Seringkali aku duduk sejenak di dekat bingkai jendela bis, menyandarkan kepala dengan earphone terpasang di kedua telinga melantunkan lagu-lagu Aurora. Dari jendela bus aku menikmati pemandangan kendaraan yang berlalu lalang, pedagang kaki lima yang baru saja menggelar dagangan, seorang ibu yang membelikan permen karet untuk anak laki-lakinya, pemain sandiwara jalanan yang beratraksi, manusia-manusia berlumuran cat berwarna perak di sekujur tubuhnya untuk kemudian mematung di sekitar lampu merah, gadis belia yang menunggu temannya di depan restoran, transaksi penjual mainan rotan dan pembelinya, sekelompok anak berseragam putih-abu yang sedang asik berguyon, pertikaian antara dua pengendara motor tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, atau kekasih yang melingkarkan lengannya di pinggang pasangannya dan berkendara menggunakan motor butut mereka. Semua orang asik dengan kegiatannya, sibuk dengan masalahnya. Beberapa mungkin sedang merasa sedih karena lamaran kerjanya baru saja ditolak. Beberapa yang lain mungkin sedang merasa bahagia karena baru saja bertemu pujaan hatinya. Tidak ada yang benar-benar merasakan hal yang sama persis. Di saat seperti itu, aku merasa dunia tempat yang begitu ramai, sibuk, dan tak pernah diam.
Tapi jika aku mendongakkan kepala, memandang melalui kaca lebar jendala bis, aku akan mendapati hal lain: langit biru di saat siang hari, langit oren di sore hari. Langit yang begitu tenang, tanpa bunyi klakson para pengguna kendaraan, tanpa bunyi peluit pak ogah di persimpangan, tanpa makian pejalan kaki, hanya awan-awan yang menggumpal, bergerak sangat perlahan mengikuti gerak angin. Beberapa terlihat gelap, berkabut dan samar. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Sebagian lain menggumpal besar dengan tekstur yang terlihat jelas. Kadang seperti seekor anak anjing yang begitu gembira melihat pemiliknya datang, atau setangkai lolipop putih raksasa. Rasanya ingin kucubit dan kugigit saja.
Cahaya matahari yang menyelinap melalui jendela bis di suatu momen mampu memengaruhi suasana dan emosi yang kurasakan. Tapi jika sedang mendung, bis akan terasa dingin, mengubah suasana hatiku jadi biru. Terkadang aku menikmatinya meski tidak akan pernah ada yang dapat mengalahkan cahaya yang menyelinap ke dalam bis di sore hari. Terasa hangat, menenangkan, menyenangkan, seperti menggigit sepotong roti coklat lembut yang baru keluar dari oven dan dicelup ke dalam segelas susu. Aku begitu menikmati garis-garis biasnya yang samar, yang berujung di kursi-kursi kosong bis, seperti coklat hangat yang lumer di mulut dan meninggalkan rasa pahit dan manis di lidah. Butiran-butiran debu berlarian dan berkejaran, menyemarakkan garis-garis cahaya itu. Mereka melayang, tersesat, lalu menghilang.
Memandangi partikel-partikel kecil itu jadi hal yang sangat aku sukai. Mereka lambat tapi gesit hingga tidak satu genggaman pun yang mampu menangkap mereka. Menikmatinya dengan mata telanjang seperti kemewahan yang tidak dimiliki oleh semua orang: sederhana dan terabaikan. Di saat itulah aku merasa dunia jadi tempat yang begitu damai, tenang, dan indah. Meski di balik kaca jendela bis yang terjadi sungguh ironis. Bagiku, itu adalah kebahagiaan. Menyadari hal-hal kecil yang pada sebagian besar waktu luput dari perhatian.
Akan tetapi, menikmati momen puitik sore hari saat di dalam bis bukan satu-satunya sumber kebahagiaanku. Terlalu banyak hal-hal sederhana yang seketika membuatku begitu bahagianya, bahkan sekadar menikmati buih-buih putih air laut yang tak berhenti berkejaran. Betapa momen perjalanan 20 jam itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan buatku karena aku bisa menikmati hal sederhana semacam itu.
Hatiku sudah bersorak tak ubahnya gadis kecil yang begitu gembira melihat lagi ayahnya setelah sekian lama. Saat puluhan mobil berukuran kecil, sedang, hingga besar berbaris rapi memasuki lambung kapal yang luar biasa besar, beriringan dengan ratusan manusia yang berdesak-desakan, mengingatkanku pada rentetan pertanyaan yang diajukan gadis kecil itu pada ayahnya. Bau keringat yang menyengat atau teriakan pedagang keliling yang tak punya banyak waktu untuk menawarkan dagangannya, mengingatkanku pada pelukan hangat ayahku. Dan ketika aku melihat laut yang begitu luas, kekaguman dan ketakutan datang bersamaan. Tak ubahnya kegembiraan dan kecemasan seorang anak lelaki yang akhirnya bisa memeluk lagi ibunya setelah 20 tahun dan tak tahu berapa lama pelukan mereka akan bertahan. Tapi semua sebanding saat aku menikmati pecahan-pecahan kecil ombak.
Buih-buih laut seakan susul-menyusul berkejaran dengan kapal, lalu menghilang. Tak ubahnya seperti partikel-partikel debu di dalam bis. Aku menikmati tak hanya warna biru tua, juga biru terang, hingga mendekati hijau. Dan itu menjadi warna terbaik yang pernah kulihat di sepanjang hidupku. Dan rasanya sungguh membahagiakan. Tak jarang, kebahagiaanku datang saat aku bertemu anak laki-laki yang pernah kusuka tanpa direncanakan di sebuah bis sepulang sekolah, atau angin yang menerpa wajahku ketika motor melaju kencang.
Kebahagiaanku ternyata bisa datang dari hal-hal yang sangat sederhana. Bahagia karena mendapat nilai seratus pada ujian matematika, bahagia karena berhasil membuat kue tanpa gosong atau bantat, bahagia karena dapat menyampaikan argumen dengan jelas tanpa terbata-bata, bahagia karena melihat anak kucing dengan corak yang lucu, bahagia karena dapat menggambar potret wajah dengan baik, bahagia karena buku yang aku baca begitu mengaduk emosi, bahagia karena dapat menghabiskan minggu pagi dengan santai.
Beberapa yang lain, mungkin bahagia saat melihat angka di rekening bertambah sehingga hari-hari selanjutnya dapat dihabiskan dengan membeli barang-barang kesukaan, atau mengobrol bersama teman-teman sembari menghabiskan secangkir kopi hangat. Sebagian lainnya bahagia karena penyanyi idola mereka mengeluarkan single terbaru. Sebagian yang lain bahagia karena dapat bangkit dari kebiasaan buruk mereka. Ada yang bahagia hanya karena momen kecil dan remeh, sementara yang lain membutuhkan peristiwa yang mungkin mengubah hidup banyak orang.
Kebahagiaan jadi perasaan terbaik yang pernah ada dan selalu dicari bahkan didamba semua orang. Tak ubahnya saat merindukan seseorang, lalu bisa bertemu dan melihatnya lagi. Jantung berdegup begitu kencangnya, seperti derap kaki ratusan kuda di padang rumput luas. Darah terasa mengalir lebih cepat dari biasanya, seakan keran yang diputar ke arah yang tidak seharusnya, hingga air mengalir dengan derasnya, tak terkendali. Tak jarang, kebahagian semacam itu bikin gemetar tubuh. Bahkan untuk mengangkat gelas minum dari pangkuan saja kesusahan. Beberapa orang menjadi takut dan tak punya keberanian bahkan sekadar untuk menatap. Beberapa lainnya bicara dengan terbata secara tiba-tiba. Tapi semua karena perasaan yang begitu bahagia.
Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa benar-benar merasa bahagia, bahkan pada hal-hal sederhana sekalipun. Beberapa terlalu larut dalam kesedihan dan kebencian. Padahal banyak hal yang bisa membawa kita pada kebahagiaan. Kadang, aku menjadi orang seperti itu. Alasanku semata tak akan pernah ada rasa bahagia tanpa pernah merasakan kesedihan, kehilangan, atau kerinduan.



Leave a comment