Aku punya banyak alasan untuk menyukai cerita-cerita silat yang ditulis oleh Jin-Yong. Buku-bukunya cukup banyak dan tebal, tapi aku baru punya 12 jilid. Aku tidak pernah bosan membacanya. Bahkan aku sudah mengulang membaca semua buku itu hingga empat kali. Bisakah kau bayangkan betapa menariknya buku-buku itu?
Karena buku itu mempunyai banyak jilid dan memiliki halaman tebal, menurutku, mungkin kamu jadi tidak ingin membacanya, membuatmu malas. Jadi, aku berpikir, aku harus membuat ulasan masing-masing buku itu agar kalian ingin membaca buku itu. Aku terpaksa harus membaca ulang semua buku itu. Sebenarnya tidak terpaksa, sih! Aku justru senang karena aku punya alasan untuk membaca semuanya lagi. Membaca buku-buku cerita silat Jin Yong bukan hal yang membosankan buatku.
Aku baru menyelesaikan buku Jin Yong jilid ke-5. Karena aku sudah tahu semua ceritanya, jadi aku membaca secara acak. Aku pilih saja cerita yang paling aku suka. Sebenarnya, itu tidak bagus sih buat pembaca, pembaca bisa jadi bingung. Tapi bagaimana lagi, aku terpaksa melakukannya. Aku ingin membaca buku tebal menjadi menyenangkan. Pesanku, sebelum kalian membaca ulasanku yang satu ini, kalian harus membaca terlebih dahulu ulasanku tentang jillid satu sampai jilid empat(Sebenarnya tidak ada sih). Jika tidak, kalian mungkin bakal garuk-garuk kepala.
awalnya, Jin Yong menceritakan seorang anak laki-laki bernama Yang Guo. Yang Guo sudah mengembara kesana-sini, jadi bajunya compang-camping. Yang Guo dibagian ini bertemu dengan paman dan bibinya. Pamannya dikenal dengan nama Pendekar Besar Guo. Tentu saja dia punya nama asli. Namanya Guo Jing. Bibinya bernama Huang Rong.
Yang Guo sebenarnya tidak mengenal sama sekali paman dan bibinya, karena hidup dan tinggal bersama ibunya, Mu Nianci. Pasti kamu bertanya, ayah Yang Guo siapa, iya kan? Ayah Yang Guo, Yang Kang, sayangnya sudah meninggal. Yang Guo di cerita ini masih belum mengenal wajah ayahnya. Ya, tentu saja, dulu belum ada kamera dan handphone, tidak seperti sekarang. Menurut kabar, ayah Yang Guo mati dibunuh. Tapi dia sendiri juga belum tahu pembunuh ayahnya.
Menurutku, ibu Yang Guo, Mu Nianci, perempuan yang baik dan bijak. Dia bersikap seperti pendekar-pendekar berhati mulia. Jin Yong dibukunya itu menuliskan, Mu Nianci tidak pernah berkata pada anaknya untuk membalaskan dendam kematian suaminya. Padahal jika aku pikir-pikir, mungkin dia ingin sekali membalaskan dendam. Aku saja yang masih anak-anak, jika dijahili teman, pasti ingin membalasnya. Atau ketika dimarahi om dan bunda, aku ingin membalasnya juga sesekali. Aku tidak akan membalas dengan cara yang sama. Aku harus memikirkan sesuatu yang cerdik, semacam Matilda, mungkin. Ya, aku bukan pendekar, sih, makanya aku bertindak seperti itu.
Sebelum bertemu dengan paman dan bibinya, Yang Guo bertemu terlebih dahulu dengan sepupunya, Guo Fu. Menurutku, Guo Fu adalah anak yang sombong dan manja. Apalagi ketika ia melihat Yang Guo yang pakaiannya compang-camping. Kenapa aku mengatakan Guo Fu merupakan anak yang manja? Dia selalu lengket dan tidak mau jauh-jauh dari ibunya. Karena dia anak pendekar, itu sebuh hal yang aneh menurutku. Tapi dia juga sama sepertiku. Aku tidak mau jauh-jauh dari bunda. Menurutku jauh dari bunda itu membuat dunia menjadi sedikit sepi. Meskipun ada om tapi rasanya berbeda saja. Tapi Guo Fu? Aku tidak tahu pasti alasannya. Mungkin dia semacam ada gangguan atau kelainan. Aku tidak begitu yakin sih!
Aku juga bilang jika Guo Fu itu sombong dan keras kepala. Dia tidak mau disalahkan meskipun dia sudah jelas salah. Dia sama seperti omku, lelaki yang selalu merasa benar. Aku sebenarnya tidak suka laki-laki seperti itu. Jika memang salah, ya sebaiknya mengaku saja dan minta maaf. Tapi akhir-akhir ini, aku juga seperti Guo Fu dan om. Menurutmu keras kepala dan sombong itu menular?
Nah, yang aku tangkap dari buku ini, Yang Guo tidak mau mengalah begitu saja terhadap Guo Fu. Yang Guo melawan Guo Fu dengan pukulan-pukulannya. Psst, tapi apakah kamu tahu bahwa sebenarnya Yang Guo itu tidak bisa bela diri? Dia hanya asal memukul dan menendang. Gerakannya ngawur sekali. Dia kacau sekali! Jadi setelah aku pikir-pikir, sebenarnya yang keras kepala itu, Yang Guo atau Guo Fu? Jika memang tidak bisa bela diri, ya mengaku saja. Bagaimana jika nanti luka parah atau pingsan? Tapi merekakan masih saudara, jadi aku pikir itu sifat dalam keluarga mereka. Huuuu!!
Guo Fu sudah diajarkan ilmu bela diri oleh ayahnya. Tentu saja Yang Guo kalah. Sekali pukul, sudah bikin Yang Guo terjatuh. Tapi, dasar Yang Guo keras kepala, dia tetap menyerang dan menerjang Guo Fu tak tentu arah. Pasti yang dilakukan Yang Guo konyol sekali. Perkelahian itu baru berhenti ketika paman dan bibi Yang Guo datang.
Guo Jing dan Huang Rong terkejut. Dan apakah kamu bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya? Percayalah, teka-teki dibuku ini mudah sekali ditebak, sangat gampang dipecahkan. Cerita Jin-Yong berbeda sekali dengan Umberto Eco. Pembaca Jin Yong pasti sudah bisa menduga-duga kelanjutan ceritanya. Yup, betul sekali! Yang Guo dibawa paman dan bibinya ke pulau Persik.
Yang Guo lalu belajar bela diri dan masuk aliran Quanzhen. Karena sifat Yang Guo pengacau, dia akhirnya dikeluarkan dari Quanzhen. Atau lebih tepatnya melarikan diri. Dia sudah bertindak tidak sopan pada gurunya sendiri. Tentu saja gurunya marah jika muridnya berlaku tidak sopan. Ya, kurang lebih sama dengan sekolahku. Anak-anak harus mencium tangan, mengikuti semua perkataan guru, tidak boleh melawan, hanya patuh dan menurut saja. Sangat membosankan. Tapi bunda dan omku bilang, aku harus nakal. Aku harus jadi anak bandel sesekali. Pasti bunda dan om senang sekali jika aku berteman dengan Yang Guo.
Sebenarnya Yang Guo itu murid yang cerdas (aku tidak bilang jika aku sama dengan Yang Guo, lho!) Dia memilih kabur dan menjadi murid di aliran Kuburan Kuno. Kuburan Kuno tempatnya sangat sepi. Memang seperti kuburan, dan juga sepi. Menurutku sepi karena muridnya hanya seorang, yaitu Yang Guo.
Guru Yang Guo usianya hanya berbeda beberapa tahun saja dari Yang Guo. Hm, bagaimana rasanya punya guru yang seumuran, ya? Dan apakah kamu tahu, guru Yang Guo itu seorang perempua lho! Aku tidak bermaksud gender. Menurutku siapa saja bisa jadi guru, tidak harus laki-laki. Aku sudah melihat ada pemain sepakbola perempuan, petinju perempuan, pendaki gunung perempuan. Jadi, sejak dulu perempuan itu sudah bisa melakukan banyak hal. Perempuan juga jadi guru bela diri. Tapi yang lucunya, mereka jadi saling menyukai. Xixixixixi, aneh sekali!
Di bagian ini ada beberapa adegan dewasa. Tapi menurutku tidak terlalu parah. Tidak separah cerita Gabo. Aku biasa saja sih membacanya. Tidak ada yang aneh dari cerita itu. Tapi Xiao Longnu, guru Yang Guo, akhirnya memilih pergi. Dia menghilang entah kemana. Mungkin karena tidak mau berpacaran dengan muridnya sendiri. Yang Guo sangat sedih.
Akhir-akhir ini aku merasa perasaan Yang Guo terhadap Xiao Longnu hampir setara dengan perasaanku terhadap bunda, setara perasaanku terhadap om. Tapi tentu saja berbeda dengan perasaan Yang Guo. Maksudku setara, ketika Yang Guo kehilangan Xiao Longnu. Dia bersedih sekali, seakan-akan tidak ada lagi yang menarik di dunia ini. Aku pikir, aku juga akan seperti itu jika kehilangan bunda dan om.
Yang Guo seperti putus asa(Bukan seperti, tapi benar-benar putus asa). Dia jadi bersedih dan murung. Padahal itu bukan sifat asli Yang Guo. Dia orang yang selalu tertawa. Tidak ada hal yang tidak lucu menurutnya. Mirip-mirip omku, tapi sedikit berbeda karena omku suka bersedih tak tentu dan dia jadi menyebalkan.
Yang Guo diceritakan bertemu dengan banyak teman, Lu Wushuang, Wanyan Ping (Wanyan Ping keturunan bangsa Jin), dan Yelu Qi. Meskipun mereka bersahabat baik tapi Yang Guo masih saja bersedih. Xiao Longnu masih belum ditemukannya. Yang Guo bertanya ke setiap orang yang ditemuinya di jalan. Tapi tak satu pun yang pernah melihat Xiao Longnu. Ketika om tidak ada, aku dan bunda mencarinya dan bertanya pada banyak orang. Aku tidak tahu, jika aku tidak ada, apakah bunda dan om akan mencari seperti itu juga? Atau ketika aku dan bunda menghilang, apakah om akan mencari kami? Mungkin cerita itu yang membuat aku sangat suka membaca jilid ini.



Leave a comment