Hari ini Niba malas sekolah. Ia menyampaikan kepada ibunya setelah bangun tidur. Keinginannya langsung disetujui, tapi ia tetap harus keluar dari kamar dan segera mandi. Ayahnya tidak jadi mengantar ke sekolah dan mesti mengasuh Niba di rumah. Sekitar pukul tujuh kurang dua puluh menit, Niba sudah selesai pakai baju-rumah, lalu berdiri di ambang pintu. Setelah selot pagar besi dikancingkan, Niba melambaikan tangan kepada ibunya dibarengi kata-kata penantian. “Dadah Mama, cepat pulang, ya!”. Ayahnya berbaring di atas karpet di ruang tamu dan mulai mengantuk karena kurang jam tidur. Pintu dibiarkan sedikit terbuka agar udara segar masuk. Ayahnya perlahan terlelap seakan ditelan pasir hisap. Sewaktu ayahnya mengalami sensasi itu, Niba mengambil buku gambar, lalu mengeluarkan satu demi satu pensil warna dari kotak hingga berserakan di atas karpet. Sebelum memejamkan mata, ayahnya sempat merekam raut gembira di wajah Niba yang sedang mencoret-coret halaman buku gambar. Ia tahu kalau putrinya akan tetap berada di situ sampai beberapa jam ke depan atau sampai ia terbangun dan semua lembar buku gambar itu penuh dengan fantasi putrinya.  

Ayahnya sudah tertidur, mendengkur pelan. Sementara Niba sedang membangun sebuah kota dengan warna-warna pensil yang cocok menurutnya. Ia tarik garis-garis vertikal, meski hasilnya agak diagonal. Jadilah gedung-gedung yang tampak miring bersamaan, seolah-olah disebabkan oleh fenomena gempa atau badai angin besar. Di jalan raya ada tiga mobil sedan bercat merah, biru dan hijau, dan satu-satunya bus kuning, ditata seperti sedang lalu-lalang. Semua kaca jendela kendaraan itu gelap dengan warna abu-abu. Kota itu sunyi dari orang-orang pejalan kaki, hanya bunga-bunga yang tumbuh berjejer di tepi trotoar dengan ukuran mahkota yang tak lazim seakan-akan terkena wabah aneh. Pemandangan di atas kota ia buat beberapa gumpalan awan merah jambu dan sebutir matahari kuning yang sedang mengintip di balik salah satunya. Ia akan memamerkannya saat menyambut ibunya di depan pintu rumah sambil menyebut Kota Ajaib. Baginya gambar itu sudah cukup ajaib. 

Niba membalik halaman buku gambar. Ia mendongak, pandangannya mengambang sejenak. Napas ayahnya ngos-ngosan. Karena suara napas itu lamunan Niba membuyar. Ia menepuk-nepuk dada ayahnya seperti seorang ibu saat menenangkan anaknya. Setelah ayahnya cukup tenang, ia kembali memikirkan gambar selanjutnya. Ia melipat satu lengannya bersamaan tangan lainnya mengetuk-ketukkan ujung pensil di sisi dahinya. Ia teringat sebuah dokumenter alam yang pernah ia tonton. Film itu menayangkan sekumpulan binatang di padang rumput selama cuaca terik berlangsung. Begitulah cara ia mengungkap sebuah ide. Ia kemudian menggambar kuda, tetapi bukan kuda yang biasa. “Gambarlah sesukamu,” ia bisikkan kata-kata ayahnya kepada diri sendiri untuk menyemangati. Jadilah dua pasang kuda dengan corak jerapah, lalu sebaliknya tiga ekor jerapah bersurai kuda tanpa corak yang khas. Harus ada binatang yang mengawasi mereka, pikirnya. Agar tidak mencolok, ia ubah wajah singa menjadi bermoncong seperti kerbau, dan seekor macan tutul memiliki tanduk seperti rusa. Binatang-binatang itu digambarkan sesuai sifat masing-masing. Kemudian ia menamainya, Sayembara Binatang. 

Kira-kira menggambar apa lagi? Niba kembali mengkhayalkan sesuatu. Ayahnya berguling gelisah selama tidur. Niba pernah mengalami tidur seperti itu, menurut keterangan ibunya. Kejadiannya beberapa hari yang lalu. Niba berkata kepada ibunya, ada tembok yang menelannya. (Ia tidak menyebut di mana lokasinya). Ibunya terperangah. Melihat ekspresi itu, Niba jadi antusias membeberkan bagaimana tembok itu bergerak, terus berubah menjadi ringan seperti asap. Ia pun terlena hingga melangkah menembus ke dalam tembok. 

“Apa mungkin ayah juga ditelan tembok itu?” gumamnya. Di tengah-tengah perasaan cemas, Niba memikirkan dari mana datangnya mimpi itu. Ia mengingat-ingat urutannya. Dimulai dari sebelah sepatunya yang hilang di sekolah. Ayahnya lalu menjemputnya. Selama di jalan mereka tidak membicarakan kejadian itu. Niba mengutarakan semua yang ia ingat mengenai sepatunya, hingga permintaan maaf. Ibunya tidak terlihat kesal, hanya menukarnya dengan mendongeng menjelang Niba tidur. Niba sudah bersiap di atas kasur. “GADIS CEROBOH YANG KEHILANGAN SEPATU,” buka ibunya. Baru mendengar judulnya, raut Niba langsung mengkerut. Ibunya bermaksud menyindirnya. Niba tidak bisa memprotes. Dan malam itu ia melalui segala macam ketegangan selama ibunya menjelma detektif, bukan sebagai pendongeng. 

Ada dua tuduhan dari ibunya yang mendebarkan. Yang pertama, seorang kurcacilah yang mencuri sebelah sepatu Niba untuk memberitahunya bahwa ada makhluk lain di dunia ini selain manusia. (Sebetulnya ibunya hendak menyebut seorang pencuri, tapi itu kurang berkesan menurutnya, karena sosok pencuri tidak menyeramkan). Lalu yang kedua, monster pada tembok. (Gagasan aneh ini muncul karena Niba sering menanyai ibunya tentang dinding kamarnya yang mengelupas). Maka ibunya mengada-ngada tentang monster di tembok yang suka mengambil mainan anak-anak yang tidak bisa dijaga dan dirawat. Niba hendak menyela ibunya dan ingin mengatakan kalau sepatu bukanlah mainan, tapi ia urungkan dan tidak mau menambah masalah. Selain mengenai monster tembok—ya, Ibu, Niba, serta ayahnya telah sepakat bahwa di mimpi seramnya Monster Tembok adalah tokoh yang jahat—ibunya mencontohkan gambaran yang menakutkan dari mimpi buruk itu lewat simulasi singkat, sekaligus tindakan pertolongan pertama sehabis dongeng berakhir. 

Niba langsung meraba napas ayahnya dengan punggung tangan. Untungnya tidak ada tanda-tanda bahaya yang membuatnya harus memanggil bantuan tetangga. Rasa khawatirnya perlahan surut. Ia mulai bosan. Biasanya ia akan menyalakan televisi, tetapi jadwal menonton sudah dipindah ke hari Minggu. Ayahnya tidak ingin masa kecil Niba dirampas oleh televisi. Peraturan Menonton akhirnya dibuat dengan huruf-huruf besar pada kertas. Kemudian mereka menambahkan sidik jari masing-masing, lalu menempelkannya di dinding ruang tamu. Ini berlaku bagi semua. Kata ayahnya, Niba lebih baik menggambar atau membaca buku apa saja. Hari mulai siang. Ibunya sudah terlambat pulang setengah jam. Cahaya matahari sudah bergeser dari ambang pintu ke halaman rumah. Niba menyelinap ke balik gorden, memandangi suasana di luar melalui jendela yang terkunci. Jalanan sepi. Ia berniat diam-diam bermain di halaman; mengeruk tanah dengan sekop mainan, lalu mengubur sebuah benda sebagai harta karun, atau menimbun tanah kerokan itu hingga membentuk gunung-gunung mungil, atau sekadar mengagumi tanaman bunga saja. Ia percaya tidak akan terjadi apa-apa padanya karena jeruji pagar besi itu cukup tinggi dan aman dari orang asing. Tetapi ia memilih tetap berada di dalam rumah meski pintu terbuka sedikit. “Jangan sendirian di luar rumah ya, Nak,” Niba mengingatkan dirinya dengan kata-kata ibunya. 

Jiwa seni Niba masih terbilang goyah, tidak seperti pelukis ternama yang posesif terhadap cat dan kanvas. Gagasannya untuk menggambar sudah memudar. Kali ini ia ingin bersantai, dan tergugah untuk membaca buku bergambar. Ia mengambil sebuah Ensiklopedia dari rak buku, tentang sejarah perbudakan. Ia duduk di teras menyandar ke kusen jendela. Separo tubuhnya terbenam oleh buku itu. Sebelum membuka halamannya, ia menoleh ke ruang tamu. Ayahnya akan luluh asalkan ada buku di tangannya. Ia mulai hanyut dalam kisah orang-orang kulit hitam yang malang itu. Perbudakan membuat hatinya iba bercampur sebal. “Dasar, orang-orang kulit putih pemalas,” gerutunya. Ia curiga bahwa ayahnya juga seperti mereka. Hanya dengan menggunakan telunjuk dibarengi sedikit bicara, lalu benda-benda itu sudah berada di depan ayahnya tepat waktu. Seolah-olah Niba adalah Robot Pelayan. Dari seberang seorang tetangga membuka pintu lebar-lebar dan meninggikan suara film kartun di televisi hingga menyebar keluar. Ia pun terusik oleh kegaduhan itu.

Ayahnya terbangun karena sekumpulan mimpi buruk. Dan mimpi terakhirnya adalah yang paling menakutkan. Mimpi itu kosong, benar-benar kosong melompong seperti halaman buku gambar yang masih bersih. Saking sunyinya ia sampai tersentak. Kepalanya terasa berat. Ia duduk sebentar untuk mengumpulkan kesadaran. Ia agak telat menyadari ruang tamu sepi. Niba menghilang dari hadapannya. Kepanikannya bangkit seketika hingga jantung berdebar keras. Ia memeriksa seluruh ruangan; kamar putrinya, kamar mandi, dan halaman belakang. Nihil. Saat mencapai teras ia menemukan Ensiklopedia tergeletak di atas lantai, pagar besi bergeser sedikit, selotnya tidak terkancing. Ia terbengong, nyawanya seakan lenyap setengah. Ia berpaling ke dalam rumah, tergesa-gesa membuka sandi telepon pintarnya. Pikirannya terpecah selagi jarinya menggulirkan beberapa nama kontak naik turun di layar. Ia menekan nomor istrinya, lalu tersambung. 

“Niba bersamamu?”

“Enggak!”

“Ini serius!”

“Siapa juga yang bercanda!”

“Sekali lagi aku tanya.”

“Ada apa ini?”

“Kau harus pulang secepatnya!”

“Jelaskan dulu apa yang terjadi?

“Nanti di rumah saja.”

“Oke, sekarang juga aku jalan!”

“Cepat!”

Sebelum istrinya bilang, “ya”, ia sudah memutus sambungan. Ia belum bertindak apa-apa, hanya termenung di ruang tamu, menunggu sesuatu yang tak pasti. Tidak terpikirkan olehnya meneriakkan nama panggilan putrinya, semata-mata buat menarik perhatian orang-orang di sekitar agar membantunya. “Penculik anak? Tidak. tidak mungkin,” jawabnya pada diri sendiri. Ia berprasangka dan menyanggahnya sendiri. Ia mengenal sifat curigaan putrinya yang tidak gampang dihasut oleh apapun, bahkan siapapun. Sebelum benar-benar buntu ia teringat anak perempuan seumuruan putrinya di belakang kompleks perumahan. Mereka sudah cukup dekat, dan beberapa kali sudah saling bertandang. Pikiran semacam itu bikin ia agak mendingan. Selagi istrinya menuju rumah, ia melihat-lihat karya seni putrinya di buku gambar. Ia merasa terhubung pada sesuatu. Seketika sekumpulan mimpi buruknya tersingkap. Ia pun terperanjat. 

Di alam mimpinya saat itu, ia berdiri mematung di atas trotoar. Ia menyaksikan setiap kendaraan di jalan raya tidak serupa dengan bentuk umumnya, bahkan warna awan yang melayang jauh di atas kepalanya. Di sebelahnya tanaman bunga menjulang dan mekar membesar seolah jari-jari besar hendak mencengkeramnya. “Ini benar-benar kota yang aneh. Bukan, ini bukan lagi aneh, tetapi ajaib”, dan semua itu disebabkan oleh peristiwa yang sulit dibuktikan. Ia tak sempat menimbang-nimbang karena cemas. Tanpa pikir panjang, ia melangkah cepat-cepat. Sekali-sekali ia menoleh, memastikan bangunan tinggi di seberangnya berderak dan mulai doyong, seakan-akan mau menimpanya. 

Ia lolos dari mimpi buruk yang pertama, dan di hadapannya sudah terbentang padang rumput yang luas. Belum ada perasaan aneh apapun. Ia melangkah sambil mengedarkan pandangan. Cuaca mulai terik. Ini seperti petualangan di sabana Afrika, pikirnya. Petualangan liar di sabana Afrika? Ia mengulang kata-katanya dan mendadak ragu dengan apa yang akan dihadapinya nanti. Ia tidak mau menjadi santapan binatang buas karena merasa sebagai omnivora. Sialnya ia tidak membawa alat apapun untuk melawan.

Belum sempat memikirkan jalan keluar, segerombolan kuda berlari maraton di hadapannya. Dua ekor kuda di belakang bertingkah menjijikkan, membaui sesuatu di pangkal ekor kuda-kuda lainnya seperti sedang mencari tersangka yang buang angin. Ia merasa ada yang janggal. Setahunya, kuda tidaklah bercorak jerapah. Apa mungkin itu jerapah muda? Selagi ia bicara pada diri sendiri, kawanan jerapah melintas. Pemandangan i

tu sangat menakjubkan, tapi seketika ia dibuat melongo karena jerapah-jerapah itu bertubuh polos. Tak ada corak sedikit pun. Ia mengejap berkali-kali, matanya baik-baik saja. Jerapah berleher jenjang, pikirnya. Ia lega setelah memastikan, tetapi pikirannya menjadi terbalik-balik. Rambut di leher jenjang itu adalah surai kuda, dan corak di tubuh kuda tadi seharusnya milik jerapah. Ia menggaruk-garuk kepala, tatapannya kosong. 

Ada seekor binatang bertanduk di sebuah pohon di kejauhan. Pandangannya teralihkan. Rusa, tebakannya. tapi ia meyakinkan lagi. Rusa tidak tiduran di pohon. Binatang itu adalah macan tutul yang sedang telungkup di dahan rendah. Empat tungkai kakinya menggelantung bersama ekor panjangnya yang layu, sedangkan kepalanya menggelayut hampir menyentuh tanah karena bobot tanduk yang bercabang-cabang. Ia spontan mundur merunduk ke balik batu besar di belakangnya. Dari situ ia mencermati semuanya. Binatang-binatang mutan, pikirnya. 

Agak jauh dari batu markasnya, seekor binatang berbulu kuning kotor mengendap-endap ke arah kuda-corak-jerapah. Rumput gemerisik. Ia tergerak mencari asal suara itu. Sangkanya itu singa. Tetapi saat tampang binatang itu nongol malah menyerupai kerbau. Ia mengucak matanya. Gerak-gerik binatang itu mirip singa, dan ia tidak bisa menyangkalnya. Aksi kejar-kejaran pun dimulai. Ia berandai-andai memiliki senapan untuk melindungi diri, atau sekiranya untuk menyelamatkan kuda-corak-jerapah itu. Dan alangkah bagus ada sebuah kamera tele di tangannya karena momen itu sungguh luar biasa. Akhirnya kuda-corak-jerapah itu menjeritkan suara yang mengerikan saat diterkam. Ia langsung berbalik, bersandar di balik batu persembunyiannya. Gemetaran. Adegan itu berulang-ulang muncul dalam benaknya. Ia mengembus napas panjang, dan terharu, seakan-akan itu adalah bentuk simpatinya. Ia mengira bahwa binatang malang itu telah berkorban untuknya. “Untunglah,” gumamnya. 

Begitu Ayah Niba menyimpulkan semuanya sebagai pertanda, istrinya tiba di depan pintu. Ia agak terkejut, dan serta merta menyodorkan buku gambar. Istrinya hendak menanyakan keberadaan Niba, tapi Ayah Niba malah mengoceh tentang mimpi dan gambar-gambar di buku itu dengan kejadian tadi. “Seekor singa sudah menangkapnya.” Istrinya tidak mengerti maksud “seekor singa” dan “nya” dalam perkataan itu. Ayah Niba kembali menjelaskan bahwa kemungkinan seekor singa itu adalah penculik anak. Istrinya mendadak terserang panik. Tetapi Ayah Niba berusaha menenangkan. Ia berkata lagi “ini baru kemungkinan.” Istrinya terdiam dan bernapas seperti baru saja berlari jarak jauh. Ia menyimak gerundelan Ayah Niba yang semakin mirip dengan perkataan peramal hingga tidak tahan dan langsung mengatainya tidak becus. Mereka pun terpaksa beradu mulut karena tidak menemukan jawaban. Bagi Ayah Niba, putrinya baik-baik saja dengan berbagai khayalannya, sementara Ibu Niba dibayangi wajah putrinya yang ketakutan. Pertengkaran mereka di teras rumah semakin kusut dan gaduh hingga seorang tetangga keluar dari rumah dibarengi seorang anak gadis. Niba lalu memanggil ibunya dengan lantang. Ia tampak gembira sambil memegang kue kering di kedua tangannya dan berlari pelan menemui ibunya.  

3 responses to “Ayah dan Buku Gambar Niba”

  1. Astronout Former Avatar
    Astronout Former

    Niba itu Abinaya, ya? 🤭

    Like

  2. Suka!

    Like

Leave a reply to Astronout Former Cancel reply

Trending