Telapak Tangan Naya, karya Naya. Mei, 2015 Pensil warna di atas kertas.
Telapak Tangan Naya, karya Naya.
Mei, 2015
Pensil warna di atas kertas.

Trakus anjing ajaib berkepala kucing dan bertelinga tikus sangat suka berjemur. Ia selalu berkeliling mencari matahari, agar bulu-bulunya yang seperti ilalang bisa tetap indah dan bercahaya. Seperti pagi ini, ketika Lajams si jam kesayangannya berkata, pukul lima pagi, pukul lima pagi, dengan suara yang menyayat gendang telinga, Trakus pun bergegas bangun dan berjalan ke luar rumah.

Wah, matahari sudah tinggi, ujar Trakus sembari mengibas-kibaskan ekor panjangnya yang menyerupai ekor sapi.

Aku harus bergegas berjemur, tapi sebaiknya aku makan dulu, oceh Trakus sembari memegang perutnya yang berbunyi menyerupai roda kereta yang masuk ke dalam lubang. Trakus mengambil jalan yang biasa ditempuh. Sudah tentu menuju lapangan yang dipenuhi rumput trust. Semoga tidak ada manusia yang berburu hari ini, aku sudah terlalu lapar. Trakus mempercepat langkah agar tidak didahului manusia.

Trakus sangat pemalu. Ia tidak suka terlihat manusia. Jika di lapangan terdapat satu atau dua orang manusia yang tengah mencari rumput trust coklat sebagai bahan dasar obat-obatan, maka ia lebih memilih menunda makan. Ia bisa bertahan tanpa makan sepanjang dua minggu dan hanya meneguk air dari sungai merah jambu.

Suatu masa, ketika Trakus asik menikmati rumput trust orange, seorang manusia yang juga sedang mengumpulkan rumput trust coklat  melihatnya dan menjadi begitu kegirangan. Trakus mahkluk langka dan sukar ditemukan. Karena teramat bahagia, manusia tersebut meraba Trakus yang tengah menikmati makanannya. Manusia lupa bahwa rumput trust orange menjadikan tubuh Trakus seperti bara api. Manusia tersebut kaget dan lari sembari berteriak kepanasan. Sejak kejadian itu, Trakus menjadi semakin pemalu dan tidak ingin terlihat oleh manusia.

Trakus pun sampai di lapangan trust. Tetapi manusia sudah memadati tempat tersebut. Tidak hanya satu atau dua orang, tetapi lapangan dipenuhi oleh manusia. Trakus jadi bertanya-tanya apa yang sedang terjadi?Dari cerita-cerita yang dia dengar, terutama dari ayahnya, tidak pernah ada manusia sesesak ini di lapangan trust. Trust coklat memang dibutuhkan oleh manusia sebagai bahan dasar pengobatan, tetapi biasanya yang berkunjung ke tempat ini hanya satu atau dua orang: mereka yang dipanggil Mendust saja.

………………………………………… Tunggu kelanjutan kisah Trakus si Pemalu.

Mei, 2015

*Adaptasi dari cerita petualangan dan tokoh-tokoh dalam gambar karya Naya.

Catatan Bunda:

Suatu pagi ketika baru saja bangun tidur, Naya bercerita tentang mimpinya. Saya lalu teringat pada pembicaraan dengan seorang jebolan seni teater sekolah tinggi di Bandung: mengembangkan imajinasi anak, membangun karakter dan setting dari imajinasi tersebut.

Saya menyodorkan buku gambar kepada Naya dan meminta naya untuk menvisualisasikan lewat sketsa, mimpi tersebut. Naya kemudian menggambar Trakus, lajams, sungai merah jambu, rumput trust, rumah laust, matals, juga desa Les. Awalnya saya katakan: bunda belum paham tentang gambar Naya- sebab dia menaruh benda-benda tersebut seenaknya di kertas. Lalu dia berinisiatif menuliskan nama di atas gambar-gambar tersebut. Saya pun mengangguk-angguk. Tapi bunda masih belum paham, apa hubungan rumput trust dengan Trakus dan lajams? Tanya saya berikutnya. Dan naya pun mulai asik membangun karakter dan setting dari gambar pada kertas tersebut sehingga menghasilkan cerita ini. Saya mengingat-ingat kembali ide-ide Nermi dalam mengembangkan imajinasi anak-anak, hal tersebut berhasil pada Naya di suatu pagi.

One response to “Trakus Si Pemalu*”

Leave a reply to Trakus Si Pemalu* | Yona Primadesi Cancel reply

Trending