Naya dan Pelajaran Menulis

20151117_100850[1].jpg

Naya sudah bisa menulis? Sudah! Sejak kapan? Sejak ia bisa membaca dengan lancar. Apakah tulisan Naya rapi dan bagus? “Ya”, jika saya menjawab dari kacamata anak seumuran Naya, tapi “tidak”, jika saya menjawab dari sudut pandang orang dewasa yang pikirannya sudah terdoktrin selama bangku sekolah dengan latihan menulis “tegak bersambung”. Apa yang saya lakukan sebagai ibu untuk membuat tulisan Naya menjadi lebih rapi? Hingga kemarin, terus terang tidak ada.

Untuk urusan bagaimana cara menulis yang rapi dan “bagus”, saya terus terang tidak menjejali Naya dengan banyak aturan atau rambu-rambu yang mesti ia patuhi. Bagi saya tulisan Naya bisa dibaca tanpa menambah kerut di dahi saya, itu keren. Naya bisa dan mau menulis, itu sudah lebih dari cukup bagi saya -saat ini-. Salah satu hal yang menyebabkan tulisan Naya tidak rapi adalah penempatan dan penggunaan huruf kapital yang “sekenaknya” dalam kalimat, sehingga huruf-huruf menjadi “menggelembung” dan kurang sedap dipandang mata.

Selama Naya menulis, yang menjadi perhatian saya justru bukan “rapi atau tidak, bagus atau tidak”nya tulisan, tapi lebih kepada isi, dan struktur kalimat yang digunakan Naya (penggunaan dan penempatan subjek dan predikat, penggunaan kata hubung untuk memenggal kata, penggunaan titik dan koma sebegai jeda, atau juga kelogisan dalam kalimat yang Naya bangun). Ah buat apa cariernya bagus sementara contentnya ga jelas dan seringkali sampah? Sesuatu yang selama bertahun-tahun menjamur di otak banyak para orangtua dan kalangan dunia pendidikan kita. Penampilan harus di atas segala-galanya. Otak digunakan atau tidak, itu nomor kesekian. Dan saya mencoba untuk tidak mempraktikkan hal tersebut, salah satunya dalam kegiatan menulis Naya.

Silahkan perhatikan beberapa foto dari tulisan tangan Naya. semerawut bukan? kalau kata abegeh sekarang, ga estetis sama sekali.  Lalu hingga kapan tulisan Naya demikian? Hingga dia menyadari bahwa dia sudah melakukan beberapa kekeliruan dalam menulis. Dan kemarin salah satu waktunya.

Mengikuti placement test Bahasa Inggris di Kumon, Naya sempat protes karena salah satu jawabannya, yang dia anggap benar disalahkan oleh instruktur, yakni melengkapi huruf-huruf diantara deretan alfabet, sehingga membuat Naya tidak bisa mendapat penilaian sempurna. Huruf yang seharusnya ditulis “g” dituliskan Naya “G”. Jika merunut pada kebiasaan Naya (menuliskan huruf kapital dan huruf kecil sesuka hatinya dalam kalimat), maka tidak ada yang salah. Naya sudah tepat mengisi itu dengan huruf “G”. Tetapi ketika berhadapan dengan penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka pekerjaan Naya totally wrong!.

Sepanjang malam Naya tidak berhenti menanyakan dan memikirkan kesalahan tersebut. Pagi ini, ia meminta saya untuk menjelaskan dan mengajarkannya bagaimana cara menulis huruf kapital dan huruf kecil yang benar. Saya melihat betapa ia terbata-bata dalam menulis: sesuatu yang biasanya bisa ia selesaikan dalam waktu singkat, sekarang membutuhkan waktu lebih lama. Tapi karena keinginannya, maka ia akan lebih tekun.

Saya kemudian meminta pendapat Naya, dengan cara membandingkan tulisan-tulisannya terdahulu dengan apa yang ia kerjakan pagi ini. Jawabannya singkat: tulisan Naya lebih rapi dan bagus ya Nda. Bingo! Naya akhirnya bisa menemukan dan mengeroksi kekurangan dan kesalahannya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s