PUISI DI BULETIN SASTRA KANAL, NOMOR III/FEBRUARI 2016

12741863_566921123470911_453198130259657872_n

MEMBUAT KUE 

Ada tepung, gula, telur dan mentega. Semua untuk apa bunda? Sepertinya kita membuat telur mata sapi atau roti bakar pakai mentega? Bukan, kita akan memasak kue, kata bunda. Buat apa? Untuk lebaran. Tepung, gula, telur, dan mentega berputar-putar di panci. Lalu aku mencicipi adonannya, rasanya seperti es krim. Adonan berubah menjadi burung, bintang, bulan, dan bunga lotus. Kulukis dengan kuning telur agar gula berwarna pelangi dan keju seperti hujan menempel tidak pergi-pergi. Mereka pun di panggang biar enak, biar wangi. Aku mencobanya lagi. Rasanya aku menaiki dan terbang bersama kupu-kupu.

2015

ROTI LAPIS

Ada pelangi di mulutku
yaitu roti lapis
dan ada dua lapis roti
aku memakannya
rasanya ada awan lembut
di mulutku.

Dan ada tiga rasa.
Keju seperti hujan
mentega seperti lumpur
dan seres seperti air terjun.

Dan aku memakannya lagi
rasanya enak.

2015

 

WAFER 

Ibu membeli wafer
seperti petak sawah yang kering
dan wafer itu dari Inggris.

Aku memakannya
rasanya aku pergi
menonton tivi besar.

Wafer makanan orang Eropa
saat minum teh.
Adonan dituang kecetakan
seperti air terjun

dan dipanggang hingga
berwarna daun kering
dan baunya wangi.

Lalu wafer ditaburi coklat,
es krim, keju, stroberi
seperti hiasan sandalku.

Aku memakannya lagi
rasanya aku naik sepeda.

2015

ARLO DAN KELUARGA

Asteroid, 65 batu-batu kecil berjatuhan sampai batu besar
dan mereka jatuh seperti rambut merah yang diangkat
dan diturunkan kembali.
Gunung Clawtoth ada dinosaurus pemakan tumbuhan.
Poppa dinosaurus terkuat
ia seperti monster, ia tak takut petir, ia melubangi tanah
“sudah waktunya”, kata Momma.
Telur yang paling kecil menetas
“Libby”, kata Momma.
Kreeeek, telur yang agak besar menetas. “Buck”, kata Poppa.
Dia mengambil kayu panjang seperti tangkai bunga
Buck memukul kaki Poppa.
telur yang besar menetas, “Arlo”, kata Poppa.
Arlo mengintip dan ia mengambil cangkangnya bersembunyi.
Arlo tak sebesar cangkang telurnya, Arlo tak sekuat Buck,
Arlo tak selincah Libby tapi Arlo tetap keluarga.

KETIKA DIA SAKIT

Ketika aku dan bundaku
pulang keesokan harinya
dia sakit dia sering mengeluh
seperti dia menyanyi
saat dia meminta dipijiti aku
memijitinya seakan monyet
datang untuk mengambil
makan saat itu dia sudah
berhenti merokok. Mungkin
aku Hachikonya setia
menunggunya. Waktu dia
tak sakit dia suka bermain
denganku tapi sekarang tidak
karena dia sakit.
Ketika sakit dia tak bisa menulis
dia tak mandi, sebau pabrik karet.
Aku ingin dia cepat
sembuh biarbisa menulis
tentangku biar masuk koran.

2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s