10 hari setelah istrimu tak kembali ke rumah.
Rasanya tak ada yang berubah: kebiasaanmu bangun setelah matahari cukup tinggi, membasuh mukamu ala kadarnya, meneguk segelas air, membakar sebatang rokok, kemudian asik dengan konsol gim di ruang tengah rumahmu sepanjang hari. Kau hanya berhenti ketika tubuhmu merasa sudah waktunya makan. Kalau sudah begitu, kau sejenak mencoba mengingat hari, memastikan apakah istrimu berada di rumah atau tidak.
Kau selalu tahu kebiasaan istrimu saat ia berada di rumah: di depan perangkat komputer bekas yang dia beli beberapa bulan lalu yang diletakkannya di kamar tidur kalian. Kau sempat berdebat dengannya perkara di mana seharusnya komputer tua itu diletakkan. Kau selalu merasa terganggu sejak benda rongsok itu ada di kamar kalian, terlebih setiap kali kau bangun tidur. Kau selalu bisa memastikan istrimu sudah duduk di sana, di depan layar monitor, seakan benda rongsok itu hal yang paling dia sukai. Dia hanya menoleh sebentar saat sadar kau sudah bangun, menyapamu ala kadarnya, lalu kembali asik dengan papan keyboard dan pikirannya.
Kau selalu merasa terganggu, lebih tepat merasa terabaikan. Kau terganggu karena kebisingan kecil setiap kali jari-jari istrimu menyentuh permukaan tuts keyboard yang sebagian tulisannya telah memudar dan menguning, tak ubahnya kecerewatannya setiap kali kau keliru meletakkan handuk sehabis mandi, menarik kaos kesukaanmu dari tumpukan pakaian di lemari seenaknya, atau pesan-pesan bernada mesra dari teman-teman perempuanmu yang masuk ke telepon genggammu yang tak pernah luput dari jangkauan sudut matanya. Memekakkan telinga. Terlebih menurutmu bangun tidur adalah waktu yang ideal untuk kalian bermesraan, terutama saat tidak ada Kei.
Tapi istrimu perempuan keras kepala. Dia ngotot jika barang rongsok itu harus diletakkan di kamar tidur kalian. Alasannya sederhana, agar dia lebih gampang setiap kali ingin menulis. Kau mengira itu semata siasat liciknya untuk membalaskan kejengkelan-kejengkelannya padamu. Bagaimana tidak, ketika dia sedang kesal, dia akan menekan tuts keyboardnya lebih kencang dan bertenaga dari biasanya. Dia seperti ingin memberitahumu jika dia mampu mengubah waktu istirahatmu sebising kemacetan jalan raya di kotamu di setiap senin pagi, memberi tahumu jika dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, tidak peduli kau suka atau tidak.
Kau meletakkan konsol gimmu di meja, meraih sebatang rokok yang sejak tadi kau biarkan terbakar dan nyaris habis dari bibir asbak, menghisapnya dalam-dalam, dan meletakkannya kembali. Sekarang hari selasa, istrimu seharusnya di rumah jika dia tidak punya jadwal dadakan dengan teman-teman atau kliennya. Hal terakhir sering mengusikmu, terlebih orang-orang yang dia sebut klien yang dia temui akhir-akhir ini sebagian besar adalah laki-laki. Bukan karena kau tidak mempercayai istrimu. Tapi entah mengapa kau merasa jika beberapa minggu belakangan gerak-gerik istrimu mencurigakan yang bikin kalian semakin intens berdebat. Kau pernah sekali memaksa untuk menemaninya. Memangnya Mas nggak sayang ninggalin gimnya? begitu ucapnya dengan ekspresi mengejek. Kau tahu jika itu sendiran dan tentu saja harga dirimu terasa tersentil. Sejak itu kau tidak pernah lagi menawarkan diri, menutup mata dan telingamu, meski lebih sering kalian memperdebatkannya yang berakhir dengan adegan dia menangis di pojok kamar tidur atau kamar mandi.
Kau bangkit dari dudukmu, melangkah malas menuju kamar tidur. Langkahmu mendadak terhenti. Kau berdiri mematung di sana, beberapa langkah dari pintu kamarmu yang terbuka lebar. Kau tersadar jika istrimu tidak ada di sana, di depan barang rongsok yang dia letakkan di kamar kalian beberapa bulan sebelumnya. Komputer itu tidak pernah dinyalakan, setidaknya sepuluh hari terakhir. Tidak ada kebisingan tuts keyboard yang menganggumu. Tidak ada lagi omelan istrimu setiap kali kau melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang membuatnya jengkel. Sudah hampir sepuluh hari istrimu tidak pulang.
Kau tidak menaruh curiga apapun saat dia meminta ijin padamu untuk mengantarkan Kei ke rumah orangtuamu. Menjemput dan mengantarkan anak kalian ke rumah orangtuamu sudah jadi rutinitas yang membuatnya bahagia sekaligus sedih. Dia bahagia ketika tahu akan bertemu Kei, menghabiskan banyak waktu bersama. Dia bersedih ketika tiba waktunya mengembalikan Kei ke rumah orangtuamu. Sesuatu yang sejak empat tahun lalu sangat dibencinya. Ia menyimpan banyak kemarahan karenanya.
Pernah sekali istrimu mencoba bertindak bodoh, membawa Kei pergi. Tentu saja tidak sulit bagi orangtuamu untuk menemukan mereka. Imbasnya bukan hanya pada istrimu, tapi kau semacam piring untuk makan malam orangtuamu yang kelaparan, terutama ayahmu. Mereka menjejalkan apa saja ke sana: kau suami yang tidak mampu mengendalikan dan mengatur istrimu yang liar, ayah yang tak punya kuasa untuk menjaga dan melindungi anakmu. Padahal kau tahu, istrimu tak lebih sekadar cek ombak. Dia tahu mustahil untuk membawa Kei tanpa diketahui atau ditemukan mereka. Dan setelahnya, tentu saja kau membagi porsi yang hampir sama banyaknya pada istrimudi rumah .
Perkara di mana anak kalian tinggal memang dilema bagi kau dan istrimu. Dia bersikeras agar Kei tinggal bersama kalian. Seperti biasa, dia dengan penuh percaya diri merasa mampu berbuat dan melakukan apa saja untuk Kei. Sementara orang tuamu punya pemikiran sebaliknya. Kau tak membantah ketika ayahmu meminta Kei, anak kalian, tinggal bersama mereka. Alasannya karena kau dan istrimu masih terlalu muda, yang tentu saja membuat istrimu marah bukan kepalang.
Kau belum lupa kejadian sore itu ketika ayah dan ibumu meminta kalian meninggalkan Kei di rumah mereka. Padahal awalnya alasan kunjungan kalian semata karena orangtuamu ingin mengenalkan istrimu dan Kei pada ketiga adikmu. Tidak ada sama sekali pembicaraan jika Kei akan ditinggalkan bersama mereka, jauh darimu dan istrimu. Tentu saja istrimu histeris. Dia merasa dibohongi. Dia memintamu untuk membujuk kedua orangtuamu. Aku tidak akan kembali tanpa Kei, ucapnya berulang-ulang. Kau berusaha membujuknya. Katamu mencoba menenangkannya, Kei tinggal sama Papa dan Mommy. Mereka sayang Kei. Lagian jarak ke sini cuma 4 jam. Kamu bisa bertemu Kei kapanpun kamu mau. Tapi istrimu sungguh perempuan yang keras kepala. Dia memeluk anak kalian yang bahkan belum genap tiga puluh hari itu erat-erat, tak berniat melepaskannya. Kei mulai resah dan menangis. Kau mencoba melepaskan dekapan istrimu setengah memaksa. Ibu dan kedua adik perempuanmu membantumu.
Istrimu berteriak dan meronta histeris. Aku tidak akan pergi tanpa anakku. Kalian semua culas! Ucapnya berulang-ulang. Tentu saja tingkahnya membuat kalian panik. Kalian belum pernah menghadapi perilaku sebarbar itu. Istrimu kelelahan, dia kehabisan tenaga. Istrimu kalah dalam pertarungan yang dia ciptakan sendiri. Ibumu tergesa mengambil Kei dari tangan istrimu, menenangkan Kei. Istrimu masih terisak, masai. Jangan ambil anakku, aku mohon! Jangan ambil anakku! Kalimat itu terdengar berulang-ulang di sela isaknya, hingga melemah. Kau acuh.
Dan setiap kali kalian bertengkar, dia akan membahas dan mengulang kalimat yang sama, Kau tak lebih dari bocah pengecut dan orang tuamu culas! ucapnya berapi-api, yang sudah tentu akan membakar amarahmu seakan-akan dadamu dipenuhi bara yang tersulut seketika. Tentu saja sebagai suami kau merasa perlu mendidik istrimu. Menurutmu, orang tuamu telah berbaik hati mengambil peran dan tanggungjawab untuk merawat dan membesarkan Kei selama kalian disibukkan oleh urusan masing-masing. Tamparan di pipinya selalu jadi pengingat kecil ketimbang kebencian yang dilontarkannya berulang-ulang. Istrimu seperti terbiasa, seakan rutinitas yang harus dia lewati setiap kali dia selesai melampiaskan kemarahannya padamu.
Pernah suatu ketika kau memilih diam, tidak memedulikannya. Responnya justru di luar dugaanmu. Dia memang perempuan keras kepala dan sulit diatur. Dia tidak akan berhenti menjejalimu dengan kalimat-kalimat sarkas. Dia lebih menyukai tamparanmu ketimbang sikap acuhmu. Jika sudah begitu, tentu saja kau memberi peringatan yang lebih keras padanya. Tak jarang istrimu berakhir di pojokkan dengan wajah babak belur. Awalnya kau merasa sangat bersalah. Tapi istrimu perempuan batu, liar, kadang gila, seperti yang sering kau lontarkan padanya. Kau merasa itu satu-satunya cara mendiamkannya.
Di banyak kesempatan, kau menemani istrimu saat menjemput atau mengantar Kei ke rumah orangtuamu. Terutama jika kau yakin kepulanganmu tidak berujung penghakiman atau cecaran dari orangtua dan saudara-saudaramu. Tapi istrimu lebih sering melakukannya sendirian. Dia terbiasa melakukan apapun sendirian. Dia tidak pernah keberatan. Setidaknya begitu yang kau tahu.
Kau ingat jika tidak menggubrisnya malam itu. Kau masih kesal pada istrimu, perkelahian kalian. Lagipula meski kau melarangnya, dia akan tetap melakukan apapun yang dia mau. Dia memang perempuan paling keras kepala yang pernah kau temui. Dia kembali ke kamar tidur dan kau memilih sofa untuk malam itu.
Istri dan anakmu sudah tidak berada di kamar ketika kau bangun keesokan harinya. Mereka pasti pergi pagi-pagi sekali, pikirmu. Kau mengambil telepon genggammu bermaksud menghubunginya sekadar memastikan kondisi mereka. Tapi kau urung. Biarkan saja, dia sudah biasa melakukannya. Lagipula kau masih kesal pada istrimu. Kau tidak mencoba menghubunginya, bahkan berhari-hari setelah itu hingga sebuah panggilan telepon dari Ibumu di suatu malam menyadarkanmu jika istrimu tidak pulang ke rumah kalian setelah dia mengembalikan Kei pada orangtuamu.


Leave a comment