Mungkin sebagian besar anak-anak generasi Z dan generasi Alpha tidak mengenal lagu dan lirik berjudul Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project. Tapi karena ibuku sering memutar dan mendengar lagu ini di ruang tamu, musik dan liriknya terngiang-ngiang di kepalaku. ‘Terhanyut akan nostalgia’. Kalimat itu menyatakan bahwa Yogyakarta adalah tempat yang penuh dengan nostalgia, tempat penuh dengan kenangan. ‘Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna’, yang berarti Kota Yogyakarta memiliki sudut-sudut yang menyenangkan dan bersahabat. Lirik-lirik itu memang benar. Buktinya, ada banyak sekali wisatawan yang tertarik untuk datang ke Yogyakarta. Suasanya yang menyenangkan, tatanan kota yang menarik, kulinernya, dan masih banyak hal lain yang mungkin tidak aku tahu.
Ketika bicara mengenai Yogyakarta dan nostalgia, mungkin sebagian orang akan membayangkan jalan Malioboro, Tugu, atau destinasi wisata lainnya. Tapi hal yang paling aku ingat ketika bicara mengenai nostalgia kota Yogyakarta adalah pasar tradisionalnya, sebut saja Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede, Pasar Kranggan, atau Pasar Sore Malioboro. Tempat-tempat tersebut membuatku merasa seperti berada di masa lalu, terutama aktivitas buruh gendong dan jajanan pasarnya. Tentu saja selain penjual yang menghitung nominal belanjaan pembeli hanya dengan berkomat-kamit tanpa menggunakan alat bantu modern.
Pasar tradisional merupakan salah satu tempat perdagangan terlengkap. Tempat orang berjual beli, itu adalah arti pasar jika kita lihat dari KBBI. Hampir semua kebutuhan dasar dan kebetuhan sekunder bisa kita temukan di pasar tradisional: makanan, peralatan, bumbu untuk memasak, hingga keperluan sandang. Di pasar tradisional, pembeli diizinkan bernegosiasi dengan penjual, tidak seperti ketika kamu berbelanja ke supermarket di mana semua harga bernilai mutlak dan interaksi hanya terjadi di meja kasir. Interaksi ini yang menjadikan pasar tradisional begitu hidup dan sangat Indonesia sekali.
Semua daerah di Indonesia memiliki pasar tradisional, tentunya, baik pasar tradisional yang organik maupun yang kehadirannya direncanakan. Kota Yogjakarta memiliki banyak sekali pasar seperti Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede, Pasar Sore Malioboro, Padahal, masih ada puluhan pasar kecil di Kota Jogja. Pasar-pasar kecil yang bis akita temukan di setiap sudut Kota Yogyakarta.
Pasar-pasar di Kota Yogyakarta selalu memiliki lokasi yang strategis. Contohnya, pasar Kranggan yang berada di tengah Kota Yogyakarta. Pasar ini berada tidak jauh dari landmark kota Yogyakarta: Tugu. Lokasi ini menjadikan Pasar Kranggan mudah diakses, bahkan oleh turis yang baru pertama kali datang ke kota Yogyakarta. Selain akses yang mudah, hal lain yang aku suka dari pasar Kranggan adalah penataan dan kebersihannya. Meski sebagian bangunan pasar sudah direnovasi untuk program menuju pasar modern, selasar-selasar di Pasar Kranggan sangat luas dan nyaman bahkan ketika pasar cukup ramai sekalipun. Hal ini membuat para konsumen bisa berbelanja dengan nyaman dan tenang.
Ya, meski demikian, tetap saja ada hal yang sedikit mengganggu, lahan parkir yang terbatas, misalnya. Akan tetapi meski demikian, petugas parkir di Pasar Kranggan cukup sigap membantu siapa saja yang membutuhkan jasa mereka. Selian tentu saja keamaan kendaraan sehingga kamu tidak perlu was-was ketika berbelanja.
Akan tetapi, salah satu persoalan besar yang dihadapi oleh hampir sebagian besar pasar tradisional, tak terkecuali Pasar Kranggan adalah, kurangnya minat generasi muda untuk mengunjungi dan berbelanja di pasar tradisional. Padahal, dengan berbelanja di pasar tradisional kita ikut membantu mengembangkan dan menggerakan perekonomian masyarakat akar rumput. Generasi mudah lebih tertarik untuk berbelanja ke supermarket karena menurut asumsi dan pengalaman mereka, berbelanja di supermarket lebih praktis dan berkelas. Sehingga untuk bisa menarik minat para generasi muda, perlu diciptakan dan dikembangkan strategi yang sesuai dengan tren dan kebutuhan mereka. Misalnya, anak muda paling suka hangout dan pergi bersama teman-teman sepergaulan mereka ke tempat-tempat publik yang viral dan menarik. Mereka juga menyukai menu-menu yang sedang hits, menikmatinya sambil mengobrol.
Nah menariknya, pasar Kranggan kemudian mencoba menarik generasi muda untuk mau berkunjung ke pasar tradisional dengan menyediakan ruang publik seperti yang diinginkan dan diminati: menyajikan masakanan yang sedang hits, harga terjangkau, serta bisa jadi tempat berkumpul dan ngobrol. Ini jadi satu nilai tambah yang menarik dari Pasar Kranggan.
Pasar Kranggan menciptakan dan memiliki ruang publik bagi orang-orang, khususnya generasi muda, untuk bersantai dan mengobrol. Sehingga ke pasar tidak semata-mata untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga, melainkan juga hangout bersama bestie. Tempat itu berada di lantai dua Pasar Kranggan dengan masuk melaui pintu timur pasar.
Makanan yang disediakan oleh gerai-gerai di sana unik dengan harga terjangkau, dan tentu saja ditemani view yang menarik. Pelanggan bisa menikmati Tugu Jogja, Ikon Kota Yogyakarta sambil bersantap dan berdiskusi. Pelanggan juga bisa makan sambil menikmati pemandangan dan hilir mudik masyarakat kota Yogkarta. Hal menarik lainnya dari lantai dua pasar Kranggan ini adalah nama gerainya yang unik. Misalnya saja, Terang Bintang yang terkenal dengan kopi butter atau roti bakar selai srikaryanya. Ada juga gerai Mekar Makmoer yang terkenal dengan menu mi celor dan es sagu mangganya. Jika kamu penyuka makanan manis, kamu bisa singgah ke gerai Bake To The Moon yang sangat viral di media sosial. Atau penyuka ramen bisa mampir ke gerai Sumber Rejeki Sejahtera. Unik-unik dan jadul ya, nama gerai makan di sana?
Hal itu membuktikan bahwa pasar tradisional bisa menjadi lebih dari sekedar tempat berbelanja dan bertransaksi kebutuhan sehari-hari. Pasar tradisional juga bisa menjadi tempat bersantai dan berkumpul bagi anak muda. Tidak menutup kemungkinan, ketika anak muda berkumpul, mereka akan membentuk jaringan dan menghasilkan ide-ide luar biasa nantinya. Dan semua itu berawal dari sebuah pasar tradisional di pusat kota Yogyakarta bernama Pasar Kranggan.
*Esai ini diikutsertakan dalam lomba menulis esai untuk memperingati Hari Tata Ruang Nasional yang diadakan oleh Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kota Yogyakarta tahun 2022



Leave a comment