Steinbeck dan Cerita yang Terlalu Menyedihkan

Menurutmu, adakah manusia yang tega membunuh sahabatnya hanya karena kelewat bodoh atau sering membuat masalah? Aku selesai membaca Of Mice And Men. Buku itu ditulis oleh John Steinbeck. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. Aku kaget dan tidak menyangka bahwa ceritanya akan berakhir menyedihkan.

Steinbeck seorang penulis Amerika. Aku juga membaca buku Steinbeck yang lainnya. Di semua buku Steinbeck yang sudah aku baca, Settingnya selalu di Salinas. Aku tidak tahu kenapa Steinbeck sering menggunakan Salinas dalam buku-bukunya. Menurutku, dia bisa menggunakan daerah lain atau membuat daerah imajinasinya sendiri. Tapi Salinas? Hmm…, aku tidak tahu apakah Steinbeck suka berjalan-jalan ke kota lain. Banyak penulis lebih suka diam di kamarnya dan tidak pergi ke manapun, seperti omku. Mungkin Steinbeck punya alasan lain.

Menurutku, ini karya Steinbeck paling menyedihkan dari semua yang pernah aku baca. Jika aku diminta untuk membacanya lagi, aku tidak akan mau. Itu bisa membuatku menangis. Buku ini terlalu menyedihkan. Buku ini menceritakan persahabatan yang sangat aneh antara George Milton dan Lennie Small. Mereka memang bersahabat, tapi mereka lebih terlihat seperti saudara.

George dan Lennie sangat berbeda. Bentuk fisik maupun perilaku mereka berbeda. George lelaki bertubuh kecil dan bisa dibilang pemimpin di antara mereka berdua. George pintar, tidak seperti Lennie. Lennie berbadan besar dan bodohnya minta ampun. Sepertinya Lennie mengalami gangguan mental. Dia sedikit aneh. Dia juga kesulitan berbicara. Aku sering membayangkan, Lennie berbicara terbata-bata. Pasti susah untuk dimengerti dan bisa membuat orang kesal. Tapi, George seperti sudah terbiasa dengan Lennie yang seperti itu. Meskipun orang-orang di peternakan tidak menyukai Lennie, George selalu membela dan melindungi Lennie. Aku pikir, memang seperti itu seharusnya sahabat atau saudara.

Lennie juga punya perilaku yang sedikit aneh. Dia menyukai benda-benda yang lembut dan halus. Oh, tentu saja tidak hanya benda, tetapi juga mahkluk hidup. Lennie suka menyimpan tikus di dalam kantung bajunya. Dia mengelus-elus (Oh bukan, meremas-remas) binatang itu hingga mati. Apakah Lennie tidak jijik? Aku masih saja sulit membayangkan seseorang menyimpan seekor tikus di dalam kantung bajunya dan mengelusnya?

Bahkan Lennie pernah menyimpan tikus di kantung bajunya hingga tikus itu mati. Lennie masih menyimpannya selama berhari-hari. Lennie berusaha menyembunyikannya. Menurutnya, dia sedang merawat tikus itu. Haaaah?? Tikus mati?! Dan dia pikir dia merawatnya?! Lennie memang seorang lelaki yang sangat aneh. Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa baunya Lennie dengan tikus mati itu. Lennie beruntung punya sahabat seperti George (setidaknya, aku pikir begitu) .

Membaca cerita George dan Lennie, aku jadi teringat persahabatan Tom Sawyer dan Hulckberry Flinn. Tidak benar-benar sama, sih! Tom dan Huck melakukan petualangan di Mississipi, sementara George dan Lennie berpindah-pindah di lembah Salinas. Tapi George dan Huck aku pikir hidup dalam situasi yang sama. Mereka sama susah dan miskinnya. Jika Huck hidup di jalanan dan mencopet, George bekerja keras dari satu peternakan ke peternakan lainnya. Huck dan Lennie juga punya kebiasaan aneh, mempermainkan tikus mati. Hiiii, aku sedikit mual membayangkannya.

George punya cita-cita. Ia ingin memiliki peternakan sendiri. George mengatakan pada Lennie, jika mereka sudah memiliki perternakan, Lennie boleh memelihara kelinci. Lennie senang mendengarnya. Dia ingin sekali punya kelinci. Tentu saja dia suka kelinci. Bukankah bulu kelinci itu halus dan lembut? Lennie pasti ingin sekali mengelus bulu kelinci yang halus itu.

Tapi Lennie orang yang terlalu sering membuat masalah. Lennie sering membuat keributan. Kau pembawa masalah! George pernah marah pada Lennie. Tapi, kupikir ucapan George benar. Gara-gara Lennie, mereka sering dipecat dari perkerjaan mereka. Mereka terpaksa berpindah-pindah tempat. Berpindah-pindah itu melelahkan. Aku mengalaminya. Pasti menyenangkan bisa punya rumah sendiri dan tidak perlu membereskan barang-barang. Mereka juga harus mencari pekerjaan baru dan meyakinkan bos baru mereka. Tapi memang begitu resiko menjadi orang susah.

Peternakan Weed adalah tempat kerja baru mereka. George membuat kesepakatan dengan Lennie. Lennie tidak boleh bicara sepatah kata pun pada siapapun. Semua urusan akan diselesaikan oleh George. George juga berpesan pada Lennie, ketika dia membuat masalah atau keributan, dia harus segera bersembunyi. Jika ada masalah, lari ke semak-semak. Tunggu aku sampai datang.

Tapi apakah kamu yakin Lennie mengerti dan mematuhi George? Apakah kamu yakin Lennie tidak akan membuat keributan lagi? Aku sih dari awal sudah tidak yakin dan dugaanku benar. Apalagi Lennie seorang lelaki besar yang sangat bodoh. Lennie hanya memikirkan cara untuk mengelus-ngelus sesuatu yang halus dan lembut.

Tapi Lennie juga bukan orang jahat. Bisa jadi dia hanya gemas, seperti aku yang gemas pada Squishy-ku. Aku hampir meremasnya setiap saat. Bukan setiap saat, hanya hampir. Lennie sering kali tidak menyadari jika dia telah menyakiti mahkluk lain. Menurutku, orang-orang seperti Lennie tidak boleh dibiarkan sendirian dan berkeliaran. Mereka harus ditemani.

Ketika sadar jika dia sudah bertindak jahat, Lannie akan merasa sangat bersalah. Dia akan menjadi sangat ketakutan. Lennie takut, George tidak akan mengijinkannya memelihara kelinci. Tapi aku pikir yang Lennie lakukan jauh lebih baik. Orang-orang yang sudah melakukan kesalahan dan tahu bahwa mereka salah, mereka malah masa bodoh saja. Mereka bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Novel ini adalah novel paling sedih yang pernah aku baca. Tapi di novel ini, John Steinbeck mendeskripsikan tempat dengan sangat jelas dan lengkap. Aku bisa membayangkan sedang berada di lembah Salinas. Membaca deskripsi Steinbeck, aku teringat Name of The Rose karya Umberto Eco. Tapi jujur saja, aku belum menemukan tandingan Umberto Eco. Menurutku, deskripsi Eco tetap yang paling lengkap.

Aku berpikir, kenapa John Steinbeck begitu jahat pada Lennie? Steinbeck menutup ceritanya dengan Jedak! Mana mungkin ada orang yang tega membunuh orang seperti Lennie? Menurutmu apakah Lennie orang yang bersalah? Lennie hanya laki-laki bodoh yang ingin meremas atau gemas pada benda-benda lembut! Atau mungkin Steinbeck ingin menujukkan pada pembacanya, seperti itulah manusia. Manusia bisa melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya. Aku sangat yakin. kalian bisa menangis saat membaca buku itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s