Tanah Ombak Merayakan Kegembiaraan Kreatif

http://cagak.co/?page=detail&id=1336&title=Tanah_Ombak_Merayakan_Kegembiraan_Kreatif

Anak-anak Purus, Kota Padang, yang tergabung dalam Ruang Baca dan Kreativitas Tanah Ombak, menggelar Pentas Kreatif selama dua hari. Aksi panggung mereka, juga film layar lebarnya berjudul “Nyanyian Tanah Ombak”, cukup mendapat apresiasi positif. Para relawan dan penggeraknya, menamakan ini bagian dari upaya gerakan berhastag #PurusHebat!

Seorang anak berlari seperti panik, berputar mengitari panggung di antara teman-temannya. Ia menyorakkan, “Oi…, anak orang berhandphone hilang…. Oi… anak orang berhandphone hilang….”

Tak lama, sekelompok anak muncul dengan peralatan memasak, seperti kuali, periuk, kaleng, sendok dan galon. Pakaian mereka warna-warni, menabuh benda tersebut menjadi bebunyian, sembari sesekali meneriaki juga, “Anak orang berhandphone hilang….” Suasana pun riuh rendah. Makin lama peralatan dapur itu kencang ditabuh, sebagai penanda ada kabar penting yang harus ramai-ramai diketahui, dan mencari yang dibilang hilang.

Ilustrasi di atas, sebuah adegan dalam pentas teater yang dimainkan anak-anak Ruang Baca dan Kreativitas (RBK) Tanah Ombak dalam lakon “Cerita Hari ini”, 28 Januari lalu, di Gedung Utama Taman Budaya Padang dan 3 Februari di Sei Pinang Kawasan Pulau Mande Pesisir Selatan.

Pertunjukkan yang disutradarai Robby W Riyodi tersebut, merupakan teater anak-anak, yang mengisahkan seorang anak bernama Diva, keluarga Indonesia hari ini, yang kecanduan gadget, aktif di media sosial, dan komunikasi dengan ayah serta ibu maupun teman, hanya melalui smartphone.

Suatu ketika, Diva tertidur dan bermimpi. Tiba-tiba dia berada di negeri yang asing. Gadgetnya tak berfungsi. Semua aplikasi di handphonenya hilang. Benda canggih di tangannya itu kini betul-betul mati gaya, tak berguna.

Tak lama muncul sekelompok anak, yang kemudian, menjadi teman Diva. Anak-anak tersebut, ternyata anak-anak masa lalu, yang hidup ketika handphone belum ada di tangan anak-anak Indonesia. Diva pun bersahabat, lalu diperkenalkan pada permainan-permainan anak-anak tradisional, seperti cik mancik, kaleleang, gontri, sembalakon dan lainnya. Diva pun menikmati, setelah sebelumnya ia menimbun gadgetnya ke dalam tumpukan daun-daun kering.

Naskah yang ditulis Yusrizal KW dan diperkaya oleh Syuhendri tersebut, upaya mengedukasi penonton yang di antaranya orangtua dan anak, agar tak terjebak pada keasyikan tak bernilai dalam memanfaatkan teknologi atau gadget. Anak-anak juga harus diperkenalkan pada permainan tradisional, yang melibatkan fisik dan pikiran atau kecerdasan mereka dalam berinteraksi langsung dengan teman serta lingkungannya. “Jika kau menunduk terus pada gadgetmu, kapan kau akan melihat pelangi?” kata Wila, peran ibu dalam lakon ini.

Menyaksikan pertunjukkan anak-anak Tanah Ombak, panggung bagai disulap menjadi sebuah dunia anak yang mengasyikkan, bernyanyi, bermain dan bergelut serta memupuk kesetiakawanan. Dalam cerita ada dialog yang menarik, juga ada Hadip Kurniawan, yang menyela dalam pantomime di jelang akhir pertunjukan.

Musik yang ditata Muhammad Riski yang didukung oleh Fikri dan Dika, membuat pentas “Cerita Hari ini” cukup menghibur. Pentas dibuka dengan lagu puisi, yang diangkat dari karya Abinaya Ghina Jamela, berjudul “Ketika Aku Membaca Buku”.

Menurut Syuhendri, anak-anak Tanah Ombak yang dua tahunan dalam gemblengannya bersama relawan dalam bidang teater, memang disiapkan untuk menjawab pentingnya teater untuk anak-anak. Tontonan gembira untuk anak, kata sutradara teater Noktah ini,  saat ini boleh dikatakan tidak ada. Melalui anak-anak Tanah Ombak, ingin menginspirasi publik serta pelaku seni, untuk bersama menyiapkan pertunjukan yang mendidik dan menginpirasi anak-anak Indonesia melakukan hal terbaik untuk dirinya secara kreatif.

Yusrizal KW, salah seorang founder Tanah Ombak yang memanaj program kreatif, bahwa pentas kreatif yang diselenggarakan selama dua hari, merupakan semacam penyapaan komunitas mereka kepada publik yang selama ini kenal melalui upload media sosial. Dengan pentas ini, kita ingin bersilaturrahmi, membangun komunikasi yang sama-sama menguntungkan bagi pencapaian kreativitas.

Yusizal KW dan Syuhendri, merupakan dua motor utama penggerak Tanah Ombak, yang didukung oleh puluhan relawan. Sebagaimana diakui Fahmi Akbar, seorang relawan yang juga stage manager, didampingi relawan Desma Rosi dan Cahaya Karmila, bahwa Tanah Ombak kuat karena relawannya kreatif dan iklas berbagi pada anak-anak. Dan pentas kreatif ini, merupakan produk dari keberbagian tadi.

Pentas Cerita Hari ini didukung oleh Willa Marwendi, Diva Naura, Rachel Gemi Raldika, Rezy Hendra Pratama, Rendi Ramadhan, Dio Saputra, Edo Fernando, Yudi Pratama, Arwi Ardiansyah, Senia, Rivaldo Julio, Arief Rahman, Adhisti  Nabila,  Adelva Gwenika dan Putri Maylisa Anggraini

Sahabat Tanah Ombak Award

Pada dua hari pentas kreatif, Tanah Ombak menggelar acara launching buku puisi penyair berusia tujuh tahun, Abinaya Ghina Jamela, berjudul “Resep Membuat Jagat Raya”. Buku Naya, dilaunching oleh penyiar Gus tf.

Karena buku tersebut, Abinaya meraih Sahabat Tanah Ombak Award, yang diserahkan oleh Wali Kota Padang Mahyeldi. Yusrizal KW, dalam sambutannya mengatakan, sahabat Tanah Ombak Award merupakan penghargaan yang diberikan dan akan diberikan kepada anak-anak yang pencapaian kreativitasnya melampui anak-anak kebanyakan. Seperti Naya, puisi-puisi yang ditulisnya, memiliki kekuatan imajinasi serta dunia kanak-kanak yang menjelma puisi, terasa menarik.

Sahabat Tanah Ombak Award, secara tersirat, ingin menggugah banyak pihak untuk bersama-sama memberikan apresiasi kepada mereka yang berkarya serius, memiliki pencapaian artistic yang terukur, jelas pada apa yang tengah diperjuangkan. “Ini juga bagian dari mengedukasi diri, terutama anak-anak Tanah Ombak, bahwa menghargai karya orang lain yang hebat itu wajib hukumnya,” kata Yusrizal KW dan Syuhendri.

Merayakan Kraetivitas

Merayakan kreativitas, begitulah kata yang tepat untuk acara yang dihadirkan selama dua hari itu. Dikatakan “merayakan kreativitas, kata Syuhendri, karena ini adalah bagian dari proses pembelajaran anak-anak di Tanah Ombak. Dengan pentas ini, mereka akan tahu, setiap latihan, setiap belajar, akan ada pentas untuk memperlihatkan karya ke masyarakat, ya bisa saja, ini proses belajar memahami respon, apakah itu bentuknya kritik atau pujian. Setidaknya, begini cara Tanah Ombak merayakan kegembiraan kreatif. Kata kegembiraan sengaja dilekatkan, karena proses belajar dan kreatif, harus menyenangkan.

Dipaparkan Yusrizal KW, Tanah Ombak sebagai ruang baca, juga mewadahi anak-anak dan remaja di kawasan Purus, terutama Purus III, untuk mengembangkan potensi dirinya dalam gerakan literasi. Membaca hal utama, karena akan menoipang kualitas karya atau pikirannya kelak.

Saat ini, sekitar 50-an orang anak-anak dan remaja tergabung di Tanah Ombak, yang semua anak-anak Purus. Jika selama ini, anak-anak Purus mungkin terabai dan diabaikan, dengan adanya Tanah Ombak, citra positif mulai terbangun untuk Purus. Apalagi para relawan Tanah Ombak menamakan gerakan mereka juga sebagai gerakan dengan hastag #PurusHebat. Hal itu didukung dengan banyaknya para tokoh, pejabat, wartawan dan media serta mahasiswa, berkunjung dan berbagi ilmu di Tanah Ombak.

Selain dari teater dan musik, pada malam kedua, digelar acara nonton bareng film Nyanyian Tanah Ombak. Film ini disutradarai oleh Yan Yoko, dan pemainnya adalah anak-anak Tanah Ombak, relawan dan warga Purus. Film ini menceritakan, gerakan membangun taman bacaan tidak mudah, tapi membutuhkan semangat cerdas dan tulus untuk menggerakkannya.

Pada hari pertama, wali kota Padang juga meresmikan program Classy Yunior, sebuah program dongeng radio, kerjasama tanah Ombak dengan radio Classy FM. Sekaligus hari itu, Tanah Ombak mencanangkan “Gang Dongeng”, yaitu area ditemukannya anak-anak hebat mendongeng karena melalui proses pendidikan kreatif di Tanah Ombak.

Tanah Ombak, merupakan Ruang Baca dan Kreativitas, secara informal mendidik anak-anak untuk meningkatkan budaya dan gemar membaca. Dengan gerakan literasi, anak-anak Tanah Ombak, dikuatkan melalui membaca, belajar dan melejitkan potensi berdasarkan bakat dan minat serta kemandirian.

Tanah Ombak sudah meraih penghargaan, antara lain Juara 1 regional Sumatera dalam Gramedia Reading Community Competition, Anugerah Literasi Minangkabau sebagai Komunitas terbaik dari Gubernur Sumbar, serta melalui binaan teater Noktah meraih sebagai salah satu Penampil Terbaik Festival Teater Anak-anak Tingkat Nasional di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Keberadaan Tanah Ombak, menurut Yusrizal KW didukung banyak pihak, dari berbagai kalangan, lembaga dan para sahabat, termasuk para mahasiswa. Karena itu, Tanah Ombak, tidak berani mengatakan ia tumbuh sendiri. Sebab, ia hadir karena diapresiasi banyak orang! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s