Puisi-puisi Abinaya Ghina Jamela di Harian Media Indonesia, 10 Juni 2018

DI BANGKU SEKOLAH

 

Sekolah itu tidak menarik

hanya duduk dan belajar

itu saja, tak menarik,

tak ada. Jika terus seperti itu

otak terbebani. Seperti filsuf

penyair, cerpenis, esais,

ada waktu menulis, membaca

dan bermain. Di sekolah ada

waktu istirahat, tapi belum cukup.

Anak-anak seperti orangtua yang

dipaksa belajar. Soal-soal berada

di atas kepala, berputar-putar,

membuat kami bekerja keras

memecahkannya. Anak-anak

bingung seperti seorang yang

tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Seratus berada di depan mata.

Anak-anak gembira. Mengapa?

Apakah 100 tiket menonton

di bioskop? Apakah 100 sekeranjang

permen lolipop? Apakah 100 kado

istimewa saat ulang tahun?

Atau 100 hanya pujian dari orang dewasa?

 

2017

————————————————————————————————————————————

 

PAGI DI SEKOLAH

 

Pagi cerah, bel berbunyi

anak-anak masuk lapangan.

Teman-temanku, berjalan pelan

anak-anak lain berjalan di belakang.

Aku bosan berdiri terus.

Aku bosan, bosan sekali.

Aku seperti antara manusia

dan hewan di kebun binatang.

Tapi ada beberapa

momen kusuka.

Bercerita dengan teman

atau memikirkan hal-hal

seru saat istirahat nanti.

Kami masuk ke dalam kelas

duduk menunggu guru.

Itu kesempatan untuk berisik

buat kelas nampak seperti pasar

yang ramai. Tapi saat guru datang

semua menarik suara. Keadaan sunyi

senyap seperti saat subuh.

Aku tidak suka berpura-pura begitu.

 

2017

———————————————————————————————————————————–

 

MASA KECIL DI TIMOR LESTE

 

Jauh di Timor, anak-anak

lepas dari pegangan orang tua

berlayar ke negeri asing

meninggalkan masa kecil,

halaman gembira, wajah

marah ibu, rok di lemari.

Suara tangis memenuhi Dili

ketika kapal pergi membawa mereka

melupakan orang tua, tempat tinggal,

dan semua yang dulu berada dalam ingatan.

Mereka dibawa pergi sebagai

tanda kemenangan perang.

Gadis kecil tak ingin

meninggalkan keluarga.

Ia ingin tetap bersama ibunya,

makan masakan ibu, dipeluk ibu,

dicium ibu, bermain di halaman rumah.

Tapi ia mulai lupa, seperti aku mulai lupa

teman baikku pergi dan tak bertemu lagi.

 

2017

—————————————————————————————————————————————–

 

SAAT DITINGGAL IBU

 

Ibu bicara, aku dengarkan.

Kabar sedih memenuhi kepalaku.

Ibu pergi, air mata memenuhi

pipiku, tumpah dari wadahnya.

Terdengar suara kereta bergerak

cepat seperti ular lapar. Ibu pergi,

bukan untuk bermain-main, bukan

untuk berlibur. Ibu pergi belajar.

Jika tidak lulus, ibu harus bayar

uang pada negara. Jika tidak, ibu

bisa dipenjara. Aku ingin ibu cepat

lulus dan ibu pasti lulus. Jika tak

ada ibu, aku sedih tak terhingga.

Anak-anak gembira tak ditinggal orang tua.

Jika yang kuberi ini buat ia gembira

aku akan berterimakasih sebanyaknya

seperti radio yang tak mau diam.

Jangan menangis, kata ibu.

Aku tetap menangis.

Tak tahu mengapa, aku mengkhawatirkannya.

 

2017

————————————————————————————————————————————— 

 

KATA IBU, SEKOLAH MENYENANGKAN

 

Aku sudah bilang, aku tidak ingin sekolah.

Tapi kata Ibu, sekolah menyenangkan.

Aku akan bertemu banyak teman, banyak permainan seru.

Di sana, ada bapak dan ibu guru. Mereka hebat berpetualang,

aku pasti suka. Tapi aku tidak sepakat dengannya.

Ibu berkata lagi, ada perpustakaan sekolah.

Saat aku bosan, aku boleh baca semua koleksi

di sana dan memiliki kartu seperti punya ibu.

Itu bukan mauku.

Aku ingin di rumah,

tetap bersama ibu,

menemaninya mengerjakan apa saja.

Aku katakan padanya, aku tidak mau sekolah,

tidak mau mengabaikan buku-bukuku,

tidak mau membiarkan alat lukisku,

tidak mau mainan-mainanku kesepian.

Tapi ibu bilang, aku harus sekolah.

Ibu dulu punya banyak teman sekolah,

memainkan permainan-permainan baru,

mendengar gurunya yang suka bercerita

memberi teka-teki yang tak diduga.

Sebaiknya aku sekolah, kata ibu.

Di sekolah, meski teman-teman lain

menjahili Ibu, ia tidak diam. Ia balik

membalas. Berkelahi di sekolah, itu

biasa, kata Ibu. mendapat sangsi juga biasa.

Semua itu menyenangkan.

Aku akan mempertimbangkannya, bu.

 

2018

—————————————————————————————————————————————–

 

MAHKLUK KELAS DUA

 

Menurutmu perempuan bawahan

laki-laki, makhluk kelas dua?

Namun Aspasia dan Hypatia tidak.

Kaum wanita diperlakukan

seperti budak, atau mereka

memang budak?

Seorang ayah malu

memiliki anak perempuan.

Aspasia kecil dikirim

ke pangkuan kuil Aprodhite

tapi elang emas itu terbang

tinggi menuju kota pengetahuan

bertemu Socrates dan Plato.

Hypatia membuka pintu

rumahnya jadi arena belajar.

Aspasia kupu-kupu malam

bagi kaum laki-laki.

Agama muncul, Hypatia disiksa

menggunakan batu.

Aspasia sudah pergi

jauh dari bumi.

pengetahuan mereka dibakar,

dihapus dari sejarah.

Tapi mereka

Tetap akan abadi.

 

2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s