Orang-orang yang Ceroboh /8/

/8/

Sungguh aku tidak mau punya saudara seperti Kak Sulu. Cukup aku saja anak-anak satu-satunya di rumahku. Maksudku, bukan berarti aku tidak rela ada persaingan untuk berebut kasih sayang dari ibu dan ayahku. Aku pernah menguping perkataan ibuku ke orang lain, mengurus anak satu saja sudah pusing, apalagi tambah satu. Itu adalah pengakuan ibuku, entah jujur atau tidak, aku tidak tahu. Mungkin itu cara ibu untuk mengatasi keisengan tetangga yang suka bergosip, tapi aku akan mendukung keinginan ibuku itu. Ya, aku tidak mau bernasib seperti salah satu kucing milik Yuka yang suka bertengkar ketika berbagi makanan di satu wadah. Atau merengek sambil mengeong-ngeong demi elusan tangan yang membuatku terlihat malas dan konyol.

Aku sangat merasakan kekesalan Pina saat dia dipermalukan Kak Sulu. Dan aku tidak menerima kesialan itu bila terjadi padaku seumur hidup. Untunglah ibu tidak berniat memberiku kucing lain, eh, maksudku seorang saudara. Hmm… aku yakin kalau sebenarnya Kak Sulu berbuat begitu kepada Pina karena umur-kanaknya sudah kadaluwarsa, dan perhatian orangtuanya langsung berpindah seperti makanan yang terhidang di meja Pina. Kalian tahu, bukan, kalau Pina itu tambun dan Kak Sulu adalah remaja yang kerempeng. Tapi banyak yang menjuluki Kak Sulu seperti model remaja di televisi yang dipuji-puji, juga diisengi pemuda sebaya dia di sekitar kampungnya, maupun di kompleks perumahan. Lalu, apakah Kak Sulu senang menerima semua itu?

Kak Sulu memang pantas dikagumi, tapi aku ragu karena semua kebanggaannya itu semacam nyamuk yang berputar-putar di kupingnya. Kalian tahu kenapa? Karena ketika dia menakut-nakuti kami dengan cerita seram itu, artinya dia cemburu pada anak-anak. Kami selalu bahagia bermain Cari-Sembunyi, lompat tali karet, tarik tambang—maksudku tarik tali karet, dan lain-lain. Sementara Kak Sulu tidak mungkin lagi bisa bermain semua permainan itu bersama kami, orang tua maupun yang sebaya dia pasti akan mengejeknya begini, ih, enggak malu, sudah gede begitu masih kayak anak-anak! Ya, begitulah mulut orang dewasa.

Ada satu lagi yang membuatku ragu pada Kak Sulu, tentang Hantu Tihat. Menurutku hantu penculik itu adalah Kak Sulu sendiri, karena banyak sekali kemiripan antara mereka. Dulu aku pernah melihat Kak Sulu membagi permen kepada anak-anak sepulang dia sekolah, bahkan sampai mengajak ke ladang yang angker di seberang kampung Pina. Entah sejak kapan Kak Sulu jadi berubah seperti sekarang ini. Dia berubah menjadi Hantu Tihat dalam pikiran anak-anak. Sebelumnya aku juga pernah dibayang-bayangi hantu bikinan Kak Sulu itu, karena ada berita tentang anak-anak yang hilang tayang beberapa kali di televisi. Para orang tua di kompleks pun jadi tidak tenang dan membuat peraturan baru bersama. Ada banyak larangan akhirnya bagi anak-anak:

PERTAMA, anak-anak harus diantar-jemput setiap sekolah (ini sebetulnya ancaman karena waktu kami sebagai kanak-kanak diawasi dan terasa singkat sehari-hari),
KEDUA, dilarang keluyuran sendirian (Hmm… aneh sekali aturan yang satu ini, apa benar ada anak-anak yang sebodoh itu, kecuali dia sedang berjalan sambil tidur), KETIGA, dilarang main jauh-jauh (bersepeda bisa keasikan sampai sore, berenang di sungai bisa menyebabkan hanyut, mencari buah di ladang yang sepi bisa berakibat anak tersesat, bahkan main Cari-Sembunyi juga dianggap bahaya),
KEEMPAT, tidak boleh ngobrol dengan orang asing (aku bingung bagaimana kalau ada yang bertanya soal arah jalan, dan aku harus cepat-cepat kabur seolah melihat hantu),
KELIMA, anak-anak harus melapor (aku tidak mengerti apa maksudnya, apakah kami harus mengadu dan mengakui apa saja, meskipun kami cuma bercanda ketika berkelahi, mencuri barang teman di kelas, menyembunyikan kotak pensil teman yang pelit, meloroti celana orang lain, menjambak, bahkan mengejek teman sampai menangis).

Kalian tahu kalau semua daftar itu membuat kami menjadi pengecut dan menyia-nyiakan umur anak-anak kami. Dan setiap aturan semakin diperketat karena televisi yang pamer itu memperlihatkan anak-anak yang meninggal tanpa organ dalam tubuhnya. Aku mendengar kabar menakutkan itu semua dari ibuku dan tetangga-tetangga penggosip. Jadi intinya, kami tidak bisa memprotes apapun.

Oh iya, kembali lagi ke Kak Sulu. Setelah hari-hari menegangkan itu tamat di televisi, para orang tua bisa kembali bermalas-malasan di rumah dari pagi sampai sore. Peraturan pun pelan-pelan dilupakan. Dan kami adalah yang paling bahagia karena penculik misterius itu sudah dijerat, kecuali Hantu Tihat dari Kak Sulu. Tapi lama-kelamaan aku tidak memercayai ceritanya lagi. Siapa pun sudah tahu kalau anak-anak yang hilang itu bukan karena hantu. Jadi, aku tidak akan merinding dan mengompol di kasur cuma karena cerita bohong Kak Sulu. (NS)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s