Anak-anak Ajaib (Marhalim Zaini)*

FB_IMG_1452876212897

“Aku membeli sepatu yang berwarna biru,
ia mengkilat seperti matahari yang memantul ke jendela.
Lalu sepatu itu seperti mobil, membawaku ke mana saja…”

CUPLIKAN puisi di atas berjudul “Sepatu.” Ditulis oleh seorang anak berumur enam tahun. Abinaya Ghina Jamela, namanya. Puisi itu, adalah satu dari 50 judul puisi yang sudah ia tulis, dalam setahun terakhir. Saya, terkesan sejak awal, sejak ibunya (Yona Primadesi, dosen dan penyair) rajin meng-apload puisi-puisi Naya (demikian ia dipanggil) di akun Facebook, selain di blog duniakecilnaya.com.
Melihat anak-anak yang pandai menulis puisi, saya seolah melihat keajaiban; keajaiban yang ada pada anak-anak itu, pun keajaiban pada puisi. Sebuah keajaiban, selalu muncul dari dunia yang “misterius”. Bukankah dunia anak, pun dunia puisi, adalah misterius, penuh dengan ketakterdugaan?  Dunia, yang kerap tak dapat kita “pahami” kehendak dan prilakunya, tapi selalu dapat kita “nikmati” sebagai sesuatu yang “menyenangkan,” sesuatu yang “mencerahkan,” yang “menggerakkan.”
Saya lalu teringat seorang bocah lain bernama Sutan Tsabit Kalam Banua, anak sahabat saya, penyair Raudal Tanjung Banua. Sejak masih kecil, bahkan sejak ia belum pandai menulis, ia sudah “mencipta” puisi. Saya tahu persis, bagaimana puisi-puisi yang dilisankannya kemudian ditulis oleh ibunya. Puisi-puisi dengan diksi yang sangat kuat. Bahkan impresif. Imajinasi dan metaforanya, selalu tak terduga, dengan diksi-diksi cerdas dan genuine.
Coba kita simak cuplikan puisi Tsabit berjudul “Bumi Semakin Mendekati Matahari” ini: “bumi semakin mendekati matahari/ dan orang-orang di bumi semakin lenyap/ yang tersisa hanya hati, otak dan mata/ pabrik-pabrik, kapal-kapal, pesawat-pesawat/ telah lenyap…” Atau puisi berjudul “Aku Ingin Sekolah Itu Hancur” berikut ini: “aku ingin sekolah itu hancur/ aku ingin membalas kemarahan ibu guru kepadaku/ tetapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat/ aku ingin tidak melihat lagi ibu guru yang memarahiku/ lalu mengapa aku tidak akrab dengan pak guru?”
Maka, Naya dan Tsabit, adalah “anak-anak ajaib” yang langka—atau mungkin saja ada banyak “anak-anak ajaib” yang lain, namun tak berkesempatan menemukan jalan untuk lebih mengekspresikan dirinya. Entah kebetulan entah tidak, untung saja, Naya dan Tsabit punya orang tua yang juga penulis. Orang tua yang memahami potensi anaknya, dan memfasilitasinya. Orang tua, yang memiliki kesadaran bahwa “berpuisi” itu adalah jalan untuk lebih kritis memahami diri, memahami kemanusiaan. Tapi, kadang, di sekolah mereka masih menemukan orang-orang yang menganggap “berpuisi” itu dunia yang aneh dan asing.
Bukankah misalnya, ketika kemudian si Tsabit tampak marah dalam puisinya itu, dan ia ingin sekolah itu hancur, boleh jadi karena memang ia tidak menemukan ruang yang “memadai” bagi gejolak ekspresi dirinya di sekolah. Sekolah, baginya tak lebih sebagai ruang persidangan tempat ia “diadili” dan dimarah-marahi oleh gurunya. Maka Tsabit pun menyindir, “aku memandang sekolah itu seperti aku sedang menyetir bis/ dan teman-temanku itu penumpang/ dan ibu guru sebagai pengamen memainkan gitar dan biola…”  
Rupanya, begitu pula Naya, dengan lebih lembut ia pun menulis puisi berjudul “Aku dan Guru.” Pada bait ketiga ia menulis begini; “Rumahku berwarna hijau seperti daun/ dan rumah ibu guru berwarna biru seperti langit./ Biasanya ibu guru belok kanan/ dan aku belok kiri.” Naya mungkin jujur menceritakan perbedaan-perbedaan ini: “rumah hijau” dan “rumah biru”, atau “belok kanan” dan “belok kiri.” Tetapi, apa yang dapat kita tafsir dari diksi-diksi diferensiasi semacam itu adalah, bahwa guru dan siswa selalu “berbelok di jalan yang tak sama.”

*Dimuat pada rubrik Hari Puisi harian Indopos, sabtu 16 Januari 2016 dan Riau Pos, minggu 17 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s