Begitu sulit menuliskan mengenai kekesalan tanpa merasa kesal. Dengan kata lain, menulis sesuatu mengenai kekesalan akan lebih baik jika suasana hati memang sedang tidak baik. Masalahnya, sekarang aku tidak merasa begitu kesal. Tapi kemudian, seseorang bernama Nermi Silaban menyuruhku untuk menulis sesuatu tentang ‘aku dan kekesalan’, setelah sesi ceramahnya yang berlarat-larat seperti biasanya.
Di lain hal, menurutku Moonlight Sonata 3rd Movement dan Summer oleh Fizzio adalah perwujudan terbaik untuk mengungkap kekesalan. Tuts piano yang saling menyusul seperti perasaan yang sedang dikejar-kejar genderuwo, tekanan tuts piano yang emosional mampu bikin intonasi nada jadi sangat menegangkan, atau gesekan biola yang, yah agak meledak-ledak.
Tetapi jika sedang bersedih, musik-musik Chopin atau Yahezkel Raz adalah bentuk yang paling tepat. Interval antara nada sangatlah pelan. Musik-musik mereka membuatku merasa seperti sedang berada di hamparan padang rumput dengan kaki tanpa sepatu, tidur telantang menatap awan-awan menggumpal besar, menggantung di langit (entah biru atau gelap) yang membuatnya terlihat megah. Tapi, saat berada dalam situasi itu, aku tidak ingin mendengarkannya bersama orang lain, selain diriku sendiri. Nah, persoalannya, ketika sedang menikmati momen puitik begitu: entah sedang kesal atau sedih, menyebalkan rasanya jika tiba-tiba muncul orang-orang yang menanyakan banyak hal dengan intonasi pemaksaan yang beruntun. Begitu pasif-agresif dan intimidatif. Padahal aku hanya ingin menikmati dan merenungi banyak hal dalam hidupku. Sendirian.
Sama halnya ketika sedang kesal. Jika ada orang yang bertanya atau memberi perintah: Nay, kamu kenapa? Ada apa? Kok gitu? Nay, cerita dong. Biasanya aku akan terdiam, lalu menjawab, ‘enggak tau’. Mungkin kalian akan menganggap aku berbohong, aku menyimpan rahasia, atau aku tidak ingin menceritakannya. Padahal kenyataannya tidak begitu. Aku memang tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang membuat aku kesal, menyendiri, atau mungkin menangis. Akan jauh lebih baik jika aku mendapatkan waktu sendiri, sebentar saja. Berikan aku sedikit keleluasaan untuk merenung, instropeksi, memikirkan tindakanku, memikirkan apa yang sudah atau akan terjadi, memikirkan kenapa aku melakukan hal itu, memikirkan apa masalah sebenarnya.
Dan persoalan lainnya, jalan pikiranku ternyata agak rumit. Di kepalaku tak ubahnya seperti puluhan, atau bahkan ratusan saluran radio yang menyiarkan cerita yang berbeda-beda secara bersamaan. Ada yang menyiarkan dengan suara kencang, ada yang dengan sangat pelan. Dan aku kesulitan menurunkan volume yang lain untuk fokus mendengarkan satu siaran saja. Terlalu banyak peristiwa, hal, dan permasalahan yang ingin kusampaikan. Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana. Karena itulah aku butuh waktu sendiri, menyendiri. Setelahnya, mungkin barulah aku cukup tenang, dan mungkin dapat menyampaikan banyak hal yang aku rasakan. Meski tak jarang, aku butuh waktu yang sangat panjang untuk bisa melakukannya, atau bahkan sama sekali tidak menemukan cara untuk menyampaikannya.
Sehingga tak jarang ketika sedang kesal, aku dapat melakukan banyak hal spontan yang dapat berdampak buruk bagiku atau bagi orang-orang di sekitarku. Ketika sedang kesal, kita akan dengan sangat mudah menyebarkan energi negatif dan gelap pada orang-orang di sekitar kita. Ya, karena itulah ketika sedang kesal, aku ingin sendirian. Karena jika tidak, aku akan terdorong untuk melakukan hal-hal spontan yang justru destruktif: entah itu membanting botol, membanting pintu, berteriak, atau keluar dari grup whatsapp. Mungkin bukan hanya aku yang berlaku begitu, banyak orang di luar sana: bisa jadi Bunda, Mimo, teman-temanku, atau siapa saja. Dan aku sadar, perilaku-perilaku spontan semacam ini hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang bersifat kekanak-kanakan, yang tidak tahu bagaimana cara mengendalikan emosi yang meluap-luap.
Dan belakangan, ada hal yang sangat menggangguku: fakta yang Bunda sampaikan saat di bandara Soekarno-Hatta setahun yang lalu. Awalnya aku mencoba terlihat kuat, hanya mataku saja yang berkaca-kaca. Saat pesawat mendarat, aku menangis. Saat berada di kereta bandara, aku menangis. Aku tidak tahu apakah Bunda memperhatikannya. Tapi aku menangis. Aku benar-benar merasa seperti berada di dalam mimpi orang lain. Kepalaku berputar-putar, tenggorokanku tercekat, banyak hal bermunculan silih berganti seperti adegan film yang kecepatannya di luar standar. Padahal apa yang aku dengar itu tidak begitu berpengaruh atau mengubah banyak hal dalam hidupku. Jadi, aku tidak tahu mengapa aku menangis. Sukurnya, aku kemudian mulai bisa menerima kenyataan itu dengan lebih tenang, lebih bijak, dan kembali menjalani hari-hari seperti yang sudah-sudah.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Aku mulai kesal saat beberapa pihak mulai menyalahkan pihak lain. Tidak terbesit sedikitpun dalam pikiran mereka untuk mendengarkan cerita dari sudut pandang orang lain. Aku kesal karena satu pihak hanya memikirkan pengorbanannya, tidak memahami derita yang dilalui pihak lainnya. Aku kesal ketika satu pihak memilih berdiam, menerima, tidak angkat suara, tidak angkat bicara, padahal mungkin hal itu dapat menyelesaikan banyak hal. Aku kesal pada kata-kata kasar yang dilontarkan oleh satu pihak pada pihak lain. Aku kesal ketika satu pihak tidak memiliki empati atas semua hal berat yang sudah dialami pihak-pihak lain. Aku kesal ketika satu pihak merasa sebagai orang paling benar dan paling banyak berkorban. Aku kesal pada orang-orang dewasa egois yang mengatasnamakan harga diri dan etika. Aku kesal ketika seorang anak tumbuh dewasa tanpa ibu di sampingnya dan masih dituntut untuk menunggu. Aku kesal ketika banyak pihak tidak pernah bertanya, apa yang benar-benar kami inginkan sebagai anak? Aku kesal terlahir hanya untuk melihat semua drama rumit ini terjadi. Dan aku kesal karena hanya bisa berdiam tanpa mampu melakukan atau mengubah apapun, semata karena aku hanya kanak-kanak.
Aku kesal kepada orang yang hidupnya hanya kerja, kerja, dan kerja. Aku kesal kepada orang yang tidak bisa memahami bahwa menari adalah salah satu bentuk ekspresi. Aku kesal kepada orang-orang yang tidak bisa menghargai momen-momen kecil. Aku kesal karena aku tidak suka dengan sebuah acara yang begitu populer yang menuntut banyak hal, padahal sebenarnya organisasi sok motivasi itu bisa sangat membantu masa depanku. Aku kesal kepada para pegiat yang terlalu banyak bacot padahal tidak melakukan apa-apa yang bermanfaat untuk masyarakat. Aku kesal pada orang-orang yang memaksakan pendapat kepada orang lain. Aku kesal pada orang-orang yang asal menyimpulkan. Aku kesal kepada orang yang membuat peraturan hanya untuk orang lain. Aku kesal pada anak-anak yang tergesa-gesa ingin menjadi dewasa padahal mereka tidak tahu betapa menyenangkannya masa kanak-kanak. Aku kesal pada anak-anak baru puber yang menangis karena putus dari pacar padahal banyak anak-anak lain yang masalah perut saja mereka belum selesai. Aku kesal pada anak-anak yang asal mengikuti berita viral di tiktok.
Aku kesal pada guru atau orangtua yang menganggap hidup kami hanya perkara nilai dan sekolah. Aku kesal kepada penulis-penulis platform digital yang membuat anak-anak mengonsumsi bacaan tidak berkualitas dan tanpa proses penyuntingan. Aku kesal kepada remaja yang mengaku suka membaca padahal mereka hanya membaca daftar isi dan sinopsis. Aku kesal kepada tokoh-tokoh agama yang terlalu banyak omong soal surga dan neraka sementara banyak orang gila cabul di bumi ini yang mengintai kami. Aku kesal kepada orang dewasa sialan yang bicara soal kodrat dan tugas wanita untuk melahirkan. Aku kesal kepada orang yang menganggap aku tidak berusaha, padahal aku sudah mencoba melakukan semua yang terbaik yang aku bisa. Aku kesal karena aku tidak bisa menyampaikan pendapatku dengan runut dan jelas, padahal aku punya banyak hal yang pantas untuk didengar. Aku kesal karena artikulasiku ketika berbicara tidak jelas. Aku kesal karena aku tidak kunjung belajar bermain gitar dan piano. Aku kesal karena aku bertambah dewasa. Aku kesal karena aku mengetahui hal-hal di dunia ini tidak seperti apa yang dulu aku rasakan. Aku kesal karena aku hanya ingin hidup yang sederhana. Aku kesal karena aku telah bersikap egois padahal aku tahu jika aku bisa berbuat lebih. Aku kesal pada diriku karena aku kesal pada setiap hal di dunia ini yang membuatku kesal. Sekarang aku merasa seperti salah satu penghuni planet di Le Petit Prince. Si pemabuk yang kebanyakan minum agar bisa punya alibi bahwa dia mabuk untuk melupakan rasa malunya karena dia tak lebih dari seorang pemabuk. Dan kekesalan-kekesalan yang aku sebutkan tadi sering muncul di saat yang tidak tepat. Sehingga intensitas aku kesal dan marah-marah tanpa alasan akan terlihat lebih tinggi dan sering .
Terkadang aku hanya ingin menangis. Tapi jangan sesekali tanyakan alasannya. Aku hanya ingin menangis, tanpa perlu memikirkan hal-hal lain. Menangis bukanlah ulangan di sekolah yang memerlukan penjelasan dan penjabaran panjang, atau butuh dinilai oleh orang dewasa. Mungkin kalian menganggapku tidak bersukur, tidak mengenal diriku, padahal aku sudah memiliki banyak hal yang tidak dimiliki anak-anak lain. Jika memang kalian menganggap begitu, maaf-maaf saja. Itu masalah kalian, bukan masalahku. Bagaimanapun kita hanyalah manusia. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan. Dan mungkin juga aku. Dan itu, membuatku kesal! (AGJ)



Leave a reply to Abinaya Ghina Jamela Cancel reply