Categories
Resensi Film dan Buku

Kisah Suku Gondi dan Gulma

Ketika mendengar gulma, apa yang pertama kali kalian bayangkan? Mungkin kalian berpikir tentang pertanian atau sejenisnya. Tetapi apakah kalian benar-benar tahu apa itu gulma? Jujur saja, saat pertama kali diberi tahu jika akan terbit buku berjudul, Tahun Penuh Gulma, aku sama sekali tidak mengerti arti kata gulma. Setelah aku membaca beberapa halaman, aku masih belum menemukan jawaban gulma itu apa dan mengapa novel itu diberi judul, Tahun Penuh Gulma.

Aku malah mengira gulma itu semacam istilah dari India. Aku juga sempat berpikir jika itu nama sejenis permen atau gula-gula karena bunyi gulma terdengar hampir mirip dengan gula. Lagipula, buku itu untuk anak dan remaja. Sedikit masuk akal jika ada hubungannya dengan permen atau gula-gula. Tapi salahku juga, sih, karena tidak banyak membaca buku mengenai pertanian atau yang semacam  itu. Nah, buat kalian yang baru pertama kali mendengar kata gulma, atau belum tahu apa itu gulma, kalian bisa menemukan jawabannya di buku Tahun Penuh Gulma. Bukan saja gulma dalam arti yang sebenarnya. Tetapi juga gulma sebagai metafora.

Sebelumnya, akan kuceritakan sedikit isi cerita dari buku Tahun Penuh Gulma. Buku itu menceritakan perjalanan dua orang anak belasan tahun yang ingin melindungi tempat tinggal dan bukit keramat suku Gondi dari para penggusur. Anehnya, penggusur itu justru dari pemerintah India sendiri. Ya, tentu saja di balik pemerintah ada perusahaan besar yang punya banyak uang dan kekuasaan. Buku ini juga menceritakan hal-hal lainnya, seperti bauksit, sistem hukum, politik, hingga kehidupan orang-orang miskin di India.  

Buku itu semacam buku catatan yang menuliskan kejadian selama satu tahun penuh dari orang-orang suku Gondi di desa Deogan. Catatan itu dimulai pada bulan April dan berakhir di bulan Maret tahun berikutnya. Dan Siddharta Sarma, si penulisnya, juga memberi nama bab-bab dalam buku itu berdasarkan nama-nama bulan.  Oh ya, buku itu memiliki ketebalan 247 halaman tanpa ilustrasi. Menurutku, buku itu bisa dibaca anak-anak mulai dari kelas lima sekolah dasar. Mungkin beberapa anak akan bilang jika buku  itu terlalu berat. Apalagi tebal dan tanpa ilustrasi. Tapi menurutku, itu tergantung seberapa luas pengetahuan pembacanya.

Aku mencatat banyak sekali hal-hal menarik dari buku itu. Siddharta Sarma seperti bikin gado-gado, makanan kesukaan bunda. Di dalamnya kamu bisa menemukan kentang, tahu, mentimun, kol, telur, kerupuk merah, mi kuning, dan tentu saja kuah kacang. Rasanya, enak sekali!

Konflik di buku itu dimulai saat orang-orang di pemerintah ingin menggusur orang-orang suku Gondi di desa Deogan dan beberapa desa lainnya di wilayah Odisha. Penggusuran terjadi karena bukit Devi yang dikeramatkan orang-orang Gondi ternyata mengandung banyak sekali bauksit. Kalian tahu apa itu bauksit? Jika kalian tidak tahu, tidak perlu malu. Aku awalnya juga tidak tahu. Tapi setelah membaca bagian yang bercerita tentang presentasi Anchita di depan kelasnya, baru aku paham. Bauksit digunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat  mobil, pesawat, bahkan roket luar angkasa.

Sebenarnya yang ingin menggali bauksit di bukit Devi itu perusahaan besar, bukan pemerintah India. Pemerintah  itu hanya suruhan saja, seperti pembantu di rumah orang kaya raya. Dan perusahaan besar itu punya banyak sekali uang. Mengapa aku bilang begitu, sebab mereka harus melakukan banyak penelitian, memindahkan orang-orang desa, mendirikan pabrik, menggali, dan mengolah biji-biji bauksit. Oh ya, mereka juga harus punya uang yang banyak untuk membayar orang-orang di pemerintahan agar urusan mereka lancar.

Buku itu diawali dengan kisah Bishto, anak laki-laki yang kehilangan sebelah tangannya, tinggal dan berkerja di sebuah bis tua. Jangan kamu pikir jika Bishto tokoh utamanya. Dia malah tidak banyak dibahas dalam buku itu, hanya dua kali saja. Penulis menjadikan Bishto seperti cherry merah pada banana split. Es krim dan pisangnya tentu saja Korok, Anchita, Patnaik, juga orang-orang suku Gondi. Aku pikir, Bishto hadir hanya  untuk melengkapi deskripsi betapa miskin, kering, dan terpencilnya desa Deogan dan orang-orang Gondi itu.

Awalnya aku juga sulit membayangkan seperti apa desa mereka, karena aku tidak  terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Tetapi ketika menonton film The White Tiger dan melihat kampung Barsham, tokoh utama dalam film itu, aku pikir Deogan sama mengerikannya: lantai tanah, makan seadanya, kering dan berdebu,  bahkan  tidak ada rumah sakit atau dokter. Tapi Desa Deogan setidaknya punya bukit Devi, banyak pohon dan tanaman.

Korok sebagai tokoh utama adalah anak belasan tahun yang yang tahu segala hal tentang tanaman. Anchita (tokoh utama belasan tahun lainnya) sampai menyebutnya sebagai dewa tanaman. Tapi Korok malah bilang jika Anchita keliru. Huft, ternyata sesama orang India saja, punya pengertian yang berbeda-beda tentang dewa.  Korok hidup bersama seekor kambingnya di rumahnya yang tidak layak dan bau makanan basi. Ayah Korok dipenjara di Balangir. Ayahnya dituduh menebang dan mencuri kayu-kayu dari hutan. Anehnya, polisi tidak punya barang bukti apapun, hanya menangkap saja. Rupanya di Balangir, atau mungkin di seluruh India, hal semacam itu sering terjadi. Orang-orang miskin, tidak berpendidikan, ditangkap tanpa tahu kesalahan mereka. Polisi seenaknya menuduh mereka pencuri atau penjahat meski polisi tidak punya barang bukti. Orang-orang seperti ayah Korok hanya bisa pasrah lalu dipenjara selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mereka tidak cukup pintar untuk bisa keluar dari penjara. Jika mereka pintar, mereka tidak cukup kaya untuk membayar pengacara, hakim, atau polisi. Sepertinya di Indonesia juga tidak jauh berbeda.

Tapi pengetahuan Korok tentang tanaman memberinya keuntungan. Dia akhirnya bekerja pada ayah Anchita, menjaga tanaman di kebun mereka. Ayah Anchita tentu saja orang penting di Deogan. Sebenarnya tidak terlalu penting, sih. Tapi karena dia orang pemerintah,  itu bisa membuat dia terlihat sedikit penting.

Korok dan Anchita punya karakter yang berbeda. Korok anak kampung yang miskin dan kumuh. Kulitnya hitam, kurus, bahkan dia jarang sekali menggosok gigi. Korok tidak pintar. Bukan karena dia bodoh, tapi sekolah di desanya ditutup dan menjadi kandang kambing dan kerbau. Tapi Korok suka menguping pembicaraan orang-orang dewasa di dekatnya. Sedangkan Anchita, tentu saja seperti anak kota kebanyakan. Dia suka sekali membaca. Jeleknya, dunia Anchita seakan  kiamat jika tidak ada sinyal internet. Dia sangat tergantung pada kompitar, begitu Korok menamai komputer. Tapi itu tidak menjadi persoalan ketika Anchita sering mengobrol dan bermain bersama Korok berkeliling Desa. Aku pikir, itu bisa jadi solusi bagi orang tua yang kerepotan saat anak-anak mereka terlalu banyak di depan laptop atau handphone. Mengapa tidak mengajak mereka mengobrol atau bermain keliling kampung, seperti yang dilakukan Korok dan Anchita? Anchita juga suka menggambar. Dan dia anak perempuan yang cerdas dan kritis. Meski sikap kritis Anchita sering kali bikin ayahnya dipanggil ke sekolah.

Ada satu hal yang menarik tentang itu. Anchita lebih suka jika ibunya yang datang ke sekolah, bukan ayahnya. Aku juga begitu. Kalau aku, sih, karena aku tahu bunda tidak akan marah jika aku melakukan hal nakal. Malah setelah itu, biasanya bunda mengajak aku makan gelato atau  makaron. Ya, tentu saja sambil ditanya ini-itu. Mungkin alasan Anchita juga sama. Sayangnya, yang datang ke sekolah adalah ayahnya. Mungkin karena ayahnya pegawai pemerintah, jadi akan lebih didengar ketimbang ibunya yang lebih sering bikin kue. Hmmmmm…..!

Menurutku, anak-anak seperti Anchitalah yang paling dibutuhkan saat ini. Anak-anak yang kritis, berani berpendapat, dan tahu bagaimana mengintimidasi dan menjatuhkan lawan bicara dengan pengetahuannya. Anchita juga selalu mencari terlebih dahulu banyak informasi sebelum menjelaskan atau menyampaikannya pada orang lain. Jadi tidak asal bicara saja. Meskipun dia sangat bergantung pada internet, tapi dia menggunakannya untuk belajar dan membantu orang. Bukan untuk bermain game.  

Kamu juga akan menemukan tokoh bernama Jadob dalam buku itu. Jadob digambarkan sebagai anak muda yang berpendidikan dan memiliki teman-teman yang berkuasa dan berpengaruh. Tetapi  Jadob memilih untuk kembali ke kampungnya yang miskin itu. Jadob banyak membantu orang-orang Gondi, mulai dari hal-hal kecil hingga membangun irigasi. Aku tidak yakin banyak anak muda seperti Jadob. Mereka pasti lebih memilih tinggal di kota besar, bekerja di sana dengan gaji besar ketimbang kembali ke kampungnya yang kumuh, miskin, dan kering saat musim panas. Padahal jika dipikir-pikir, anak-anak muda itu disekolahkan agar mereka jadi pintar dan bisa membantu masyarakat di kampung mereka. Eh, malah lebih suka jadi buruh dan budak kapitalis di kota besar.

Di dalam cerita, tidak seru rasanya jika tidak ada tokoh jahatnya. Tokoh jahat itu seperti dua iris pisang pada banana split. Jika tidak ada pisang, tentu saja namanya bukan banana split. Aku membayangkan Patnaik itu seperti polisi-polisi India di film-film Bollywood. Hm, tapi di Indonesia sepertinya juga sama. Dia culas, sok berkuasa, kejam, tapi seperti ulat kaki seribu ketika bertemu orang yang lebih berkuasa. Dia juga mendadak tidak berkutik dan bersikap seperti monyet dungu. Hm, tapi menurutku Patnaik memang dungu, sih. Dungu, rakus, licik, juga kejam. Bayangkan saja, bagaimana mungkin dia tega manampar anak usia belasan tahun yang badannya kurus kering hanya karena dia sedang kegerahan? Bahkan jika anak itu berbuat jahat sekalipun, tidak seharusnya ditampar hingga terjatuh ke lantai.

Buku itu bukan hanya menceritakan tentang penggusuran,  tapi juga menceritakan bagaimana politik dan sistem hukum di India. Aku pikir, politik dan hukum itu seperti monster bayangan. Tentu saja dia akan selalu ada dan mengikuti manusia. Kadang-kadang dia ada di depan atau di samping si manusia. Tapi hukum dan politik itu adalah monster jahat, seperti dementor dalam cerita Harry Potter. Dia akan menghisap seluruh energi dan hidupmu hingga tak bersisa. Kamu akan seperti zombie, mayat hidup, berjalan ke sana ke mari, tak tentu  arah.

Hukum itu super mengerikan, seperti yang dituliskan Siddharta Sarma, Setelah ayahnya ditahan, Korok diperkenalkan pada mesin paling rumit di negeri ini: sistem hukum. Mesin yang menggiling orang-orang biasa dan menelan mereka perlahan-lahan. (hal. 156.) Jadi omonganku memang benar, bukan? Siddharta Sarma saja sudah mengakui bahwa sistem hukum itu rumit dan menyengsarakan masyarakatnya.

Menurutku, hukum juga seperti bisnis. Jika kamu punya banyak uang, kamu bisa membelinya seenak hatimu. Tapi jika kamu miskin, maka tinggal dan mati saja di dalam penjara. Tidak ada yang bisa kamu lakukan, percuma saja. Ketika kamu berbuat kesalahan atau dituduh melakukan sesuatu kejahatan, maka kamu harus punya banyaaaaak sekali uang atau banyak teman yang berkuasa. Kamu harus menyewa pengacara, dan menyiapkan banyak sekali dokumen yang dibutuhkan di pengadilan. Kamu juga harus punya banyak waktu untuk ke pengadilan. Orang-orang bisa menjadi gila dibuatnya. Jadi menurutku, sebaiknya kamu tidak usah berurusan dengan hukum.

Politik juga sama. Ya, sama mengerikannya. Setelah aku pikir, orang-orang yang terlibat politik itu dua saja. Pertama, memang dia cukup pintar untuk mengelabui dan menipu banyak orang. Kedua, orang yang bodoh dan tololnya minta ampun sehingga mau saja disuruh, ditipu, dan diperintah oleh orang yang pintar tadi.

Ada banyak sekali bagian lucu yang menceritakan  kisah bodoh para politikus di buku itu. Tapi aku paling menyukai cerita tentang seorang politikus yang berpidato di depan orang-orang suku Gondi. Sebenarnya, dia hanya ingin memanfaatkan masyarakat di sana untuk mencari popularitas. Dia dan orang-orangnya tidak benar-benar ingin membantu. Mereka hanya butuh bicara, diberitakan, dan menjadi populer.

Jadi, politikus itu dengan sangat sombongnya berpidato di hadapan orang-orang suku Gondi. Politikus itu bercerita tentang pembangunan kuil hingga apa yang seharusnya dimakan orang-orang Gondi. Orang-orang suku Gondi yang baik hati itu mencoba menahan untuk tidak tertawa mendengar semua omongan bodoh si politikus. Ternyata si politikus tidak tahu apa-apa tentang masyarakat Gondi. Dia hanya jago bicara. Otaknya benar-benar kosong. Dia mengira jika dia sudah hebat, keren, dan berwibawa. Padahal  masyarakat yang tidak bisa membaca saja, sudah sakit perut menahan tawa.

Buku itu juga bercerita tentang relawan yang sok peduli dan sok prihatin melihat penderitaan orang lain. Padahal mereka tak jauh berbeda dengan politikus: tidak tahu apa-apa dan berlagak paling pintar! Mungkin mereka terlalu sibuk, karena terlalu banyak orang yang harus mereka bantu. Relawan itu juga merasa jika mereka orang yang paling hebat. Mereka tidak mau bertanya atau memperhatikan bagaimana orang-orang di tempat itu hidup. Mereka pikir, pengetahuan mereka jauh lebih baik ketimbang semua hal yang diketahui oleh penduduk di sana. Padahal mereka keliru.

Jadi, seandainya rencana yang mereka pikir sangat brilian itu gagal, mereka tinggal kabur begitu saja. Mereka tidak perlu repot-repot untuk tinggal dan belajar pada penduduk di sana. Itu  menunjukkan jika relawan  hanya ingin cari muka di antara masyarakat. Mereka hanya ingin menunjukkan jika mereka perhatian, mereka pintar, dan mereka punya solusinya.  Setelah dipikir-pikir, hanya sedikit sekali yang benar-benar peduli terhadap persoalan yang menimpa masyarakat di sana. Benar-benar bodoh!

Tahun Penuh Gulma juga menceritakan tentang media yang lebih suka membesar-besarkan sesuatu agar orang-orang tertarik untuk menonton acara mereka. Bahkan media itu lebih banyak bohongnya. Mereka lebih suka membicarakan hal-hal yang diinginkan orang yang punya uang atau punya kekuasaan. Mereka tidak akan membicarakan kisah orang-orang miskin, melarat. Ya, kecuali jika cerita itu menguntungkan mereka, tentu saja! Contohnya, saat Korok diwawancarai, dan ditanyai tentang sekolahnya. Korok menjawab kalau dia sudah tidak bersekolah. Tapi media menyensor jawaban Korok. Jadi korok hanya terlihat seperti menjawab sesuatu dan orang yang menonton tidak bisa mendengar apa-apa, kecuali suara si pembawa acara. Jadi aku pikir, hanya orang-orang tolol saja yang mau berlama-lama di depan pesawat televisi mereka.

Aku jadi ingat adegan di sebuah film Bollywood. Judulnya, Bajrangi Bajhiaan. Sang reporter memberitakan tentang seorang mata-mata akan dipindahkan ke penjara dengan pengamanan yang lebih ketat. Padahal, polisi saja belum tahu apa yang akan mereka lakukan pada orang yang dikira mata-mata tersebut. Ya, media memang suka melebih-lebihkan. Jika tidak, nanti siaran mereka tidak ada yang menonton.

Omong-omong tentang film, aku berharap buku Tahun Penuh Gulma dibuat menjadi film juga. Menurutku, buku ini keren sekali. Orang-orang yang tidak suka membaca buku tentu saja tidak akan bisa menikmatinya. Pesan-pesan  Siddharta Sarma tentang kehidupan orang miskin, sistem hukum, politik, relawan, bahkan media, tidak akan sampai kepada mereka. Jadi lebih baik jika dibuatkan filmnya saja.Tapi film yang benar-benar keren, ya!

Nah, kamu pasti sudah tahu mengapa buku ini diberi judul, Tahun Penuh Gulma? Gulma itu sejenis tanaman. Lebih tepatnya, tanaman pengganggu. Dia akan tumbuh subur ketika musim hujan dan gulma harus disingkirkan dengan hati-hati. Jika tidak, dia akan berkembang  dan membunuh tanaman lain. Pasti kalian sudah tahu  siapa saja yang dimaksud gulma dalam buku ini. Jika kalian masih bingung, aku sarankan kalian segera saja membacanya. Kalian tidak akan menyesal. Bahkan jika kalian membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya.

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s