Categories
Esei

Ketika Aku Membaca Buku

Tak ada yang tak suka buku, menurutku. Karena banyak hal aku dapat dari buku. Buku memberiku petualangan, tokoh-tokoh yang keren, bahasa yang indah. Buku seperti bunda yang mencerewetiku, tapi tidak bersuara.

Di Indonesia, orang jenius pasti baca buku. Apakah kamu tahu?Ada Soekarno, Muhammad Hatta, Tan Malaka, Habibie dan entah siapa lagi. Apakah kamu tahu? Aku sudah bertanya padamu dan sebaiknya kita berdiskusi dengan seru. Tentu kamu juga pernah dengar tentang Plato, atau Aristoteles. Mereka filsuf Yunani yang menulis buku-buku. Tapi kata bunda, Plato juga membakar buku. Semua dijelaskan di buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder. Aku sudah membacanya. Aku menyukainya dan aku seperti ingin menjadi filsuf.

Aku menyukai buku. Tidak semua buku. Aku kurang begitu suka buku pelajaran sekolah. Itu membosankan, membahas hal yang itu-itu saja. Aku ingin bebas membaca buku yang aku suka, seperti hewan-hewan yang bebas bergerak dan berlari di alam liar. Bundaku membolehkanku membaca buku apa saja. Bunda tidak melarangku, tidak seperti ibu yang lainnya. Itu sungguh menyenangkan.

Aku sering jengkel pada teman-teman perempuanku. Mereka sering melakukan hal-hal yang tidak keren. Mungkin karena mereka kurang membaca buku. Tapi bukan karena mereka masih anak-anak. Aku juga masih anak-anak. Umurku baru 8 tahun bulan Oktober nanti.

Siapa yang suka berjam-jam menghabiskan waktu untuk membaca? Aku tidak tahu berapa jam aku membaca buku. Tapi jika cerita di buku itu seru, aku bisa membacanya hingga bunda jadi marah. Menurut kalian aku dipaksa membaca buku? Tidak, aku tidak pernah dipaksa. Aku hanya dibiasakan untuk membaca buku, bukan dipaksa. Tapi apa salahnya jika anak-anak dipaksa membaca buku? Buku itu menarik. Anak-anak pasti suka, mereka pasti merasa senang.

Tapi aku juga tidak yakin. Anak-anak sekarang suka bermain handphone. Aku sering bertemu dengan anak-anak yang sibuk bermain game di handphone dan ibu atau ayah mereka juga sibuk dengan handphone. Bunda juga begitu, suka main handphone. Tapi tidak terlalu. Bunda suka membaca, juga sering menulis. Di rumahku ada banyak sekali buku. Kadang-kadang aku melihatnya sedikit berantakan.

Aku gemar membaca, menulis, menggambar, atau ngomong konyol. Tapi hal yang paling aku suka yaitu membaca buku. Kenapa aku suka membaca buku? Karena membaca buku adalah hal yang paling menarik yang pernah kurasakan. Kalian pernah naik roller coaster? Aku rasa seperti itu rasanya ketika membaca buku. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan membaca sebuah buku. Aku tidak mau dibuat penasaran karena nanti aku tidak bisa tidur.

Kau tahu apa buku yang paling aku suka? Harry potter, Bliss, Dunia sophie, Anna Frank, Sherlock Holmes, True dan Neil, Ensiklopedia, Carolinna. Aku juga suka  cerita silat. Penulisnya bernama Jin Yong dan Kho Ping hoo. Bunda dan om Mimo membelikannya untukku. Datuk Saut meminjamkannya untukku.

Aku lebih suka buku yang  tidak bergambar. Buku yang tak ada gambarnya seperti aku sedang melukis. Aku bisa menggambarkan sendiri apa yang dimaksud sang penulis. Tentang bagaimana wajah orang-orang di dalam cerita, bentuk rumah, atau apa saja. Aku memang suka melukis. Aku punya buku tentang Picasso.

Bukuku tidak terlalu banyak. Aku hanya menyimpan buku yang benar-benar aku suka. Aku juga membeli bukuku sendiri. Menyenangkan jalan-jalan ke toko buku. Aku bisa membaca buku sesukanya atau membeli dan membawanya pulang. Beli buku lebih seru daripada beli mainan. Tapi kadang-kadang aku juga ingin beli banyak mainan. Aku suka membaca buku. Membaca buku membuat aku bisa berkeliling dunia. Aku bisa menulis puisi dan aku bisa punya bukuku sendiri.

 

Ketika Aku Membaca Buku

Tik tok tik tok bunyi detak jam
seperti air menetes ke lantai
dan aku membaca buku
buku tentang jantung yang detaknya
seperti kuda berlari.
Kalau aku membuka halaman
seperti telapak kaki yang bergoyang.
Aku membacanya.
Ibu berdiri di belakangku
seperti kaki tegak terdiam
ibu melihatku membaca buku.
Di buku ada kulit, darah, mata, gigi,
rambut, hidung, dan otot.
Kenapa aku suka membaca?
Biar pintar seperti bunda.

 

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

2 replies on “Ketika Aku Membaca Buku”

Hadeeech yg nulis ini Naya anak 8 thn … busyettt ..
Thanks Naya tuk kejujuranmu
Perlu koreksi buat kami ortu yg suka main HP .. hihihi.. yg kurang kasih contoh membaca n menulis ..
Sukses buatmu

Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s