Categories
Puisi

Betapa Pelupanya Aku

Aku tidak ingat omongan Bunda. Jika aku disuruh mandi, aku sering berkata, dua menit atau lima menit, dan itu pun dibangunkan. Dan itu pun aku sering mengeluh. Terkadang pun aku kembali berkata, dua menit lagi atau lima menit lagi. Sehingga aku sering telat datang ke sekolah. Tetapi di jalan aku mengeluh dan tetap menyalahkan Bunda.

Saat bunda berkata, ambil bekal di kantin sekolah, atau ‘habiskan nanti bekalnya’, aku malah tidak menghabiskannya. Aku malah bisa-bisanya tidak mengambil bekalnya. Lalu, hampir setiap hari atau malah setiap hari, aku, jika tidak diturut maunya, akan cemberut.

Selain itu, setiap ke sekolah, aku membawa botol minum. Bunda bilang, aku bisa dehidrasi jika tidak banyak minum air putih. Jadi aku harus menghabiskan sebotol air putih. Tapi terkadang, aku lupa minum air putih karena keasyikan bermain engklek bersama teman-teman di sekolah. Aku hanya sempat minum air putih saat mau mulai belajar saja.

Sementara saat di rumah, sama seperti saat di sekolah. Di rumah, aku sering sekali lupa minum air putih atau air mineral. Alasannya sama, asik bermain. Tapi tidak dengan teman-teman sebaya atau seumuran. Melainkan orang dewasa. Di rumah ada tante Novi dan om Bigmen. Mereka juga pegawai Kedai Mare. Jadi, setiap hari om Bigmen dan tante Novi datang ke rumah. Kecuali hari libur, yaitu hari selasa dan hari yang bunda bilang untuk tidak usah masuk atau libur lainnya.

Tentu aku kelupaan saat bermain. Padahal kata Bunda ada waktunya untuk bermain dan ada waktunya untuk hal lain. Dan aku juga lupa kewajibanku yang harus aku lakukan, seperti salat, menulis diari, meditasi, dan lainnya. Aku juga sering tidak meminta maaf walau aku sudah melakukan sesuatu yang salah. Seperti, sehabis mandi aku tidak langsung melakukan kegiatan tadi, salat dan meditasi. Bunda sering menegur hingga memarahiku karena aku lupa kewajibanku. Tapi aku tetap tidak meminta maaf.

Dan yang paling lucunya, Bunda yang mengingatkan aku untuk meminta maaf. Kan lucu?! Dan setelah bunda mengatakan itu, aku langsung minta maaf. Tapu lucunya, bunda juga sering berkata, kamu kalau minta maaf itu disuruh baru mau. Lagian kamu sering mengulangnya lagi. Minta maaf itu artinya juga tidak melakukannya lagi.

Aku sadar bahwa minta maaf itu tidak harus disuruh dulu. Saat meminta maaf, kita harus sadar dan tahu kesalahan kita. Dan aku juga harus ingat kewajibanku. Karena aku tidak ingin bundaku marah-marah dan jadi banyak pikiran. Kata om Mimo, jika bunda marah-marah terus, bunda bisa sakit stroke dan bisa meninggal. Jadi, aku tidak ingin melupakan kewajibanku lagi.

Yogyakarta, 16 Februari 2018

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s