Kau memimpikan ibumu.

Kau mungkin berusia empat tahun ketika ibumu menghilang. Ibumu, perempuan yang selalu kau ingat sebagai kembang api: meledak-ledak, penuh kejutan, selalu bisa membuatmu tersenyum bahkan tertawa, tapi tak bertahan lama. 

Tak banyak yang dia tinggalkan untuk kau kenang: cara dia menggelung rambut lurusnya tinggi-tinggi, menjempitnya dengan jepitan besar bergerigi yang menyisakan helai-helai halus di tengkuknya, yang saat dia memiringkan kepalanya sekadar untuk mencium keningmu atau menjawil pipimu, seketika aroma apel segar yang baru dikupasnya berhamburan memenuhi hidungmu. Kau menyukainya, seperti kau yang selalu meloncat kegirangan setiap kali ibumu mengajakmu bertualang ke hutan kecil di belakang rumah kalian untuk memetik berry liar, menikmatinya sambil kalian tidur di rerumputan, lalu dia akan bercerita tentang apa saja. Saat itu kau tidak mengerti dan tidak peduli pada cerita-ceritanya. Kau lebih menyukai jari-jarinya yang membelai rambutmu, atau bibirnya yang tak pernah berhenti menciumi wajahmu. 

Sama seperti kau selalu menyukai setiap kali dia memohon padamu untuk menemaninya memasak makan siang kalian di dapur. Kau tahu kau tidak membantu apa-apa, alih-alih merepotkannya. Tapi dia selalu memohon seakan-akan kau adalah api, dan dia membutuhkanmu untuk menyelesaikan tugasnya siang itu. Sebelum kau sempat menjawab, dia buru-buru menggendongmu, mendudukanmu di meja tinggi di sana agar kau tidak bisa kabur, sambil menggelitiki pinggangmu. Kalian tertawa. Kau mengingat tawanya samar. Lalu dia menceritakan padamu kisah benda-benda yang ada di tangannya, seakan mereka berasal dari dunia entah berantah dan dia mengetahui semua rahasia mereka. 

Ibumu, perempuan yang kau ingat selalu ceria. Gerak-geriknya seperti mainan mobil analogmu yang baru saja kau putar tuasnya, bebas, dan sesekali membuatmu tertawa hingga perutmu sakit. Tapi ada yang luput kau ingat dalam dunia kanak-kanakmu yang menyenangkan bersama ibumu. Dia berubah pendiam, suram, dengan gerak-geriknya yang semakin hari semakin melambat hingga ia menghilang dan kau tidak pernah lagi melihatnya atau mendengar suaranya. Jika saja kau tiga atau empat tahun lebih tua dari usiamu saat itu, pikirmu. Mungkin dia masih bersamamu saat ini. 

Kau tidak menyadari jika sejak siang ibumu gelisah. Malam itu dia tidak bisa memejamkan matanya. Dia memelukmu lebih erat dan lebih kuat dari biasanya. Beberapa kali kau terjaga karena pelukannya membuatmu kesulitan bernapas. Dia seketika melonggarkan lingkaran tangannya dari badanmu, menepuk-nepuk pantatmu lembut, sesekali mengusap rambutmu, dan menciumimu. Kau juga tidak menyadari jika malam itu kau beberapa kali mengusap wajahmu saat tidur karena air matanya yang hangat jatuh di sana. Kau juga tidak menyadari ia berulang kali berbisik di telingamu, entah merapal doa atau mantra. 

Kau hanya mengingat dan lagi-lagi dengan samar, siang itu kalian sedang bersantai. Dia duduk di sofa hijau rumah kalian sambil memangkumu di pahanya. Jari-jarinya seperti biasa mengusap-usap rambutmu, menjawab setiap pertanyaan yang kau ajukan tentang benda-benda yang muncul dari layar televisi di hadapan kalian. Kau dan ibumu sedang menonton film kesukaanmu, Finding Nemo, ketika ayahmu datang, lalu duduk di samping kalian. Kau ingat ketika laki-laki itu mencium pipi ibumu. Kau cemburu dan terburu-buru mendorong wajah ayahmu menjauh dari pipi ibumu hingga mereka tertawa. Kau kembali serius menatap layar televisi hingga kau tidak sadar jika mereka terlibat dalam sebuah percakapan. Tiba-tiba intonasi suara ayahmu meninggi, disusul suara ibumu yang tak kalah nyaringnya. Kau kaget. Kau melihat roman muka mereka yang tak kalah tegangnya dengan air mukamu. 

Tiba-tiba tangan kekar ayahmu menyambar leher ibumu, mencengkeramnya kuat. Ibumu gelagapan, seperti kesulitan bernapas bahkan nyaris tersedak. Kau merasakan tangan ibumu tergesa mendorong tubuhmu menjauh dari pangkuannya, untuk kemudian berusaha melepaskan cengkraman tangan ayahmu dari lehernya. Kau melihat usaha jari-jari kecil ibumu yang sia-sia. Kau ketakutan. Kau berlari ke kamar, bersembunyi di dalam lemari seperti yang biasa kau lakukan ketika kau bermain petak umpet bersama ibumu.

Kau mendengar suara batuk ibumu berkali-kali. Kau mendengar mereka saling berteriak, suara benda-benda berjatuhan, mungkin terhempas ke dinding, atau jatuh ke lantai. Kegaduhan itu sudah tak asing di telingamu. Semua mendadak sepi dan hening sesaat setelah kau mendengar suara gedebum yang kuat, seperti sesuatu yang tumpul dilemparkan ke permukaan yang keras. Kau ketakutan, menangis sambil menutup wajahmu. Tak lama, kau mendengar suara pintu dibanting kuat. Dan kembali hening. Kau mencemaskan ibumu. Tapi tak punya keberanian untuk beranjak dari persembunyianmu. 

Kau tidak ingat berapa lama kau berdiam di lemari itu hingga ibumu membangunkanmu dan menggendongmu keluar. Saat kau membuka matamu, ibumu perempuan yang tidak sama dengan yang kau lihat ketika kalian menonton film kartun kesukaanmu, memasak makan siang, atau mencari berry liar bersamamu. Mata dan pelipisnya lebam, memerah nyaris membiru. Pipi sebelah kanannya tak kalah mengerikan. Darah yang mulai membeku tersisa antara ujung hidung dan tepi bibir ibumu. Matanya sembab seperti habis menangis. 

Mama jangan sedih, ya? ucapmu mencoba menghiburnya yang justru membuat air matanya mengalir semakin deras. Sepanjang sisa hari itu, ibumu enggan melepaskanmu dari pelukannya hingga ayahmu kembali pulang ketika kau setengah terlelap. Kau tidak dapat mengingat apa yang terjadi setelahnya kecuali suara keributan yang berulang dan kau nyaris menghapal urutannya. Suara-suara yang kau tahu merenggut ibumu darimu. 

Hal yang sekarang tiba-tiba menyengatmu ialah bahwa kepergian ibumu, hampir dua puluh tahun lalu, menyisakan kesepian, rasa sakit, kebencian, ketakutan. Tapi kau sama sekali tidak merasakan duka cita yang mendalam dan rumit, selain sebuah ruang kosong yang kemudian kau kunci rapat-rapat. Dalam pikiranmu ketika kau tiba-tiba merindukan ibumu, kau membayangkan sebuah tempat di dalam hutan. Ibumu di sana sedang menunggumu dengan tumpukan buah berry yang dia kumpulkan untukmu.

One response to “Bagian 1 : Perempuan yang Selalu Kau Ingat Sebagai Kembang Api”

  1. Vidya firda atria Avatar
    Vidya firda atria

    Tulisan yang sangat indah dan menyedihkan

    Saya kira tidak semua orang mampu menceritakan sudut pandang anak-anak yang polos dan tidak berpraduga. Butuh keluasan wawasan pula untuk mengisahkan semuanya dalam bahasa yang sederhana dan mengalir. Tulisan ini membuat saya percaya hanya butuh waktu (walau mungkin) bertahun-tahun banyaknya, untuk mengingat hal-hal yang hangat ketimbang bagian menyakitkannya. Bagaimanapun, kenangan indah terlalu berharga untuk dikabutkan oleh kejadian pahit. Terima kasih dan saya berbesar hati akan membaca tulisan-tulisan yang lain.

    Like

Leave a comment

Trending