AKU BOSAN DENGAN MENU BEKALKU

Kalian tidak akan menemukan kota ini di peta manapun. Hanya sebuah kota kecil bernama Sunopa. Tidak ada yang istimewa dari kota ini. Dan aku pun sekadar ingin menceritakan kisah yang sudah sering kalian dengar.

Namaku Alinka. Aku akan bicara jujur dalam cerita ini. Aku adalah anak nakal yang semua keinginannya harus selalu dipenuhi. Yap! Seperti itulah diriku. Aku sebenarnya punya banyaaaaaak sekali cerita menarik. Tapi kali ini, aku sedang ingin bercerita tentang menu bekalku.

Aku anak baru di sekolah. Sekolah itu sekolah terbaik di Sunopa, kata mamaku. Namanya TS, kepanjangannya Terbaik Sunopa. Kata-katanya sangat aneh. Sekolah itu sangat sederhana. Hanya ada tiga ruangan. Tiga ruangan itu digunakan pagi hari untuk kelas 1, 2, dan 3, sementara siang untuk kelas 4, 5, dan 6.

Aku masih kelas satu. Sebutan kelas satu disana Untuk Pemula. Aku tak terlalu suka dengan sebutan itu. Aku mempunyai kakak bernama Alaski. Dia sudah kelas 6, sebutan kelas enam adalah: TingkatTertinggi. Biasanya kelas Tingkat Tertinggi tugasnya membuat sebuah puisi.

Aku akan menyebutkan setiap sebutan dalam setiap kelas. kelas dua sebutannya Naik Tingkat, kelas Tiga sebutannya Jangan Menyerah, kelas empat diberi nama Dalam Perjalanan. Dan yang terakhir, kau tahu kelas berapa dan sebutannya? Hampir Sampai. Aku membencinya. Di sana aku juga tak punya teman. Semua siswa sudah punya gank, tak ada yang tidak. Jadi aku memilih untuk tidak berteman dengan siapa-siapa.

Baiklah, aku akan memulai ceritaku yang sebenarnya. Di sekolahku, setiap anak harus membawa bekal. Jika tidak, dihukum berlutut di halaman sampai jam istirahat. Ibuku selalu membawakan aku bekal yang sama persis: kepiting goreng, cumi goreng tepung dan nasi merah. Teman-temanku sering mengejekku karena bekalku selalu sama. Sementara kakakku diberi bekal yang berbeda-beda setiap hari.

Suatu hari sekolah TS akan ada Pelajaran di Luar Kelas atau kata-kata yang sering dipakai orang jaman sekarang: Study Tour. Pelajaran di Luar Kelas dilaksanakan tepat pukul 06:30 pagi. Kami diperintahkan mencatat apa yang kami lihat. Tapi aku sedang memikirkan hal lain: ini kesempatanku untuk meminta bekal yang berbeda pada mama.

Di perjalanan pulang, aku bertemu dengan temanku, Aliana. Aliana menyapaku.

“ Hai! Kamu besok ikut Pelajaran di Luar Kelas kan?”

“M… Kayaknya sih iya. Tapi lihat besok ya!”

“Bekalmu apa? Masih sama?”

“Sampai jumpa besok ya…!” Aku meninggalkan Aliana.

“Ya! Sampai jumpa besok, Alinka!” Aliana berteriak padaku.

Aku tidak tmendengar dengan pasti apa yang dikatakan Aliana. Sebenarnya bukan tidak mendengar, tapi pura-pura tidak tahu. Aku berpura-pura tidak tahu karena satu alasan: aku tidak mau ditertawakan mereka.

Sampai di rumah, aku melihat mama sedang sibuk di depan laptop. Aku langsung saja melakukan kegiatan yang sangat disukai mamaku, menyapu, mengepel, mencuci piring, dan membersihkan halaman. Ini pertama kalinya aku melakukan semua itu tanpa diminta. Aku melakukannya karena aku punya satu keinginan yang kalian sudah tahu. Mama diam saja, seperti tidak memedulikan aku. Tapi aku tahu mama melihat pekerjaanku.

Saat itu sudah pukul tujuh lewat sepuluh. Aku sudah selesai makan malam. Papa belum pulang, kakak sedang mengerjakan PR. Papa sering terlambat pulang. Kadang-kadang tidak pulang. Mamaku tidak seperti mama-mama yang ada di iklan (patriaki sekali). Perempuan harus melakukan berbagai pekerjaan dan laki-laki hanya duduk saja membaca koran atau menonton tivi.

“Ma, mama sudah belanja?” aku bertanya pada mama.

Mama menatapku dengan aneh, menurutku.

“Belum, tumben kamu tanya itu.”

“Besok hari spesial, Ma”

“Kenapa?”

“Besok sekolah ada kegiatan Pelajaran di Luar Kelas. Jadi, Mama mau tidak membuatkan aku bekal yang berbeda buat besok?”

Mama berpikir.

“Hmm…., tapi menu barunya mungkin kurang enak, tidak apa-apa?”

“Ya. Tidak apa-apa. Pokoknya berbeda. Tapi menunya apa?” tanyaku.

Mama tersenyum, “Lihat besok ya. Tapi mama nggak janji. Mama akan usahakan bikin menu baru,” aku mengangguk dan pergi ke kamarku.

Aku rebahan di kasurku, memikirkan esok apakah mama akan membuatkanku bekal yang berbeda. Jika mama bilang tidak janji, bisa jadi bekalku akan sama. Tapi mama sering memberi aku kejutan. Aku berharap besok mama membuatkan aku bekal berbeda sebagai kejutan.

Aku tiba-tiba teringat perkataan guruku tadi pagi, “Pakai baju bebas tapi rapi, ya anak-anak!”

Aku langsung duduk di kasurku, berlari (Oh, bukan berlari, tapi berjalan cepat) menuju lemari. Aku melihat baju berpergianku. Semua tersusun rapi. Aku melihat blus biru bermotif pokadot merah. Bawahannya rok berwarna sama, polos. Tapi, aku merasa pakaian ini seperti tidak cocok dengan kegiatanku. Aku melihat pilihan lain di lemari. Blus panjang berwarna hitam dengan garis putih, baju abu-abu dengan tulisan Aku Anak Cerdas! dan pasangannya celana panjang berwarna ungu, gaun panjang berwarna hijau dengan pita di pinggang. Semua seperti tidak cocok. Aku tidak mau terlihat mencolok. Aku suka pakaian sederhana saja. Ugh, aku harus minta pendapat mama. Mama punya pilihan yang kadang-kadang cocok denganku (meski seringkali pilihan mama tidak aku suka). Aku ingin pakai celana panjang yang nyaman, baju kaos pendek dengan warna tidak mencolok, dan kemeja berlengan panjang. Aku suka kemeja dengan warna sedikit cerah. Aku akhirnya memilih sendiri pakaian yang akan aku kenakan esok. Aku segera keluar dari kamar, meminta hanger dari mama, menggantung pakaianku di sana, dan menggantungkan hangernya di pegangan pintu lemariku. Aku menatap jam di meja, sudah pukul 20:45. Aku harus segera tidur.

***

Aku bangun, mandi, dan berganti pakaian. Aku bergegas menuju ruang makan. Kakak sedang membaca koran, papa terlihat sedang bermain game di handphonenya. Mama sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka (seperti iklan-iklan di koran dan di tivi, gender!) Mungkin papa sedang bermain game anak jaman sekarang: Mobile Legend. Kata papa, permainannya seru. Tapi aku anak yang tidak gampang tergoda. Aku ingat pesan mama, game di handphone tidak baik untukku. Jadi aku tidak bermain Mobile Legend atau permainan apa pun di handphone. Papaku jika sudah main handphone suka lupa waktu. Aku kesal jika sudah begitu.

“Pa, kapan kita berangkat? Aku tidak mau telat!”

Papa hanya menjawab, “Mm……,” dan tidak bergerak sedikit pun. Papa masih asik dengan permainannya. Aku kesal.

Aku menarik tasku, berlari ke luar rumah. Aku segera mengambil sepeda dan memutuskan bersepeda menuju sekolah. Menunggu papa sama artinya akan kena hukuman di sekolah dan tidak bisa mengikuti Pelajaran di Luar Kelas.

“Bekalmu pasti masih sama,” teman-teman langsung meledekku ketika aku sampai di kelas. Napasku masih ngos-ngossan karena aku ngebut. Aku tidak mau terlambat dan ketinggalan bus untuk Pelajaran di Luar Kelas.

“Oh. Tidak! Aku lupa bawa bekalku!” Aku memeriksa isi tasku. Aku memang tidak membawa bekalku. Semua gara-gara papaku. Teman-temanku tertawa. Mengapa orang-orang suka tertawa ketika melihat orang lain kesusahan. Ugh, aku kesal sekali. Aku bahkan tidak tahu tadi mama membuatkan aku bekal apa.

“ Jangan khawatir, belum tentu kepala sekolah datang!” salah seorang temanku menghiburku.

Aku sedikit lega. Aku melihat bus kuning dengan jendela segitiga di halaman. Waktunya naik bus. Aku duduk bersama anak kelas dua (aku tidak suka duduk dengan anak kelas satu, mereka suka membicarakan hal membosankan) dia adalah anak paling pintar di kelas dua sekolah TS. Aku dengar dari pembicaraan mama-mama temanku di kantin sekolah.

Dia bernama Suinhar. Aku menatap anak bernama Suinhar di sebelahku. Wajahnya serius sekali. Dia tidak tersenyum sedikit pun. Dia memakai baju bertuliskan, Aku, Keluarga dan Alam, dengan rok selutut bermotif batik. Aku masih memikirkan bekalku, kepala sekolah, dan hukuman yang akan aku terima. Jika kepala sekolah tahu, aku terancam tidak akan ikut Pelajaran di Luar Kelas. Aku akan dihukum berlutut di halaman sekolah. Saat aku menatap ke jendela, aku melihat pantulan pria tua brewok dengan kumis tebal berjalan mendekati bus. Aku berharap bus segera berjalan. Kepala sekolah melihat ke arahku. Aku tersenyum. Kepala sekolah tidak tersenyum padaku. Sepertinya dia tahu jika aku melakukan kesalahan.

“Suinhar, apa bekalmu?” aku mendengar suaranya yang serak.

“Selamat pagi, Pak,“ aku menyapa kepala sekolah.

“Apakah aku sedang bicara padamu, anak Untuk Tingkat Pemula? Kau harus melihat kelasmu sebelum bicara!” Aku tak suka dengan orang yang menilai orang dari kelasnya. Artinya, aku tidak suka pada kepala sekolahku (bukan karena aku melupakan bekalku).

“Bekalku nasi kuning dengan ayam bakar dan sayur bayam, Pak kepala sekolah,” kata Suinhar.

“Apa bekalmu, Alinka?” Kepala sekolah menatapku dengan wajah menyeramkan.

“Aku lupa bawa bekal Pak!” jawabku

“Apa?!!” Kepala sekolah melotot ke arahku. Kumisnya seperti bergoyang-goyang.

“Seharusnya kamu dihukum dan tinggal di sekolah, Alinka!” Pak kepala sekolah kesal.

Aku beruntung bus sudah mulai jalan. Kepala sekolah tidak bisa menurunkanku di jalan, itu melanggar aturan. Jadi, aku bisa ikut Pelajaran di Luar Kelas.

“Bukan salah saya, pak. Bapak yang lupa memeriksa anak-anak yang tidak bawa bekal sebelum berangkat!”

“Alinka, beraninya kamu bicara begitu pada kepala sekolah!” Bapak kepala sekolah semakin marah.

“Saya benar, Pak. Tadi saya sudah hampir terlambat. Saya buru-buru dan terpaksa naik sepeda ke sekolah. Makanya saya lupa membawa bekal saya,” aku terus bicara.

“Tapi jika sudah tahu kalau kamu salah, kamu harus berani mengakuinya!”

“Saya tidak merasa saya salah, Pak. Saya hanya lupa karena saya tergesa-gesa. Dan saya sangat ingin ikut Pelajaran di Luar Kelas makanya saya tetap naik bus,” aku terus bicara. Suinhar kebingungan melihatku. Dia pikir aku tidak akan berani melawan kepala sekolah. Aku tidak boleh diam saja.

Aku ingat papaku. Papaku selalu merasa benar. Aku pikir karena dia papaku dan karena dia orang dewasa. Tapi mamaku bilang, orang dewasa juga sering melakukan kesalahan. Hanya saja orang dewasa sering tidak pernah menganggap omongan anak-anak.

“Pak, kata mama, sekolah itu hak anak-anak. Jadi saya pikir, saya harus ikut Pelajaran di Luar Kelas. Bapak tidak boleh melarang anak-anak belajar hanya karena tidak bawa bekal. Itu kesalahan fatal, Pak!” Kepala sekolah tidak bicara apa-apa lagi. Aku tahu, jika aku sudah bilang tentang mamaku, kepala sekolah akan langsung diam.

Aku pikir bukan karena mamaku cerewet. Ya, mamaku memang cerewet. Jika ada hal yang tidak sesuai, dia akan mengomel dan marah-marah. Mamaku pernah marah pada orang tua sok kaya yang seenaknya memutar mobilnya di halaman sekolah. Mamaku juga pernah berkelahi dengan laki-laki berbedan besar di jalan raya karena laki-laki itu tidak mentaati rambu-rambu. Tapi mamaku baik pada teman-temanku meskipun teman-temanku sering nakal dan jahat padaku. Jadi, teman-temanku jadi segan pada mamaku.

Jangan tanya apa-apa soal papaku. Nanti saja aku ceritakan. Aku tak tahu ada seseorang yang sesibuk itu. Papaku tidak punya waktu untukku. Lagipula, aku juga tak tahu ada laki-laki sepenakut itu. Aku ingin seperti mamaku. Aku tidak boleh jadi penakut. Banyak anak-anak yang takut sama Kepala Sekolah. Apa hanya karena dia Kepala Sekolah hingga anak-anak harus takut? Kepala sekolah juga manusia. Masa sama manusia takut, sih? Atau jangan-jangan teman-temanku berpikiran kepala sekolah itu singa kelaparan yang akan menggigit dan memakan mereka? Ya tak mungkin lah!

Bus berhenti. Kepala sekolah segera turun dari bus. Dia tidak bicara apa-apa lagi. Dia juga tidak bertanya pada anak-anak lain tentang bekal yang mereka bawa. Anak-anak segera turun dari bus. Aku santai saja. Aku tidak mau tergesa-gesa. Aku menunggu yang lain turun. Untuk apa terburu-buru seperti penumpang pesawat yang tergesa-gesa mau turun padahal pintu pesawat belum dibuka? Jadi, saat tersisa beberapa anak saja, baru aku turun.

Aku melihat banyak sekali patung-patung besar. Sebenarnya, aku paling tidak suka disuruh mencatat. Untuk apa mencatat nama-nama patung itu jika kita tidak tahu apa-apa tentang patung itu. Aku lebih suka bepergian ke tempat ini dengan mama. Mama pasti punya cerita seru tentang patung-patung itu.

Aku membayangkan mama bercerita tentang patung pertama yang bernama Sherlock Homes Si Detektif Handal. Aku akan bertanya pada mama apa itu ‘handal’ karena aku memang tidak tahu. Tapi mama pasti akan memberitahuku bukan menyuruhku mencatatnya. Patung kedua aku rasa bernama Luciek Balyl Si Artis, patung ketiga bernama Lucia Nani Si Pelawak, (aku juga tak tahu apa itu pelawak tapi aku akan mencari tahu sendiri dan tak akan menanyakannya pada mama) patung keempat bernama Naresh Hita Si Penyanyi Baik Hati, kelima So likila Sang Seniman, keenam Sisilah Bobdi Si Ilmuwan, ketujuh Hoho Siawan Sang Astronot, kedelapan Nanci Siluha Sang Penari, kesembilan Lallo bersaudara Menjadi penyanyi handal, dan yang terakhir, bisa dibilang kesepuluh, Dodo Silado Si Penulis. Cerita mama pasti lebih panjang tentang patung kesepuluh. Mama sangat suka penulis. Aku tidak tahu apa alasannya. Dan aku selesai mencatat semua nama patung yang membosankan ini tanpa tahu apa-apa tentang mereka. Aku hanya tahu apa yang tertulis di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s