Buku Puisi Perdana Naya ‘Resep Membuat Jagat Raya’ Sukses Diluncurkan di Padang

KritisNews.com, Padang – Namanya Abinaya Ghina Jamela. Pada 11 Oktober 2016 usianya baru menginjak tujuh tahun. Tapi pada usia yang masih belia itu, anak dari pasangan Aris Djafril dan Yona Primadesi ini sudah memiliki satu buku karya tunggal perdananya dengan kumpulan puisi, yakni, ‘Resep Membuat Jagat Raya’. Buku ini berisikan 81 halaman yang terdiri dari 60 puisi dan 20 lukisan.

Buku Resep Membuat Jagat Raya terbitan Kabarita ini sukses diluncurkan di Galeri Taman Budaya, Komplek Taman Budaya, Jl. Diponegoro, Belakang Tansi, Padang, Sumatera Barat, pukul 16.00 wib pada Minggu (29/1/2017) lalu.

“Sebagai penerbit lokal, Kabarita tidak memiliki banyak uang. Jadi ketika kami ingin menerbitkan buku, khususnya sastra, tentu buku itu memiliki daya tarik. Nah, buku Abinaya Ghina Jamela yang akrab disapa Naya, paling tidak memenuhi kriteria yang diharapkan Kabarita,” ungkap pimpinan Kabarita, Yusrizal KW.

Dia menilai, Naya merupakan satu dari seribu atau bahkan mungkin sepuluh ribu anak di Indonesia yang bisa mengungkapkan imajinasi dan pengalamannya ke dalam bentuk puisi.

“Jadi penerbitan buku ini adalah penghargaan Kabarita kepada anak-anak seperti Naya. Kalau Kabarita tidak menerbitkan saat ini, Kabarita belum tentu akan mendapat penyair berusia tujuh tahun seperti Naya pada masa yang akan datang. Seorang yang memiliki diksi yang kuat dalam kepenyairannya,” terangnya.

Menurutnya, Abinaya Ghina Jamela adalah aset Sumatera Barat untuk Indonesia, yang mungkin akan menjadi penyair masa depan Indonesia.

“Diksi yang dipakai Naya itu, punya fantasi anak-anak yang tidak dimiliki oleh anak-anak kebanyakan. Naya adalah bentuk lain kemerdekaan yang diberikan oleh orangtuanya dalam mengekspresikan diri. Yang berangkat dari tradisi membaca,” tutur dia menerangkan keistimewaan seorang Naya dengan karyanya.

Naya bisa menjadi contoh, sebagai seorang anak yang diarahkan dengan benar. “Jadi pendidikan kita sebenarnya tidak berpihak pada imajinasi. Nah, Naya dengan bimbingan orangtuanya memberi porsi pada imajinasi dengan bagus. Maka itu, dalam karya-karyanya, terlihat ada perpaduan antara realitas imajinasinya dengan realitas fakta yang dilihatnya,” jelas Yusrizal.

Kekuatan imajinasi Naya, sambungnya, menjadi salah satu daya tarik dari buku kumpulan puisi Resep Membuat Jagat Raya.

“Membaca buku Naya ini, kita akan menemukan satu tempat, ruang ketakjuban barangkali, karena Naya tidak memiliki diksi yang dimiliki orang banyak lain. Kemudian lirik-lirik Naya penuh kejutan. Untuk anak usia tujuh tahun, mungkin kita antara percaya dan tidak, ada orang yang sekuat dan se-enjoy dia dalam menulis,” katanya.

Lebih lanjut, kata Yusrizal yang kerap disapa KW, setiap buku yang diterbitkan Kabarita, diharapkan bisa mencuri perhatian penggemar sastra Indonesia. Apakah itu kritikus, pembaca, lembaga atau institusi yang akan memberi penghargaan. Tapi yang pasti konsepnya, kehadirannya mencuri perhatian dan patut dibicarakan.

Pada peluncuran buku Resep Membuat Jagat Raya tersebut, hadir sastrawan Indonesia asal Payakumbuh, Gus Tf Sakai, yang juga turut meluncurkan buku Naya.

“Naya sebagai anak yang lahir dari atmosfer sastra Indonesia, buku tersebut diluncurkan oleh sastrawan yang kuat dan hebat, yang mengenal puisi dengan baik,” ujar Yusrizal KW.

Setelah orasi dari Gus TF Sakai, sastrawan Indonesia itu juga memberikan apresiasinya kepada Naya. Anak-anak dari Ruang Baca dan Kreativitas Tanah Ombak pun turut membacakan puisi-puisi karya Abinaya Ghina Jamela.

Selain itu, pada peluncuran buku, Naya juga dinobatkan sebagai Sahabat Tanah Ombak 2017, dalam Festival Teater Tanah Ombak yang disutradarai Robby W Riyodi, di Teater Utama Taman Budaya Sumbar.

“Anugerah ini untuk anak-anak yang mempunyai prestasi dengan bakat dan potensinya yang luar biasa dan spesifik, dan ituvada pada Naya, yang mungkin tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya,” tukas KW.

Ini puisi Naya dalam peluncuran buku karya tunggal perdananya.

RESEP MEMBUAT JAGAT RAYA

Ambil sebutir proton
yang sangat kecil
lebih kecil dari pasir
lalu lempar ke tempat jauh
dan meledak lebih hebat
dari letusan gunung merapi
muncul jagat raya kosong
seakan rumah ditinggal penghuni
3 menit kemudian bumi dan
matahari dan planet-planet
dan meteor bermunculan
jatuh di bumi seringkali
tanpa ampun bumi kesakitan
menangis menjadi air laut
dan muncullah bulan
dari debu bumi dan aku
tak bisa ke matahari
dengan suhu sepuluh miliar derajat.

2016
Abinaya Ghina Jamela

 

(Erwin/R)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s