Tujuh Penyair yang Perlu Diketahui Generasi Milenial

Oleh Aziz Darma

 

Salah satu hal yang paling mencolok di era ini adalah pesatnya arus informasi. Beragam topik silih berganti menjejali linimasa media sosial yang digunakan generasi millineal, tak terkecuali tentang puisi. Ada saja akun-akun yang mengunggah puisi di media sosial, baik secara utuh maupun nukilan saja. Nama-nama seperti Aan Mansyur, Dea Anugrah, Bernard Batubara, Adimas Imanuel, atau Esha Tegar Putra sudah tak asing lagi bagi penikmat puisi di linimasa. Lantas bagaimana dengan tujuh nama penyair berikut ini?


1. Chairil Anwar

Membahas penyair Indonesia tanpa menyebut nama Chairil Anwar adalah omong kosong belaka. Penyair yang dikenal sebagai salah satu pelopor angkatan ‘45 ini akan selalu dikenang sepanjang masa, baik karena puisi-puisinya maupun karena kontroversi kehidupannya. Puisi berjudul “Aku”, “Diponegoro” dan “Karawang Bekasi” kerap dijadikan materi dalam buku teks pelajaran bahasa Indonesia. Karya-karya Chairil pernah diterbitkan dengan judul Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, Derai-Derai Cemara, serta Aku Ini Binatang Jalang. Kehidupan pribadi Chairil dapat diulik lewat buku berjudul AKU karya Sjuman Djaya dan CHAIRIL Sebuah Biografi karya Hasan Aspahani. Seri Buku Tempo juga menerbitkan liputan khusus mengenai Chairil Anwar yang berjudul Bagimu Negeri Menyediakan Api.

2. Malkan Junaidi

Membaca puisi-puisi Malkan, orang akan diliputi perasaan campur aduk sebagaimana puisi yang ia tulis. Ia menulis puisi dengan beragam tema, bahkan tema-tema yang belum tentu terpikirkan untuk ditulis sebagai puisi. Kadang ia menulis puisi yang membuat pembacanya tertawa, kadang ia membuat pembaca menganggukkan kepala menyetujui apa yang ia tulis. Lain hari, pembaca akan merenung memaknai puisi Malkan yang begitu bernas. Tak banyak orang yang mengenal nama Malkan Junaidi sebagai seorang penyair, kecuali orang itu telah mengikuti rekam jejak karya-karya Malkan di media sosial atau telah membaca bukunya. Lelaki yang banyak menghabiskan waktunya di warnet dan sawah ini telah menerbitkan dua buah buku, Lidah Bulan dan Di Bawah Cahaya yang Terpancar dari Ingatan Terhadapmu. Sampai saat ini Malkan masih konsisten untuk menulis dan menayangkan puisi di laman facebook pribadinya.Penasaran? Beli bukunya di Indie Book Corner atau kunjungi laman facebooknya https://www.facebook.com/malkan.junaidi .

3. Avianti Armand

Di tengah minimnya penyair perempuan di jagad kepenyairan Indonesia, Avianti Armand menghadirkan puisi dengan diksi vulgar dan agak sedikit nakal lewat Perempuan yang Dihapus Namanya. Ia cukup sukses merekonstruksi beberapa nama perempuan yang namanya dihapus dari Perjanjian Lama. Pada tahun 2011 buku ini meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa. Beragam karya Avianti Armand yang lain sudah pernah dipublikasikan di berbagai media massa. Ia pernah menerbitkan kumpulan cerpen Negeri Para Peri dan Kereta Tidur. Buku terakhir yang ia terbitkan adalah Buku Tentang Ruang: Kumpulan Puisi .

4. Afrizal Malna

Satu kata yang paling pas untuk menggambarkan perasaan setelah membaca puisi-puisi Afrizal Malna adalah: gila. Pilihan Afrizal dalam tipografi, diksi maupun tema memang tidak biasa, tidak seperti puisi pada umumnya. Sebagian besar puisi-puisinya adalah ekspresi dari aspek materi dalam kehidupan perkotaan. Afrizal mengambil gambar kehidupan sehari-hari lalu menghadirkannya bersama kebisingan dan kekacauan dari keberadaan manusia hari ini. Ia gemar mencari hubungan antar objek yang berbeda dalam puisi-puisinya, yang ia gambarkan sebagai “tata bahasa visual dari sesuatu”. Afrizal telah mengikuti sejumlah festival puisi di dalam dan luar negeri. Buku puisinya Teman-temanku dari Atap Bahasa meraih beberapa penghargaan seperti Man of The Year dari majalah Tempo dan SEA Write Award dari Bangkok.

5. Abinaya Ghina Jamela

Untuk anak berusia delapan tahun, puisi-puisi karya Naya bisa disebut sebagai sebuah karya brilian. Di saat anak-anak seusianya asyik memainkan gawai, Naya sudah membaca bacaan kelas “berat” dan menerbitkan buku. Gadis kelahiran 11 Oktober 2009 ini baru saja menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Resep Membuat Jagat Raya pada Januari 2017 lalu. Lewat blog pribadinya http://www.duniakecilnaya.com , siswa sekolah dasar ini mengaku menyukai Ernest Hemingway, Harper Lee, Truman Capote, Irene Adler dan Sherlock Holmes. Kini Naya sedang menggarap sebuah novel berjudul Negeri Impian Naya.

6. Rachmat Hidayat Mustamin

kata-kata menjadi p ncang sebab huruf-hur fnya dipenggal
oleh penguasa. sem ntara orang tuanya akan merintih
mencari tanah-tanah tak berbayar unt k memakamkan anaknya.

Adakah yang terasa aneh dari nukilan puisi di atas? Bait di atas adalah nukilan dari puisi berjudul “Huruf-Huruf yang Hilang” karangan Rachmat Hidayat Mustamin. Ia menggunakan permainan tipografi, sehingga pemaknaan atas puisinya menjadi lebih kuat. Sama seperti Abinaya Ghina Jamela, Rachmat baru saja menerbitkan buku kumpulan puisinya pada Januari 2017 lalu. Buku berjudul Merelakan Diri Terbakar ini memuat 106 puisi yang ditulis sejak tahun 2011 sampai 2016. Dalam bukunya, pria asal Makassar berterus terang bahwa puisi-puisinya tidak (akan) hadir sebagai avant garde atau berkehendak untuk menjadi ‘lain dari yang lain’ atau bahkan sebagai koreksi atas karya sastra sudah-sudah. Ia tidak menuntut puisi-puisi di dalam bukunya agar menampikan sisi tertentu. Rachmat membiarkan puisinya mengalir begitu saja, lalu memilih wajahnya sendiri.

7. Irwan Bajang

Rasa-rasanya generasi millineal memang perlu mengetahui penulis buku Sketsa Senja dan Kepulangan Kelima ini. Jauh sebelum demam puisi merebak kembali, sebelum penerbit-penerbit mayor menerbitkan buku puisi, Irwan Bajang telah bersikeras menerbitkan Sketsa Senja secara independen ketika saat itu buku puisi dinilai ‘tak laku di pasaran’. Sekarang, lewat Indie Book Corner —penerbitan yang didirikannya bersama Anindra Saraswati– ia telah membantu banyak penulis-penulis pemula menerbitkan bukunya. Dapat dilihat melalui laman bukuindie.com , Indie Book Corner sudah banyak menerbitkan buku puisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s