Analisis Karakter Tokoh Buku Anak Berjudul Matilda Karya Roald Dahl

Persentasi Naya kali ini berjudul Analisis Karakter Tokoh Buku Anak Berjudul Matilda Karya Roald Dahl. Awalnya, Naya ingin menganalisa dan mempresentasikan buku berjudul Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Tapi, setelah Naya berdiskusi dengan Om Mimo, kami memutuskan untuk membahas lebih lanjut tentang buku Matilda. Atau bisa dibilang, menganalisa dengan lebih mendetail.

Pertama, kita bahas tokoh-tokoh yang ada di buku Matilda. Naya menemukan tokoh Miss Trunchbull, si kepala sekolah Crunchem Hall, sekolah Matilda. Lalu, keluarga Matilda, yaitu Mrs. Wormwood, Ibu Matilda, Mr. Wormwood, ayah Matilda dan Mike, saudara Matilda. Tokoh selanjutnya adalah Miss. Honey. Miss. Honey adalah guru sekolah Matilda, yang terkenal dengan sifatnya yang penyayang. Dan tokoh terakhir adalah Matilda sendiri, tokoh utama dalam buku ini.

Naya akan membahas terlebih dahulu karakter Miss. Trunchbull. Selain Matilda, menurut Naya, Miss Trunchbull adalah tokoh dominan lain dalam buku ini. Road Dahl juga membuat satu bab khusus untuk menjelaskan tentang Miss. Trunchbull. Bab itu berjudul Trunchbull. Roald Dahl menulis begini:

Dia melebihi perempuan mengerikan manapun. Dia dulu adalah seorang atlet terkenal, dan bahkan sekarang otot-ototnya pun masih menunjukkan fakta itu secara jelas. Kau bisa melihat otot-otot itu di lehernya yang tebal, pundaknya yang gempal, sepasang lengannya yang kekar, di pergelangan tangan yang berurat, dan di sepasang tungkainya yang kokoh (hal. 90).

Deskripsi yang diberi Roald Dahl untuk Miss. Trunchbull menunjukkan bahwa sebenarnya Miss. Trunchbull tidak layak untuk berada di sekolah itu. Dia sangat tidak untuk menjadi kepala sekolah dan berhubungan dengan anak-anak. Naya pikir tubuh yang seperti itu akan terlihat menyeramkan dan menakutkan bagi anak-anak. Apalagi anak-anak yang terbiasa membaca dan mendengar dongeng putri yang cantik. Lalu bagaimana sifat Miss. Trunchbull?

Begini, kalian masih ingatkan tulisan Naya tentang setiap orang punya alasan untuk berbuat jahat atau menyakiti orang lain? Misalnya, Maleficent. Diceritakan kalau Maleficent itu jahat karena perbuatan teman baiknya yang membuatmya sakit hati. Naya pikir, begitu pula dengan Miss. Trunchbull. Menurut pendapat Naya, mungkin semasa anak-anaknya, Miss. Trunchbull diperlakukan seperti kutil, seperti sebutan Miss. Truncbull kepada anak-anak di sekolahnya. Mungkin juga semasa kecil Miss. Trunchbull dianggap sebagai anak penggangu, disiksa, tidak diperhatikan, atau tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya didapatkan anak-anak.

Naya berpendapat begitu karena di dalam buku Matilda, Miss. Trunchbull berusaha melupakan atau tidak mengingat masa kecilnya. ‘Tidak terlalu lama, syukurlah,’ Miss Trunchbull membentak, menyeringai. ‘Aku menjadi perempuan dewasa dengan sangat cepat.’(hal. 95).

Tetapi, tetap saja melempar anak keluar dari pagar sekolah tetap merupakan perbuatan yang tidak manusiawi dan tidak pantas dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Meski anak itu paling nakal di sekolah.

Jadi menurut Naya, karena Miss. Trunchbull memiliki masa kecil yang tidak menyenangkan, dia merasa memiliki alasan untuk membalaskan dendamnya itu kepada anak-anak di sekolahnya. Bisa jadi anak yang pernah ditindas Miss. Trunchbull akan menaruh dendam kepada Miss. Trunchbull. Tapi Naya berharap, anak-anak itu tidak membalaskan dendamnya kepada anak lain seperti yang dilakukan Miss. Trunchbull (Itu jika kesimpulan Naya benar).

Lalu yang kedua adalah keluarga Matilda. Seperti yang Naya tulis sebelumnya, keluarga Matilda terdiri dari Mrs. Wormwood, Ibu Matilda; Mr. Wormwood, ayah Matilda; dan Mike, saudara Matilda. Mereka adalah keluarga yang sangat aneh dan memiliki kebiasaan yang sama anehnya. Bagaimana mungkin ada orangtua yang begitu membeci anaknya sendiri?

Menurut Naya, alasan orangtua Matilda tidak suka pada Matilda salah satunya karena orangtua Matilda tidak suka diinterogasi oleh anaknya sendiri. Apalagi jika mereka adalah pelaku kriminal, dan melakukan banyak penipuan. Contoh percakapan antara Matilda dan Mr. Wormwood yang membuat Mr. Wormwood merasa tersinggung, misalnya: ‘Berapa lama mesin akan berjalan seperti itu sebelum berkeretak lagi?’ Matilda bertanya ‘Cukup lama hingga si pembeli pergi jauh dari sini’ Ayahnya menyeringai. ‘Sekitar 160 km’ ‘tapi itu tidak jujur, Daddy!’ Matilda berkata. ‘Itu namanya menipu!’(hal. 19)

Percakapan pendek itu menunjukkan bahwa Mr. Wormwood menganggap bahwa putri kecilnya itu terlalu sok tahu, banyak bertanya, menasehatinya sehingga merasa Mr. Wormwood merasa sedang diinterogasi.  Selain merasa diinterogasi, Keluarga Matilda, terutama Ayahnya, juga merasa cemburu kepada Matilda. Kecemburuan itu yang membuat Mr. Wormwood selalu marah dan kejam pada Matilda. Contoh kecemburuan yang ditunjukkan sangat jelas oleh Ayahnya: ‘Amarah Mr. Wormwood makin hebat karena melihat Matilda mendapatkan kenikmatan dari sesuatu yang tidak terjangkau olehnya.’(hal. 38)Roald Dahl menunjukkan dengan jelas jika Orangtua Matilda juga ingin duduk tenang sambil membaca buku seperti Matilda. Tetapi itu tentu saja tidak mungkin terjadi. Mereka terlalu bodoh dan sombong untuk melakukan hal-hal sederhana itu.

Tokoh ketiga dalam buku Matilda ini adalah orang terdekat Matilda. dalam buku ini. Namanya Miss. Honey. Miss. Honey adalah guru sekolah Matilda yang yang terkenal karena kasih sayang dan kelembutannya. Tidak seperti Miss. Trunchbull, yang bisa menjadi teror dan mimpi buruk bagi semua anak-anak di dunia, Miss. Honey merupakan kebalikannya. Jika aku boleh menghubungkannya dengan buku karya Roald Dahl yang lainnya, The BFG, aku sangat yakin BFG mengkategorikan mimpi anak-anak yang  bercerita tentang Miss Trunchbull atau sejenisnya adalah mimpi berjenis trogglehumper. Dan Miss. Honey, karakter kesayangan semua anak-anak di dunia, tentu saja BFG akan mengkategorikan mimpi tentang Miss. Honey menjadi mimpi phizzwizard emas.

Roald Dahl juga membuat satu bab khusus tentang Miss. Honey, sama halnya dengan tokoh lain di buku Matilda. Roald Dahl mendeskripsikan Miss. Honey sebagai, ‘Miss. Jennifer Honey adalah perempuan lembut dan tenang yang tidak akan pernah meninggikan suara dan jarang terlihat terlihat tersenyum, tetapi tidak diragukan lagi, dia memiliki bangkat langka yang membuatnya dipuja oleh setiap anak kecil dalam asuhannya.(hal. 71) Deskripsi yang diberikan oleh Roald Dahl menunjukkan bahwa Miss. Honey memang layak untuk menjadi guru.

Satu hal yang membuatku sedikit  terkejut saat membaca buku Matilda adalah, kenyataan bahwa Miss. Honey keponakan Miss. Trunchbull. Kenyataan ini ditemukan pada halaman 239 pada bab berjudul Nama-Nama. Naya penasaran, alasan Miss. Honey memberitahukan rahasia terbesar dalam hidupnya kepada Matilda. Matilda satu-satunya orang yang mengetahui itu langsung dari Miss. Honey. Menurut pendapat Naya, mungkin Miss. Honey menganggap Matilda sahabat terdekatnya, orang kepercayaannya. Tidak hubungan yang kaku antara guru dan murid. Mana mungkin ada guru yang mau menceritakan rahasia hidupnya pada anak kelas satu? Ya, kecuali jika guru itu benar-benar tidak punya teman atau orang yang bisa diajak bercerita sepanjang hidupnya. Tapi tentu saja itu mengerikan.

Naya juga menemukan kenyataan bahwa orangtua Miss. Honey sudah meninggal. Roald Dahl menuliskannya di halaman 226 dan 227. Miss. Honey yang malang hidup sebagai yatim piatu dan diasuh oleh bibinya yang kejam. Akan tetapi, walaupun Miss. Honey anak yatim piatu, dia tetap bisa bertahan di bawah asuhan Miss. Trunchbull yang menyeramkan. Itu juga menjelaskan bahwa Miss. Honey adalah orang yang lembut tetapi tidak berputus asa dan tidak mudah menyerah. Tetapi satu hal yang sangat mengangguku adalah, kenapa Miss. Trunchbull dan Miss. Honey tidak pernah akur? Lagipula, sifat mereka sangat bertolak belakang. Padahal mereka adalah bibi dan keponakan.

Lalu ada Matilda, sang tokoh utama. Dan mungkin tokoh idola anak-anak. Seperti tokoh sebelumnya, Matilda juga mempunyai bab khusus, judulnya Si Kutu Buku. Roald Dahl tidak mendeskripsikan fisik Matilda, hanya emosinya. Menurut Naya, Roald Dahl melakukan itu karena ingin menunjukkan pada anak-anak bahwa yang terpenting bukan fisik, seperti cantik atau berambut panjang. ‘maksudku, sensitif dan sangat cerdas. Matilda memiliki keduanya, tetapi di atas segalanya, dia luar biasa cerdas. Otaknya begitu cerdik dan dia cepat belajar sehingga kemampuannya pasti terlihat jelas, bahkan oleh orangtua yang sangat tidak memperhatikan.(hal.4). Tapi, seperti yang Naya ulas sebelumnya, orangtua Matilda sangat tidak memperhatikan semua itu. Mereka tidak peduli jika Matilda sebagai anak paling cerdas di dunia sekalipun. Keluarga itu begitu bodoh dan sombong.

Mudah sekali menemukan alasan orangtua Matilda tidak menyukai Matilda. Tentu saja karena sifat Matilda yang dideskripsikan oleh Roald Dahl. Pertama, Matilda anak yang suka membantah. Mana mungkin orangtua menyukai anak yang suka membantah? Orangua pasti ingin agar anak-anak selalu mendengar dan menurut semua ucapan mereka. Bantahan Matilda bisa kita baca di halaman 25, ‘’Makan malam adalah acara keluarga dan tidak boleh ada yang meninggalkan meja makan sebelum semua selesai!’ ‘Tapi, kita tidak duduk di meja,’ Matilda membantah.’ Kalimat ini menunjukkan jika Matilda mengkoreksi kesalahan yang dilakukan orangtuanya, tidak seperti anak-anak lainnya yang mungkin hanya mengangguk dan duduk diam.

Matilda dianggap sebagai anak yang sok pintar  atau sok tahu. Semua pembaca tentu tahu jika itu tidak benar. Orangtua Matilda saja yang terlalu bodoh untuk membedakan kenyataan atau  bualan.  Contohnya ada di bab berjudul Aritmetika. ‘Jangan ikut campur’ ayahnya menukas. ‘kakakkmu dan aku sedang membahas masalah finansial rumit’ ‘Tapi, Dad…’ ‘tutup mulut!’ ayahya membentak. ‘jangan menebak-nebak dan sok pintar!’ (hal 55-56). Tentu saja Ayah Matilda salah besar. Sebenarnya, aku tidak terlalu setuju dengan sikap Matilda. Jika aku jadi Matilda, aku memilih tutup mulut dan tidak memedulikan tiga orang bodoh yang tinggal serumah denganku. Untuk apa menanggapi orang bodoh dan keras kepala begitu?

Tetapi, Matilda memang tidak ingin tinggal bersama orangtuanya yang kejam itu. Dia ingin mencari orang yang mengerti dirinya seperti orangtua yang seharusnya. Dan, tentu saja, itu adalah Miss. Honey. Aku yakin, tidak ada satupun anak-anak yang ingin tinggal dengan orangtua yang tidak penyayang seperti keluarga Wormwood itu. Meski Matilda terlihat tidak begitu  memedulikan di mana dia tinggal  atau dengan siapa dia tinggal, tapi Matilda tetap anak-anak yang menginginkan orangtua yang layak, menyayangi dan memperhatikannya.

Setelah menganalisa, Naya jadi bertanya-tanya, apakah karakter dalam cerita Matilda bisa kita temui saat ini? Misalnya saja kepala sekolah seperti Miss. Trunchbull. Naya pikir, mungkin semakin sulit untuk  berbuat kejam kepada murid. Karena penindasan terhadap anak-anak, akan dilaporkan dan kemungkinan besar orang itu akan ditangkap.

Bagaimana dengan keluarga Matilda? Naya tidak yakin untuk mengatakan tidak ada. Tapi Naya juga tidak yakin untuk mengatakan ada. Menurut Naya, banyak orangtua yang ingin sekali anaknya terlihat cerdas atau jenius. Ingat! Terlihat, ya. Apakah anak itu benar-benar cerdas atau jenius? Mungkin anak mereka lebih suka bengong sambil memasukkan jari telunjuknya ke lubang hidung dan tidak mengerjakan apa-apa. Tetapi orangtua bilang, anakku sedang berpikir keras. Lucu sekali!

Nah, untuk Matilda, aku tidak yakin ada anak seperti dia. Anak-anak sekarang lebih suka menatap layar dengan membelalakkan mata sambil mulutnya membuka lebar. Aku yakin, walaupun dia dipaksa untuk membaca, mungkin hanya sanggup membaca satu-dua lembar saja lalu menaruhnya dan dia kembali kepada layar mereka. Dan jika ditanya, tentu saja mereka akan menjawab, sudah baca, kok! Matilda seharusnya bisa menjadi teladan untuk anak-anak. Ya, tidak semuanya.

Menurut Naya, seharusnya orangtua lebih memperhatikan anak. Orangtua harus punya lebih banyak waktu bersama anak. Orangtua juga harus belajar mendengarkan pendapat anak-anak, tidak seperti Mrs. dan Mr. Wormwood. Orangtua juga tidak boleh sembarangan memarahi, membentak atau menyuruh-nyuruh anak. Apalagi memaki mereka dengan kata-kata yang sangat tidak pantas. Guru juga begitu. Seharusnya guru lebih pengertian kepada anak, lebih sering mengajak anak-anak belajar dan bermain ke luar kelas, tidak memberikan banyak tugas dan pr, membebaskan anak-anak untuk belajar yang disukai anak-anak.

Oh ya, Naya hampir lupa. Roald Dahl suka memberi nama yang aneh pada tokoh-tokohnya. Menurut Naya, nama itu menyerupai sifat dan karakter tokoh. Misalnya, nama Wormwood. Apakah kamu tahu bagaimana perilaku cacing kayu. Atau mungkin Trunch Bull, kerbau yang selalu tegang sehingga marah-marah dan menyeruduk apa saja yang dia temui? Lucu sekali. Jadi, sekian kesimpulan dari persentasi Naya hari ini, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s