Categories
Prosa

LIBURAN KE LUAR KOTA

Hari Mingggu bukanlah hari yang baik buatku. Semuanya membosankan. Tapi untung saja sekarang sudah jam enam lewat sepuluh. Makan malam belum siap. Papa masih saja belum pulang. Seharusnya papa sudah pulang enam jam yang lalu. Kenapa enam jam yang lalu? Ya, karena sekarang hari libur! Tidak ada jadwal orang kantoran di hari minggu. Tapi papa selalu janji bertemu teman-teman di hari minggu.

Hari ini ibu memasak cumi balado, gulai telur dan tumis Pokcay. Aku membantu ibu memasak, sementara kakak di sekolah. Setiap hari Mingu kelas Tingkat Tertinggi melakukan kegiatan Pramuka. Kakak di sekolah dari jam tiga sampai jam setengah tujuh malam. Aku membantu memotong cumi, memotong kentang, mengupas kulit telur, mengiris cabe, memeras kelapa, dan menumis sayur. Aku suka bagian ketika mama menggoreng cabe yang sudah dihaluskan. Aku tinggal membantu menuang cumi dan mengaduk-aduknya agar masakan tidak gosong, dan jadi. Tapi sekarang masih di tahap menggoreng kentang. Aku kesal; minyak dari wajan penggorengan meloncat ke daguku. Mama tertawa.

Sudah jam enam lewat  lima belas. Tiba-tiba, ding-dong… Kakak pulang, lebih cepat dari biasanya. Biasanya ia tiba di rumah pukul tujuh pas. Beberapa lama kemudian, makanan sudah siap. Papa masih belum pulang. Kami makan malam bertiga. Mama bertanya hal-hal yang kami lakukan hari ini. Mama suka mendengar cerita aku dan kakak.

Pukul Sembilan, aku harus tidur. Aku ke kamar mandi, menggosok gigi, mencuci kaki. Aku pamit pada mama untuk tidur. Mama mengantar ke kamar. Mama memeluk dan menciumku. Kami berdoa bersama. Mama mematikan lampu, merapatkan pintu kamar. Aku sebenarnya tidak suka. Tapi kata mama, tidur dengan cahaya gelap baik untuk otak. Aku tidak boleh membantah.

***

 

Sampai di sekolah, tidak ada satu pun murid di kelas, di halaman sekolah, di kantin, atau di kamar mandi. Satpam juga tak ada. Aku merasa khawatir tapi juga senang. Aku khawatir jangan-jangan salah melihat jadwal. Apakah hari ini tidak ada pelajaran di sekolah? Tapi aku senang: Horeeeee, aku bisa bermain sepuasnya.

Tiba-tiba datang bus kuning, bus sekolahku.  Tapi tanpa anak-anak. Hanya ada supir bus yang berteriak, “Ayo naik! kamu mau ikut liburan tidak? Kita akan berjalan-jalan ke luar kota!” Aku melihat ke segala arah. Tidak ada siapa-siapa, hanya aku. Supir bus pasti berteriak padaku. Tapi aku bingung, liburan? Kenapa hanya aku? Kenapa anak-anak yang lain tidak ada? Kenapa yang mengajakku supir bus sekolah bukan papa? Aku tidak memedulikannya. Aku berlari menuju bus. Aku masuk ke dalam bus. Aku tiba-tiba terpeleset. Ada sesuatu yang licin di tangga bus. SIAL!!! Ternyata hanya mimpi! Aku kesal. Aku tidak jadi berjalan-jalan ke luar kota!

 

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s