Banyak sekali buku-buku dongeng sebelum tidur tersusun di rak bukuku. Sedari kecil hingga usiaku saat ini (14 tahun), aku selalu membuka lembaran buku dongeng ketika aku sedang bosan, mempunyai waktu luang, atau bingung ingin membaca buku apa. Membaca buku dongeng masih jadi kegiatan yang sangat menarik buatku. Tentu saja alasan utamanya karena kejenakaan, hingga hal-hal di luar nalar dan logika yang selalu ditemukan pada kisah-kisah dongeng. Entah itu hujan bakso, kisah payung besar yang melindungi sebuah kota untuk mencegah mencairnya gelato, hingga cerita sihir yang bisa membuatku tertawa terbahak- bahak atau mungkin mengernyitkan dahi. Tapi semua hal yang tidak masuk akal dan mustahil itu tidak perlu dilogikakan, tidak perlu dicari kebenarannya. Saat membaca dongeng, kamu harus siap untuk mempercayai apapun yang disampaikan penulis. Begitu juga dengan buku kumpulan Dongeng berjudul Dongeng Telepon karya Gianni Rodari.

Saat membaca judul yang tertera pada sampul, aku berasumsi jika buku Gianni Rodari ini mungkin sebuah prosa panjang (sekitar 242 halaman) yang ditujukan untuk anak. Dugaanku tidak sepenuhnya salah: buku ini merupakan kumpulan prosa-prosa pendek (lebih dari 70 prosa pendek) dalam bentuk kumpulan dongeng yang ditulis Rodari. Setiap judul terdiri dari teks yang tidak terlalu panjang. Jika tanpa ilustrasi, menurut perhitunganku tidak lebih dari setengah atau satu setengah halaman (mengenai panjang cerita, Rodari memiliki alasan tersendiri yang akan kamu ketehui persis di awal cerita atau di bagian pertama dari 71 cerita).

Bagian pertama dari Dongeng Telepon karya Rodari diawali dengan cerita mengenai Tuan Bianchi dari Varese, seorang akuntan sekaligus seorang Ayah yang memiliki seorang putri yang masih kanak-kanak. Tuan Bianchi selalu bepergian sepanjang minggu: berangkat pada hari Senin, dan pulang pada hari Minggu. Tentu saja kesibukan sang Ayah menyebabkan anak perempuan Tuan Bianchi (yang tidak disebutkan namanya selain sekadar—Gadis Kecil—entah karena alasan apa) tinggal berdua dengan sang Ibu, istri Tuan Bianchi. Si Gadis Kecil, untuk menebus rasa rindunya pada sang Ayah, selalu meminta Tuan Bianchi untuk membacakan sebuah dongeng sebelum tidur. Tuan Bianchi tentu saja tidak bisa menolak permintaan si Gadis Kecil, memenuhinya, meneleponnya setiap pukul sembilan malam sekadar untuk menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur.

Ada tiga hal yang membuat cerita yang tak lebih dari satu halaman di bagian pertama ini terlihat menakjubkan di mataku. Pertama, Tuan Bianchi dengan senang hati memenuhi permintaan putrinya untuk mendongeng sebelum tidur, setiap malam, meski mereka terpisah jarak yang sangat jauh. Aku bertanya-tanya, saat ini berapa banyak ayah yang bersedia setiap malam melakukan hal sesederhana itu untuk putri mereka? Kedua, telepon koin yang digunakan oleh Tuan Bianchi sebagai alat bantu mendongeng, yang mungkin tidak ada anak-anak seumuranku yang pernah menggunakannya. Yah, telepon koin adalah jenis telepon yang terbilang old school di mana kamu membutuhkan uang koin agar bisa tersambung dengan lawan bicaramu. Bukan hanya itu, kamu perlu mendatangi lokasi telepon koin berada, tidak seperti telepon pintar yang selalu berada di dalam genggaman. Lucunya lagi, setiap koin yang kamu masukkan memiliki durasi yang terbatas. Sehingga jika kamu ingin bercerita panjang lebar, kamu harus punya persediaan banyak koin atau sambungan panggilanmu akan seketika terputus. Ketiga, para operator telepon koin yang dengan sukarela meninggalkan panggilan-panggilan yang masuk hanya sekadar untuk ikut menndengarkan dongeng Tuan Bianchi. Tentu saja menurutku itu aneh. Di mana privasi si penelepon dan yang ditelepon? Atau mungkin, gilaaa! Seberapa keren dan dramatik cerita Tuan Bianchi sehingga mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka saat Tuan Bianchi mendongeng? Nah, untuk keheranan yang kedua, aku menemukannya jawabannya pada cerita-cerita setelahnya.

Petualangan pun dimulai. Rodari mengajak kita berpetualang ke negeri entah berantah lewat dongeng-dongeng yang diceritakan Tuan Bianchi pada putrinya. Dan sebelum aku melanjutkan tulisanku, aku ingin bertanya terlebih dahulu padamu (jika kamu sudah membacanya): apakah cerita-cerita Tuan Rodari bisa kamu pahami dengan sekali membaca? Atau kamu butuh membacanya berkali-kali, bahkan butuh jeda yang panjang? Atau cukup hanya dengan, tidak penting apa maksud dan tujuan Tuan Rodari, asal kamu merasa terhibur dan bisa bikin kamu tertawa? Jika aku, memilih yang kedua. Ya, aku butuh membacanya berulang kali bahkan mengambil jeda. Karena menurutku, tulisan Tuan Rodari tidak mungkin hanya sebatas dongeng yang surealis tanpa menyelipkan pesan utama yang justru penting dari Tuan Rodari sendiri.

Terus terang, aku sedikit kesulitan memahami maksud Tuan Rodari dalam cerita-ceritanya. Aku tidak ingin sekadar membaca dan selesai. Sebuah teks yang aku baca tidak boleh aku maknai secara tunggal. Hal itulah yang kemudian mengantarku untuk mencari tahu lebih banyak mengenai Tuan Rodari dan Dongeng Telepon. Aku terkejut menemukan fakta bahwa Gianni Rodari tak lain seorang penulis cerita anak yang begitu populer dan terkenal di Italia di abad ke-20 (karena di Indonesia, aku tidak pernah mendengar namanya sama sekali). Di negara asalnya, Italia, dia tidak kalah terkenal dari Carlo Collodi, si penulis cerita boneka berhidung panjang, Pinocchio. Hanya saja, karya-karya Gianni Rodari sangat jarang ditemukan dalam bahasa lain, terutama Bahasa Inggris, dan juga kurang populer. Tentu saja hal ini bukan tanpa alasan.

Gianni Rodari lahir dan besar di Italia. Ia mendukung paham sosialis dan dia tergabung dalam gerakan komunis di Italia. Selain mengajar, Rodari juga menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku filsafat dan politik. Masa-masa kehidupan Gianni Rodari adalah masa di mana Perang Dunia Kedua sedang berkecamuk di Italia dan menyebabkan Rodari kehilangan beberapa teman dekat dan anggota keluarganya. Begitu perang berakhir, Rodari sempat menjadi reporter di sebuah surat kabar ‘kiri’, L’Unita. Selama menjadi reporter di sana, Rodari sempat meliput berbagai kejadian tragis. Beberapa di antaranya kasus penembakan yang dilakukan oleh polisi terhadap pria-pria tidak bersenjata yang memprotes hak- hak pekerja; ataupun penembakan seorang Ayah hingga terbunuh. Rodari bahkan sempat membuat sebuah puisi mengenai kasus itu (The New York Times, 2020).

Rodari membenci dan menganggap serius kekerasan yang dilakukan oleh negara terhadap warga negaranya. Pengalaman-pengalaman menyedihkan yang dialaminya membuat Rodari ingin menuliskannya, tapi dalam versi yang berbeda, dengan target pembaca yang juga berbeda: kanak-kanak. Pemikiran dan protesnya tersebut kemudian dituliskannya dalam bentuk cerita untuk anak. Salah satunya, Dongeng Telepon. Dan sayangnya, pada saat Rodari berada di masa emasnya, di mana karya-karyanya begitu populer dan dibaca banyak orang di Italia, dunia sedang derada dalam kondisi perang dingin, sedang terjadi perseteruan besar- besaran antara paham sosialis-komunis dengan paham liberal-kapitalis yang membuat banyak nama penulis dan karyanya dikenal hampir di seluruh belahan dunia.

Rodari sangat populer, karyanya diminati dan dibaca banyak orang, tapi tidak di negara-negara yang melarang paham sosialis-komunis. Rodari dianggap sebagai penulis kiri. Karya-karyanya dianggap mengancam hingga pantas untuk dilarang. Itu sebabnya mengapa Rodari tidak begitu dikenal di negara-negara berbahasa Inggris atau negara menganut paham liberal-kapitalis, seperti Amerika, Inggris, bahkan Indonesia. Dan ini juga yang menjadi pertanyaan besarku: apa alasan penerbit di Indonesia mau menerjemahkan dan menerbitkan Dongeng Telepon ini? Apakah ideologi penulis sejalan dengan ideologi penerbit? Apakah penerbit sudah siap dengan respon pembaca ketika tahu jika Rodari seorang komunis? Atau ini merupakan alternatif (jika tidak boleh aku sebut gimmick) untuk mengenalkan buku anak dengan perspektif yang berbeda? Mungkin setelah buku ini benar-benar terbit, disebarkan, dibaca, dan dipahami, aku akan menemukan jawabannya.

Oh ya, Dongeng Telepon atau Telephone Tales, atau Favole of Telefono bukan satu-satunya karya Gianni Rodari. Rodari yang juga seorang guru di sebuah sekolah dasar, memang bergelut dan mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak, hingga memperoleh penghargaan Hans Christian Andersen Award pada tahun 1970. Karya-karya Rodari lainnya seperti, Tales Told by a Machine, The Adventures of Cipollino, dan Telephone Tales.

Nah, kembali ke buku yang baru saja selesai aku baca (sebagian dalam Bahasa Indonesia yang akan diterbitkan oleh Naura dan sebagian lagi dalam Bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Enchantel Lion Books), Dongeng Telepon atau Telephone Tales, berisi dongeng-dongeng pendek yang diceritakan oleh Tuan Bianchi kepada putri kecilnya lewat sambungan telepon koin. Setidaknya, itu menjawab satu pertanyaan sederhana, mengapa buku ini diberi judul Dongeng Telepon.

Cerita-cerita pendek dalam bentuk dongeng sebelum tidur dalam buku ini, menurutku cenderung surealis. Ini bukan perkara bahwa dongeng dipenuhi oleh hal-hal yang tidak masuk akal, kadang hiperbolis, kadang imajinatif, sama sekali bukan. Karya Rodari tidak sesederhana itu. Ini bukan seperti kisah kancil yang mencuri mentimun, atau Cinderella yang bertemu pangeran tampan, atau Si Itik Buruk Rupa, sama sekali bukan. Rodari menggunakan begitu banyak simbol di dalam ceritanya: tentang perang, kekerasan negara, kehilangan, dan kebodohan- kebodohan lainnya. Mungkin jika kamu membaca riwayat dan rekam jejak Rodari, kamu sedikit demi sedikit akan mengerti mengapa Rodari menulis cerita ini? Apa yang ingin disampaikan Rodari? Atau pertanyaan lainnya.

Meski sebuah cerita tak lebih panjang dari satu atau dua halaman, tapi Rodari seperti menyimpan makna yang berlapis. Misalnya saja, menurutmu apa yang ingin Rodari sampaikan dalam cerita Si Ceroboh Jalan-jalan? Apakah sekadar, kamu jadi anak jangan cerobohnya, nanti kamu bisa kehilangan tangamu, kakimu, atau mungkin kepalamu. Ya, garis besarnya mungkin seeprti itu. Tapi jika kamu menariknya pada ideologi si penulis, ada hal lain yang ingin disampaikan Rodari. Apakah kamu bisa menebaknya?

Atau dalam cerita Negeri Tumpul. Menurutku, itu bukan semata-mata kisah tentang sebuah negeri yang semua hal atau benda di sana menjadi tumpul atau dibuat tumpul, bahkan pedang. Melainkan cara Rodari untuk mengingatkan bahwa negara sudah menguasi segala hal. Ketika kamu melakukan sedikit saja kesalahan, maka itu akan berakibat pada banyak orang, mungkin saudaramu, orangtuamu, temanmu, atau tetanggamu. Negara membuat kamu melawan kelompokmu sendiri, yang menurutku dianalogikan oleh Rodari dengan, menampar pipi penjaga! (halaman 35). Atau kisah lain yang berjudul Negara dengan Kata Non di Depan, yang menurutku seperti cerita yang sarkastik dari Rodari tentang kekuasaan negara, perang, dan harapan yang sia-sia dari masyarakatnya.

Satu bagian lain yang menurutku menarik berada di cerita berjudul Menciptakan Bilangan. Cerita yang satu ini sangatlah pendek. Tapi ada satu bagian yang aku suka dari cerita pendek tersebut: tentang dua anak yang sedang berdebat

mengenai menciptakan bilangan yang kuantitasnya sangat tinggi. Hingga muncul pertanyaan dari salah seorang anak,

“Seberapa berat air mata?”

“Tergantung, Air mata anak nakal lebih ringan dari angin dan air mata anak yang lapar lebih berat dari seluruh dunia.” (halaman 48)

Dialog sederhana ini membuatku berpikir panjang. Di sekelilingku, banyak anak yang merengek hanya karena tidak diberikan tambahan waktu layar, atau tidak diberikan mainan terbaru yang sedang digandrungi anak-anak sebayanya. Namun di sisi lain, di belahan dunia lain, karena perang, jangankan mainan, untuk makan dua kali sehari saja mereka harus mempertaruhkan nyawa. Dan apa yang sudah dilakukan dunia untuk mereka? Sangat ironis, bukan?

Kumpulan cerita dalam Dongeng Telepon karya Gianni Rodari ini bukan sekadar kumpulan cerita yang imajinatif atau dipenuhi oleh fantasi. Rodari tidak sekdara menuliskan dongeng-dongeng yang akan mengantarkanmu atau anak- anakmu terlelap—sama sekali bukan! Justru membaca karya Rodari memaksamu untuk berpikir dan merenung. Dalam dongengnya, Rodari menyelipkan pesan- pesan yang bersifat politis. Bahkan Rodari menawarkan cara pandang yang berbeda mengenai ideologinya yang dicemaskan oleh negara-negara barat.

Gianni Rodari adalah penulis cerita anak yang ulung. Tapi cerita-cerita Rodari tidak sederhana. Rodari bermain simbol dan makna. Dongeng Rodari, meski pendek, memiliki pesan yang sangat dalam. Akan sangat menyenangkan jika anak- anak membaca buku ini bersama orang tua mereka, seperti Tuan Bianchi menelepon setiap pukul 9 malam sekadar untuk menceritakan sebuah dongeng untuk anak perempuannya. Dan akan menjadi lebih menarik jika setiap cerita yang ditulis oleh Rodari menjadi bahan diskusi antara anak dan orangtua. (AGJ)

Leave a comment

Trending