Apakah Science Fiction Liu Cixin Logis?

Pernahkah kamu membaca sebuah buku yang menurut orang-orang keren, tapi ketika kamu baru memulai membacanya, kamu merasa agak bingung? Mungkin saja buku itu terlihat keren karena penulisnya. Mungkin juga karena judulnya. Atau karena genrenya. Aku pernah mengalaminya, baru saja. Buku itu berjudul, Trisurya. Setelah aku cari-cari, judul berbahasa Inggrisnya, The Three-Body Problem. Penulisnya bernama Liu Cixin. Di China dan Amerika Liu Cixin cukup populer. Dia mendapat beberapa penghargaan. Di Indonesia, baru satu judul bukunya yang diterjemahkan. Mungkin tidak banyak yang membacanya. Aku membacanya karena sedang ingin membaca buku-buku karya penulis China selain Jin Yong.

Jujur saja, awalnya aku mengira buku itu terlalu membosankan. Di bagian awal, ceritanya memang cukup membosankan. Dia bercerita tentang pemberontakan partai-partai. Menurutmu, apakah politik itu menarik untuk anak-anak? Aku sebenarnya tidak begitu yakin. Tapi George Orwell menceritakan politik dan pemberontakan dengan sangat mengasikkan.

Saat aku membaca lebih banyak halaman, aku menjadi bingung. Mungkin karena Liu Cixin menggunakan alur maju mundur. Misalnya begini, aku mencoba mengutip sedikit bagian dari buku itu. Tiga puluh delapan tahun kemudian, pada saat-saat sekarat, Ye Wenjie akan mengingat pengaruh Silent Spring kepada hidupnya. Setelah kalimat itu, aku menemukan semacam tanda pemisah berupa tiga bintang (***) Setahuku, tanda ini biasa digunakan untuk menunjukkan jika cerita itu sudah berbeda tempat, waktu, atau situasi. Lalu, setelah tanda pisah, aku membaca kalimat, Empat hari setelah menerima Silent Spring, Ye pergi ke pondokan tamu satu-satunya di kompi, tempat Bai tinggal, untuk mengembalikan buku itu.

Jika kamu hanya membaca selintas saja, atau membaca sekali saja, menurutmu apakah dua kalimat itu tidak membingungkan? Aku cukup bingung, sehingga aku harus membacanya beberapa kali. Coba kamu pikir-pikir lagi, dari tiga puluh delapan tahun kemudian, dilanjutkan dengan cerita empat hari setelah menerima buku Silent Spring. Jujur saja, itu cukup membingungkan bagiku. Aku sarankan, anak-anak tidak perlu membaca buku ini. Apalagi jika kalian pembaca yang malas dan tidak mau rumit. Aku yakin, kalian akan langsung melempar buku itu ke pojok kamar kalian dan tidak akan membacanya lagi. Bahkan sampai kalian sudah dewasa. Tidak semua anak bisa berpikir dengan cepat. Tidak semua anak mau berpikir dengan sabar. Anak-anak sudah terbiasa dengan alur maju. Jadi, ketika mereka membaca cerita dengan alur maju-mundur itu akan menjadi bacaan yang aneh dan membosankan. Anak-anak akan sulit memahaminya.

Buku ini cocok untuk orang-orang yang menyukai sains dan astronomi. Meskipun tidak terlalu banyak, tidak seperti ensiklopedia sains, tapi cukup membantumu. Kamu akan bertemu dengan planet-planet baru, aliens, dan sistem penanggalan. Tetapi mungkin itu hanya bualan Liu Cixin.

Di buku Trisurya, ada tiga bagian yang juga disebut bukuBuku yang aku maksud lebih seperti kumpulan bab, bukan buku dengan bentuk visual seperti yang ada dalam pikiranmu.

Biasanya, ketika membaca cerita-cerita dari penulis Cina, aku bisa dengan mudah membedakan tokoh perempuan atau tokoh laki-laki. Misalnya, buku-buku Jin Yong. Aku membedakannya dari nama. Tetapi, untuk buku Trisurya, aku kesulitan membedakannya. Misalnya, Wang Miao. Aku mengira dia seorang perempuan. Tetapi, setelah aku baca berulang kali, ternyata dia seorang laki-laki. Sungguh sulit membedakannya.

Menurutku, setelah aku membaca halaman-halaman berikutnya, buku Trisurya mengasikkan juga. Aku pikir, Liu Cixin bisa menggantikan Jin Yong di kepalaku. Mungkin, tapi aku belum begitu yakin. Tetapi, ada sesuatu yang sulit aku terima dari cerita Liu Cixin ini. Mengapa di buku Trisurya diceritakan jika Ye Wenjie menerima pesan dari planet lain? Apakah mungkin itu terjadi? Bahkan untuk menghubungi nenek yang ada di Padang saja, aku sering kesulitan. Apa mungkin pesan bisa dikirimkan dari planet lain? Apakah artinya alien itu memang benar-benar ada? Anehnya lagi, pesan itu langsung bisa dimengerti oleh Ye Wenjie. Aku pikir, bahasa aliens pasti berbeda. Sedangkan temanku yang bicara bahasa Jawa saja sulit dimengerti. Apakah mungkin karena itu buku science fiction, jadi penulis bisa merencanakan apa saja dengan mahkluk ruang angkasa?

Jika kamu orang yang tidak suka penasaran, sebaiknya kamu jangan membaca buku ini. Kenapa? Karena buku kedua Liu Cixin belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Itu bisa membuatmu mati penasaran menunggunya. Aku mengalaminya. Aku tidak tahu mengapa Ye Wenjie menatap desa di bawah pangkalan merah. Ada apa dengan desa itu? Apakah karena di desa itu Ye Wenjie membunuh suami dan kaptennya? Atau dia punya alasan lain yang hanya diketahui oleh Liu Cixin? Bukankah itu menyebalkan? Dan aku harus menunggu entah berapa lama lagi.

Minggu, 1 December 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s