kecerdasan itu. Aku pikir, mereka hanya dua orang tua yag terlalu bodoh untuk menyadari kecerdasan anaknya.

Jika aku perhatikan lagi, keluarga Matilda seperti keluarga-keluarga di Indonesia. Kalian tahukan maksudku? Mereka lebih suka menonton televisi daripada membaca buku. Bahkan mereka makan malam di depan televisi. Orang tua tidak memedulikan anak-anak mereka. Bagi mereka, lebih penting acara kesukaan mereka di televisi daripada bicara dan ngobrol dengan anak-anak. Apalagi sekarang juga sudah ada handphone. Huuft, jauh lebih mengerikan dibanding orang tua Matilda.

Aku akan tersiksa sekali jika mempunyai orangtua seperti orang tua Matilda. Aku tidak akan punya teman untuk aku ajak ngobrol dan berdiskusi. Tapi di dalam cerita Roald Dahl, Matilda anak yang bijaksana. Lebih bijak daripada aku. Bahkan lebih bijak dibandingkan orang dewasa sekalipun. Aku yakin, semua pembaca Matilda akan menyetujuinya. Kecuali orang dewasa yang terlalu sombong seperti ayah Matilda.

Roald Dahl bilang, Kecerdasan Matilda tidak ada batasnya. Tapi aku bilang, kebijaksanaan Matilda jauh lebih hebat. Roald Dahl memang berhasil menjadi penulis buku anak-anak. Dia bisa membuat cerita Matilda menjadi sangat menarik. Anak-anak pasti tidak akan mau melepaskan buku itu hingga selesai membacanya.

Tapi, adakah yang pernah berpikir jika Roald Dahl kelewat kejam? Ya, dia terlalu kejam pada Matilda. Aku tidak yakin benar-benar ada yang menyadarinya. Kalau pun ada, mungkin mereka memilih diam saja. Mereka pasti takut memprotes Roald Dahl. Roald Dahl penulis hebat dan terkenal. Roald Dahl sudah menulis banyak buku anak. Bagaimana penulis hebat dan terkenal bisa keliru? Lagipula, orang-orang yang protes bisa saja dimusuhi oleh pembaca Roald Dahl.

Tapi jika kamu baca baik-baik sekali lagi, apakah kamu yakin Roald Dahl itu tidak kejam?Begini, Matilda itu gadis yang sangat cerdas, bahkan jenius. Bagaimana mungkin seorang jenius seperti Matilda tinggal di keluarga yang tidak peduli sama sekali seperti keluarga Wormwood? Bagaimana Matilda bisa jadi jenius seperti itu?

Aku pernah menonton acara di National Geographic. Katanya, kecerdasan itu didapat dari ayah, ibu, atau nenek moyang. Aku tidak terlalu mengerti soal gen dan kromosom. Aku pernah membacanya sekali. Itu masih terlalu rumit buatku. Nah, keluarga Wormwood itu bodohnya minta ampun. Lalu bagaimana Matilda bisa menjadi begitu cerdasnya? Ah, itu pertanyaan bodoh.

Lalu siapa yang mengajarkan Matilda membaca? Matilda tidak menonton tivi. Matilda juga tidak menonton youtube. Ibu Matilda tidak mau mengajarkan Matilda membaca. Bahkan ayah Matilda merobek-robek buku yang dibaca Matilda. Kamu mengertikan maksudku? Lalu, siapa yang mengajarkannya?

Aku pernah berkunjung ke sebuah sekolah, SD Afkaaruna.  Anak-anak di sana menggunakan bahasa Inggris di sekolah. Salah satu anak, bahasa Inggrisnya lancar dan jago sekali. Awalnya aku pikir dia bukan orang Indonesia. Tapi kepala sekolahnya bilang, anak itu waktu kecil suka sekali menonton youtube berbahasa Inggris. Itu sebabnya dia berbahasa Inggris dengan sangat bagus. Tapi bagaimana dengan Matilda?

Ketika ayah dan ibumu tahu jika kamu anak yang cerdas, bahkan kamu bisa menyelesaikan soal matematika dengan mudah, apakah mereka benar-benar masih tidak memedulikanmu? Apakah ada orang tua yang seperti itu? Aku tidak yakin. Maksudku, mereka benar-benar tidak memedulikan Matilda?

Ayah Matilda itu seorang penjual mobil. Dia sering berbuat curang dan berteman dengan penjahat. Apakah tidak lebih baik menggunakan Matilda yang jago matematika untuk membantunya? Bukankah Matilda bisa melakukan banyak hal untuknya? Bunda pernah memintaku untuk membaca tulisannya dan mengeditnya. Bunda juga pernah meminta bantuanku untuk membuat semacam laporan sederhana tentang kegiatan Sahabat Gorga. Apa yang dipikirkan oleh keluarga Wormwood? Atau Roald Dahl tidak memedulikannya seperti orang tua Matilda?

Aku pernah menulis cerita tentang kepala sekolah yang menghukum anak-anak yang tidak membawa bekal. Anak-anak dihukum menghormat pada bendera sampai istirahat siang. Menurutku, hukuman itu sudah berat sekali. Kepala sekolah itu benar-benar kejam. Karena itu Alinka harus memprotesnya. Alinka tidak boleh diam saja. Tidak ada yang boleh diperlakukan seperti itu. Tapi kamu tahu hukuman apa yang diberikan oleh Mrs. Trunchbull? Ia menarik rambut anak-anak, memutar mereka dan melemparkannya seperti tas sekolah yang jelek. Trunchbull juga mengurung anak-anak di sebuah lemari sempit yang dinding-dindingnya ditempeli paku. Anak-anak tidak bisa bergerak. Bahkan Jk. Rowling saja hanya menghukum Harry Potter dengan mengurungnya di gudang di bawah tangga, bukan di lemari yang penuh paku. Apakah menurutmu hukuman yang seperti itu biasa-biasa saja untuk anak-anak? Dan tidak ada yang memprotes Truchbull atau Roald Dahl? Keterlaluan!

Mereka bilang, Roald Dahl hanya ingin bersenang-senang. Roald Dahl hanya hiperbolis. Roald Dahl hanya menulis cerita yang menyenangkan. Tapi menurutku, itu cerita yang mengerikan. Apakah mungkin kecerdasan dan kesukaan Matilda pada buku membuat semua kekejaman itu biasa-biasa saja? Itu aneh dan ganjil sekali. Aku pernah menyampaikannya pada bundaku. Kata bunda, ya, memang sedikit menegangkan! Bunda, itu bukan menegangkan, tapi menyeramkan! Kenapa orang-orang suka membaca cerita tentang anak-anak yang menderita? Apakah anak-anak yang menderita itu lebih seru?

Dan bagian yang paling tidak aku , Roald Dahl tidak menjadikan Matilda anak yang suka menulis. Matilda hanya bisa membaca tetapi tidak menulis. Itu hal paling kejam menurutku! Bundaku bilang, otak manusia seperti gelas. Gelas diisi dengan membaca. Agar tidak tumpah, maka isinya harus dituang ke gelas lainnya. Jika tidak, isinya akan tumpah, bisa merusak.

Matilda sudah membaca semua buku di perpustakaan kota, tapi Matilda tidak melakukan apa-apa. Matilda tidak berdiskusi mengenai bacaannya dengan siapa pun. Matilda tidak menulis. Matilda tidak melukis. Matilda hanya membaca. Ya, Matilda hanya membaca. Bisa kamu bayangkan apa yang bisa terjadi pada otaknya? Itu seperti kamu terus makan makanan yang lezat tapi kamu tidak sekali pun pergi ke toilet. Percayalah, perutmu bisa sakit dan kamu akan sangat menderita.

Aku pikir, aku sudah terlalu cerewet. Aku pikir, itu pertanyaan yang tidak penting. Lagipula, Matilda kesayangan semua orang di dunia. Roald Dahl penulis hebat di dunia. Meski aku pikir, dia terlalu kelewatan pada Matilda. Dia penulis yang kejam pada Matilda. Tidak seperti tante Reda dan banyak orang, aku lebih menyukai Danny The Champion of the World ketimbang Matilda. Meski cerita Danny sedikit tidak masuk akal juga buatku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s