Categories
Prosa

Perpustakaan Sekolah yang Membuatku Bersin

: untuk Nermi Silaban

Hari ini selasa. Mama sudah menyiapkan bekal. Mama kembali membuatkan bekal yang sama (ternyata kemarin mama membuatkan bekal siomay goreng, kaki naga, sosis bakar, dan burger keju. Sayang, aku lupa membawa bekalku). Papa belum pulang. Aku berpikiran untuk naik sepeda saja ke sekolah. Aku kesal. Selesai sarapan, aku pamit pada mama. Tapi mama bilang, kami berangkat bersama saja. Mama akan pergi ke sebuah pertemuan. Mama sering diundang untuk bicara ini-itu. Mama segera berganti pakaian dan berdandan. Aku makin kesal karena harus menunggu.

Kami sekeluarga selalu naik sepeda ke tempat-tempat yang jaraknya dekat. Tapi ke tempat-tempat jauh, kami naik motor. Mobil hanya digunakan papa. Papa jarang di rumah. Kami jarang naik mobil. Mama bilang, naik sepeda bikin sehat dan mengurangi polusi. Aku setuju. Aku suka mencium bau daun dan pohon-pohon ketika bersepeda ke sekolah.

“Mau naik sepeda atau naik motor?” mama bertanya padaku.

“Naik motor,” kataku. Aku tidak mau terlambat dan dihukum hormat pada bendera sampai jam istirahat. Segera aku naik ke sepeda motor dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Kami sampai di sekolah. Mama menurunkanku. Mama memeluk dan menciumku.

“Yang bener ya belajarnya! Jangan ngobrol terus.  Nanti mama jemput,” aku mengangguk-anggukkan kepala. Aku masuk ke kelas. Teman-teman perempuanku sedang berkumpul. Mereka mengobrol. Ada juga yang sedang main handphone milik temanku, namanya Sika. Aku tidak mau ikutan. Aku meletakkan tas dan kotak bekal di meja. Aku segera keluar kelas. Bermain dengan anak laki-laki lebih seru. Saat aku mau keluar, seorang teman bernama Nilia memanggil. Nilia termasuk ketua sebuah gank di kelasku. Ia ditakuti anak-anak lain.

“Hei Alinka, kamu mau enggak jadi anggota gankku? Aliana udah keluar, kami kekurangan satu anggota! Plis…” Nilia seperti memohon.

Aku berpikir dan melihat yang lain. Mereka juga menunjukkan wajah memohon.

“Kalian mau main apa?”

Engklek!” kata Nilia.

Aku suka bermain engklek. Aku berkata, ya.  Mereka bersorak.

“Ayo main! Aku yang pertama. Ingat, kalian tidak boleh protes apa pun yang aku lakukan!” Nilia mengajak anggota ganknya. Aku terkejut. Dia akan berlaku curang dan seenaknya. Lalu kami tidak boleh protes. Itu tidak adil! Jika bermain, semua tidak boleh curang. Aku tidak suka anak-anak sok berkuasa seperti Nilia. Aku tidak suka teman-teman yang diam saja dan menuruti semua perintah Nilia.

“Aku batal main dengan kalian! Aku main sama anak laki-laki saja!” kataku pada mereka.

“Gak bisa begitu!! Kamu sudah bilang iya, jadi kamu harus ikut main,” Nilia memaksaku.

“Ngapain aku main sama orang macam kamu! Belum apa-apa kamu sudah sok mengatur. Kalau mau main, harus adil!” Aku pergi meninggalkan mereka. Aku mendengar Nilia bicara sesuatu tentangku. Aku tidak memedulikannya.

 

Aku berencana ke perpustakaan. Sekolahku memiliki perpustakaan kecil dengan beberapa buku saja. Teman-temanku tidak begitu suka membaca. Mereka jarang datang ke perpustakaan. Mereka duduk-duduk sambil ngobrol dan main handphone ketika istirahat. Mereka baru masuk perpustakaan jika diperintah guru.

Pagi-pagi, di perpustakaan tidak ada orang. Aku bisa membaca dengan tenang. Mama tidak membolehkanku membawa novel ke sekolah. Kata mama, di sekolah waktu untuk bermain. Tapi teman-temanku menyebalkan. Jadi, aku membaca saja di perpustakaan, atau melakukan hal-hal lain.

Buku di perpustakaan sekolahku tidak banyak, beberapa saja. Buku-bukunya tidak terlalu seru. Sebagian buku membosankan. Beberapa saja yang menarik dan enak dibaca, seperti cerita tokoh-tokoh dunia. Tapi di perpustakaan lebih mendingan daripada mengikuti perintah Nilia.

Sesampai di perpustakaan, aku menemukan tidak ada siswa di sana. Aku hanya melihat ibu penjaga perpustakaan yang sibuk dengan handphone-nya. Ibu penjaga perpustakaan tidak banyak bicara atau mengobrol. Dia bicara itu-itu saja hingga aku bisa mengingatnya. Isi buku tamu, sekarang jadwal kelas apa, tidak boleh berisik, buku disusun rapi lagi. Ya, semacam itulah. Dia akan cerewet sekali ketika guru lain atau mama-mama teman-temanku datang ke perpustakaan. Suara mereka sangat menganggu. Aku lebih suka jika ibu penjaga perpustakaan bermain handphone saja.

Aku pernah mengajak ibu penjaga perpustakaan mengobrol. Aku cerita tentang buku yang pernah aku baca. Ibu penjaga hanya bilang, “Hm…..” Aku terus bercerita. Dia tidak tertarik mendengarkanku. Aku menanyakan buku dan penulis kesukaannya. Ibu penjaga perpustakaan menyebutkan sebuah nama yang aku tidak kenal. Aku berpikir keras. Mungkin aku lupa. Tapi tidak ada. Aku rasa, ibu penjaga perpustakaan membual. Dia menyebutkan nama asal-asalan. Aku bilang pada ibu penjaga, aku tidak kenal. Dia menjawab, “O……” Kenapa ibu penjaga perpustakaan tidak memberitahuku? Aku ingin dia bercerita. Mungkin dia pernah melihatnya sekilas ketika menyusun buku di perpustakaan. Mungkin juga dia memang mengarang nama itu.

 

Aku pernah membual (sebenarnya beberapa kali). Aku dan mama sedang bersepeda agak jauh. Aku melihat sebuah pohon yang berbeda. Aku bilang pada mama, itu pohon Jelantang. Mama tidak percaya. Aku teringat ensiklopedia di rumah. Aku katakan pada mama, aku pernah membacanya di ensiklopedia. Aku bercerita pada mama ciri-ciri pohon itu. Aku mengarangnya. Aku tidak pernah membaca pohon Jelantang di ensiklopedia. Aku tiba-tiba ingin mengerjai mamaku (aku sering melakukannya) Mama mengangguk-angguk. Aku senang mama mempercayaiku bualanku (Aku berhasil, Yess!!!).

 

“Maaf nak, sekarang bukan jadwal Tingkat Pemula,” kata ibu penjaga perpustakaan.

Anak-anak dilarang masuk ke perpustakaan jika bukan jadwalnya. Aku menceritakannya pada mama. Anak Tingkat Pemula hanya boleh berkunjung satu kali dalam seminggu. Anak Tingkat Pemula tidak boleh meminjam buku. Itu hal bodoh.

“karena tidak semua anak Tingkat Pemula bisa membaca,” jawab mama.

“tapi seharusnya kami boleh masuk ke perpustakaan!”

“kalian bikin rebut gak di perpustakaan?” kata mama.

“memangnya ada teman-teman yang mau ke perpustakaan?”

Teman-temanku tidak suka ke perpustakaan. Aku rasa mereka juga tidak suka baca. Kenapa ya mereka tidak suka? Ugh, dasar anak jaman sekarang!

 

Aku pura-pura tidak mendengarkan ibu penjaga perpustakaan. Aku mendekati meja, menelengkan kepalaku dan menulis buku tamu. Mata ibu penjaga perpustakaan melotot melihatku. Aku tidak peduli. Aku berjalan menuju rak buku.

Mamaku pernah cerita, di perpustakaan buku disusun tidak asal-asalan. Aku mencari buku tidak akan sulit. Tapi buku di perpustakaan sekolahku agak tidak beraturan. Buku diletakkan sembarangan di rak. Anak-anak jika ke perpustakaan suka mengacak-acak. Mereka juga meletakkan buku asal-asalan. Aku kesulitan mencari buku di perpustakaan. Butuh waktu hingga beberapa menit atau sekitar 10 menit.  Ibu penjaga perpustakaan masih melotot melihatku. Aku mau membaca buku tentang sejarah Mesir. Tapi aku tidak menemukannya. Harusnya ada di rak sebelah kiri.

“Bu, apakah ada buku tentang sejarah Mesir?” Mata ibu penjaga perpustakaan terbelalak dengan mulut terganga.

Kata mama, jika tidak menemukan buku di rak, kita bisa melihatnya di komputer. Kita tinggal menuliskan judul atau nama penulisnya. Aku suka melakukannya ketika di toko buku. Seru sekali membaca judul-judul buku atau nama-nama penulisnya. Perpustakaan sekolahku tidak punya komputer. Aku harus bertanya pada ibu penjaga perpustakaan.

“Lihat saja di sana, nak!”

“Tidak ada, Bu. Sudah aku cari…,” aku memeriksa lagi di rak.

“Berarti bukunya tidak ada!”

“Tapi…,” bel berbunyi.

Minggu lalu aku melihat buku itu di rak. Aku mau membacanya.

 

Seharusnya anak-anak diberi waktu istirahat satu jam. Aku bisa membaca buku dengan santai, tidak buru-buru. Tapi istirahat di sekolahku sebentar sekali. Aku tidak punya banyak waktu di perpustakaan. Sekitar sepuluh atau lima belas menit saja. Apalagi jika temanku Bose mengajak main gobak sodor.

“kemarin ada di situ, Bu..” aku menunjuk ke arah rak.

“Ya kalau ada disitu ya ada disitu. Masa kemaren ada sekarang gak ada? Ayo masuk kelasmu, bel sudah berbunyi.”

Tiba-tiba kakak kelas bernama Suinhar datang membawa buku berwarna merah bergambar piramida kuning berjudul ‘Mesir dan Fir’aun’.

“Bu, saya kembalikan bukunya,” Suinhar menyerahkan buku kepada ibu penjaga perpustakaan.

“Kamu kena denda! Seharusnya kamu kembalikannya minggu lalu!” kata ibu penjaga. Dia memeriksa buku besar di meja. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Suinhar.

Suinhar menunduk. Ibu penjaga perpustakaan bangkit dari duduknya. Buku dari Suinhar diletakkan ibu penjaga di meja pengembalian, di dekat rak buku.

 

 

Diam-diam aku mendekati meja. Mereka tidak memerhatikanku. Aku berencana untuk mengambil buku itu. Bisa saja nanti aku dihukum atau bisa juga dipenjara jika mengambil buku di perpustakaan. Tapi jika tidak, aku harus menunggu hingga Naik Tingkat biar bisa membacanya. Buku itu tidak ada di toko buku.

Aku ambil saja dan aku bawa pulang. Nanti jika sudah, aku kembalikan lagi. Aku ragu. Aku pernah mendengar cerita mama tentang orang-orang yang mencuri buku perpustakaan. Mereka tidak pernah mengembalikannya. Mama juga pernah melakukannya. Tapi aku akan mengembalikannya. Aku janji. Aku ragu. Jika ketahuan ibu penjaga sekolah, bisa gawat. Aku akan dibilang pencuri. Teman-teman akan menertawakan dan mengejekku.

Aku berpikir, dan saat mau mengambil buku itu, TEEEEET!! bel berbunyi lagi (bel di sekolahku berbunyi dua kali dan kami harus sudah masuk kelas). Aku kesal.

Jika aku mengambil buku itu sekarang, ibu penjaga perpustakaan akan melihatku berjalan membawa buku itu. Harusnya aku mengambilnya dari tadi. Aku pasti lolos karena ibu penjaga perpustakaan sedang sibuk dengan Suinhar. Ugh, aku terlalu lama berpikir.

                                                                           …

 

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

2 replies on “Perpustakaan Sekolah yang Membuatku Bersin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s