Categories
Prosa

Pelangi Hitam

Di sebuah desa yang jauh, ada seorang anak laki-laki yang tinggal bersama ibunya. Ibunya adalah pembuat ramuan ajaib yang terkenal di seluruh negeri. Ramuan yang dibuat oleh ibunya bermacam-macam dan memiliki nama yang aneh. Ada ramuan Beltosa, Ablokaso, Entophie, dan ramuan-ramuan lainnya. Semua ramuan tersebut disimpan ibu dalam botol kaca. Ada botol berbentuk segitiga, bulat, bahkan ada botol seperti kerbau. Tetapi anak laki-lakinya itu sangat nakal. Ia sering bermain di ruang ramuan dan mengacak-acak ramuan milik ibu. Kadang-kadang ramuan itu tumpah atau botolnya pecah. Tapi ibunya tak pernah marah.

 

Suatu hari, ibu ingin pergi ke makam ayah. Ia berpesan pada anak laki-lakinya. ‘Jaga rumah ya dan jangan nakal’. Anak laki-laki itu tersenyum. ‘Baik bu’, jawabnya. Begitu ibu menghilang, ia kembali bermain-main dengan ramuan ajaib. Asap berwarna-warni memenuhi rumah. Ada juga bau permen karet, es vanilla, bahkan bangkai tikus. Anak laki-laki itu kelelahan. Ia ingin tidur siang. Tapi ia lupa menutup sebuah botol ramuan berbentuk segitiga.

Ramuan itu bernama Koblosius. Asap hitam memenuhi rumah. Terbang lewat jendela hingga ke langit. Anak laki-laki tidak tahu karena ia sudah tidur. Di luar langit mulai cerah, tadi turun hujan. Ibu akhirnya sampai di rumah. Ibu terkejut melihat botol ramuannya berantakan. Ia berlari ke halaman. Di langit pelangi telah berubah warna menjadi hitam, tidak lagi berwana-warni.

 

Ibu membangunkan anak laki-lakinya. Ibu bertanya pada anaknya, ‘kamu tadi lupa menutup botol Koblosius?’. Anak itu diam saja. ‘Kamu tahu Koblosius itu ramuan untuk apa?’, anak laki-lakinya menggeleng. ‘Itu ramuan untuk merubah pelangi menjadi warna hitam’. Si anak laki-laki berlari ke halaman. Ia melihat langit. Ia terkejut. Pelangi sudah berubah menjadi hitam.

 

Anak laki-laki itu ketakutan. Ibu hanya tersenyum, memeluk anaknya. Ibu tidak pernah marah walau anaknya sering nakal. Penduduk meminta Ibu membuat ramuan Koblosius. Mereka bosan dengan warna pelangi. Mereka ingin agar pelangi berwarna hitam saja, unik kata mereka. Tapi ibu masih belum ingin memberikannya kepada penduduk’. Anak lelaki memandang ibunya. ‘Tidak apa-apa. Penduduk sekarang sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan’. Mereka masuk ke dalam rumah. Pelangi telah berubah menjadi hitam.

 

 

2016

By Abinaya Ghina Jamela

Dilahirkan di Padang, 11 Oktober 2009. Buku pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya: Sehimpun Puisi, diterbitkan Kabarita, 2017. Buku tersebut mengantarkan Naya memperoleh penghargaan Tanah Ombak Award, Penulis dan Buku Puisi Puisi Terfavorite 2017 versi Goodreads Indonesia, Longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Perdana, dan perwakilan Provinsi Yogyakarta dalam pemilihan Kehati Award 2018 kategori Tunas Lestari Kehati, Kementerian Lingkungan Hidup. Naya juga menulis buku-buku; Aku Radio bagi Mamaku: Kumpulan Cerita (2018), Mengapa Aku Harus Membaca? :Tulisan Non Fiksi (2019) dan Rahasia Negeri Osi: Novel (2020). Naya juga merupakan penggagas komunitas Rumah Kreatif Naya dan komunitas Sahabat Gorga.
Naya bisa dijumpai melalui akun Facebook, Instagram, dan Twitter, Abinaya Ghina Jamela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s