Kau terbangun. Setengah tersadar melirik jam weker di meja sisi kiri tempat tidurmu. Masih pukul dua lewat empat puluh menit. Meski kau sudah terbiasa dengan semua kegaduhan itu, tapi kau tetap saja terjaga. Kau akan selalu berusaha bangkit dari tempat tidurmu dengan malas, meninggalkan kasur dan selimutmu yang hangat dan nyaman, melangkah menuju dapur rumahmu yang letaknya persis di sebelah kamarmu, sekadar memastikan jika sumber semua keributan itu tak lain perempuan paruh baya yang selama tujuh belas tahun terakhir hidup bersamamu.
Telapak kakimu belum sempat menginjak ubin dingin lantai kamarmu ketika dari arah dapur kau mendengar siul panjang dari ujung mulut ceret. Samar kau bisa membayangkan uap yang saling berdesakan, berebut menyelinap keluar dari katup ceret di atas kompor yang masih menyala. Terdengar bunyi klak yang kasar. Kau sudah tidak asing dengan suara kenop kompor itu, yang usianya hampir setengah usaimu. Seketika suasana kembali hening layaknya sisa malam.
Perempuan paruh baya itu dengan ujung jempol kanannya akan membuka katup ujung ceret, memegang gagangya, untuk kemudian mengangkat siku tangannya hingga badan ceret membentuk sudut empat puluh lima derajat dari kaki-kaki pan support. Sementara tangannya yang lain cekatan mendekatkan badan mug keramik kesukaannya ke arah mulut ceret. Uap panas berhamburan bersamaan air yang mengalir memenuhi mug di tangannya. Setelah dia merasa mug terisi air dengan cukup, perempuan paruh baya itu akan menurunkan siku kanannya hingga ceret kembali berada ke posisi semula.
Dia kemudian meraih kotak kecil dari bahan kaleng berwarna biru bermotif sebuah pedesaan asri ala eropa dari rak persis di atas kompor, membuka tutupnya dengan mengungkit sela-sela penutup menggunakan ujung kukunya, mengambil satu kantung teh dari sana, melilitkan benang dari kantung teh di ujung jari telunjuk kanannya, untuk kemudian mencelupkannya berulang kali ke dalam mug keramik yang telah terisi air panas. Dia lalu melangkah menjauhi meja kompor, menuju jendela kaca lebar yang berada di sisi lain dapur. Dia akan menggeser sebuah kursi rotan yang di bagian dudukannya beralaskan busa berbentuk oval berwarna krem menggunakan kaki kirinya, hingga kursi tersebut berada persis di tengah dan menghadap jendela kaca lebar itu. Dia berhenti mencelup-celupkan kantung teh, melepaskan benangnya dari ujung jari, kemudian melemparkannya ke tempat sampah kecil di sudut ruangan, tak jauh dari tempatnya berdiri.
Kau lupa, entah sejak kapan perempuan paruh baya itu menyukai teh kantung. Dulu dia sangat membencinya. Dia lebih menyukai menyeduh teh menggunakan teko mungil transparan yang memiliki penyaring di ujung mulut teko. Argumennya, kantung teh yang kecil membatasi daun-daun teh untuk mengembang sempurna ketika bertemu air panas. Kantung kecil itu akan membuat teh kehilangan aroma dan rasanya. Tapi semua berubah di suatu siang, ketika dia menerima sebuah paket kecil yang berisi sekotak teh celup dengan citarasa blueberry. Perempuan paruh baya itu seakan mengalami demensia dan melupakan semua ketegangan yang pernah dia timbulkan dengan siapa saja saat berdebat perkara teh seduh dan teh celup. Bukan cuma itu, dia juga menyukai teh dengan aneka rasa, terutama blueberry. Kau tidak pernah bertanya apalagi mendebatnya. Kau merasa sudah saatnya dia melakukan apapun yang dia inginkan tanpa perlu berbantahan atau meyakinkan siapapun jika kali ini pelihannya tepat.
Dia lalu merogoh kantung celana tidurnya, mengeluarkan telepon pintarnya, menekan beberapa tombol virtual di sana, kemudian meletakkannya pada sebuah meja panjang yang berada persis di sebelah kursi rotan. Sayup dari kamarmu kau bisa mendengar alunan lagu yang dua atau tiga kali lebih tua dari usiamu, dari telepon pintar perempuan paruh baya itu. Tidak terlalu lantang, tetapi cukup untuk membuatmu hapal setiap urutannya meski kau masih setengah mengantuk, meski pukul tiga pagi.
Dia kemudian duduk di kursi rotan menghadap jendela berkaca lebar di satu sisi dapurmu, memegang badan mug keramik dengan kedua telapak tangannya, mendekatkan ke wajahnya, kemudian menghirup dan menikmati uapnya. Ia akan menyesapnya sesekali sebelum meletakkan mug keramik itu tak jauh dari telepon pintarnya, kembali menatap ke arah luar jendela berkaca lebar di dapurmu. Kau kadang menikmati momen itu melalui pantulan bayangan dari kaca jendela lebar di hadapan perempuan paruh baya itu. Akan tetapi setiap kali mengingat wajahnya, hatimu seperti diremas dengan sekuat tenaga oleh lima jari gempal dan kekar.
Kau ingat perempuan paruh baya itu pernah bercerita sekali mengenai jendela berkaca lebar di satu sisi dapurmu. Katanya dulu sekali setiap dia di dapur memasak untukmu, kau akan selalu menemaninya sambil membaca buku-buku kesukaanmu di meja makan kecil. Suatu hari kau menyeletuk tentang nikmatnya membaca sambil menemaninya memasak, dan pandanganmu tidak terhalang untuk menatap suasana di luar melalui kaca jendala lebar. Tak lama berselang dua lelaki yang kemudian kau tahu sebagai tukang bangunan menjebol salah satu sisi dinding di dapur rumahmu, memasang bingkai jendela berkaca lebar di sana. Bahkan perempuan paruh baya itu meletakkan sebuah sofa empuk berwarna hijau di hadapan jendela berkaca lebar yang membikinmu betah berlama-lama duduk di sana sambil menemaninya memasak apa saja. Sofa itu berubah tua dan kumal sehingga dia membuang dan menggantinya dengan sebuah kursi rotan.
Ketika jendela berkaca lebar itu rampung, kau girang bukan main. Kau tak berhenti memujinya sebagai perempuan cerdas yang selalu mengerti semua keinginan dan kebutuhanmu. Apalagi sisi yang dia pilih untuk menempatkan bingkai kaca lebar itu membuat siapapun yang duduk di sana memiliki pandangan menyeluruh ke setiap sudut halaman belakang rumahmu. Kau bisa menikmati pohon mangga yang sedang berbuah, burung-burung yang berterbangan membuat sarang di dahannya, bunga lili yang mekar, bahkan wajah tanpa ekspresi perempuan itu saat memetik buah berry dari kebun kecil miliknya. Tapi beberapa bulan terakhir, dia lebih suka duduk di sana terutama dini hari, ketimbang kau dengan buku-bukumu.
Kau merasa terganggu mulanya. Bukan hanya karena waktu istirahatmu tersita sementara keesokan paginya kau sudah harus bersiap berangkat ke sekolah. Tetapi hal aneh yang dia lakukan di setiap pagi buta itu benar-benar tidak baik untuk kesehatannya. Terlebih dia punya kebiasaan untuk berangkat tidur setelah pukul dua belas malam, dan selalu terjaga dua atau tiga jam setelahnya sekadar untuk menyeduh teh dan menatap ke luar jendela berkaca lebar di dapur rumahmu.
Kalian sering berdebat masa itu, yang selalu ditutup oleh cuplikan adegan perempuan paruh baya itu membakar sebatang rokok, menghirupnya dalam-dalam, dan membuangnya. Kau tahu dia sudah lama berhenti merokok. Bahkan sepanjang usiamu, dia tidak pernah melakukan itu di dalam rumah, apalagi di hadapanmu. Kau kemudian memilih mengalah hingga akhirnya hal itu menjadi kebiasaan yang dilakukannya hampir setiap hari: bangun dini hari, menyeduh teh, memutar beberapa lagu berulang kali, dan menatap ke luar jendela.
Kadang kau hanya melihat tatapannya yang jauh, mencoba meraba sesuatu yang kau tidak pernah ada di situ. Kadang kau melihatnya menangis diam-diam. Kau lebih sering tidak melakukan apa-apa, hanya menatap pantulan dirinya dari pintu kamarmu. Tapi kadang kau mendekat dan merangkulnya dari belakang. Saat itu, dia akan tergesa menghapus air matanya menggunakan ujung jari, seakan tak ingin kau tahu jika dia sedang bersedih. Dia akan bertanya apa dia sudah menganggu waktu istirahatmu. Kau menggeleng sambil mencium rambut di ubun-ubun kepalanya yang aromanya selalu kau suka: manis apel. Kau akan mengatakan sambil berbisik jika sebaiknya dia beristirahat. Dia mengangguk meski kau tahu dia tidak akan mendengarkan saranmu. Kau mencium pipinya untuk kemudian kembali ke kamarmu.
Kau akan kembali naik ke ranjangmu berkasur empuk, menarik selimutmu yang hangat. Tentu saja kau tidak bisa langsung memejamkan matamu meski kau masih begitu mengantuk. Semua kebiasaan perempuan paruh baya itu benar-benar mengusikmu. Bukan sekadar waktu istirahatmu, melainkan mengusik semua narasi-narasi baik dan hebat yang selama ini kau susun jadi sebuah cerita luar biasa tentang perempuan paruh baya itu, ibumu!


Leave a comment