Rumah kecil itu adalah buku cerita kita, Nak.
Kau sebagai gambar-gambar yang ceria bagiku,
ayah sebagai suara si pendongeng untukmu.

Dari tepi tempat tidur ini, setiap malam
ayah lihat masa kecil dulu di wajahmu, terpukau
karena kisah BFG tua, pengantar serbuk mimpi itu.

Akan ayah ulang kembali padamu persis cara kakekmu dulu
saat ia mengibas-ngibas tangannya. Kau bayangkanlah
seperti buldozer yang telah membangunkanmu pagi ini.

Maafkan ayah, Nak, tak sempat mengambil sepiring sarapan untukmu, menyelamatkan barang-barang sekolahmu. Bahkan ayah
terlambat menjadi ibumu yang mestinya kaupeluk saat ini.

Meski ibumu tak ada di sini, segenap cintanya telah dititipkan kepada ayah,
agar selalu bisa menenangkanmu persis ucapannya dulu saat di sampingmu,
dan kau pun dapat menjalani hidup yang kaulihat di hadapanmu.

Kini buku cerita itu telah dirobek, Nak, juga hati teman-temanmu
sebab tidak boleh ada masa lalu mengotori kota di masa depan,
seperti gurumu menyuruh kau menghapus jawaban yang salah.

Tetapi percayalah, Nak, ingatan kita tidak akan pernah bisa roboh.
Ayah masih bersamamu hingga nanti kau menuliskan cerita ini
sebagai rumah untuk orang-orang yang tergusur masa kecilnya.

2019

Leave a comment

Trending