Pindah Rumah

“Raya!” teriak mama. Raya diam saja. Dia tidak menjawab. Raya masih kesal pada mama. Jadi dia memilih bersembunyi di antara tumpukan kardus-kardus di ruang kosong itu. Mereka baru saja pindah ke rumah itu, baru saja. Rumah itu terlihat berantakan. Kardus-kardus dan barang-barang lainnya tergeletak tak beraturan.

Sejak papanya pergi, mama Raya suka memutuskan banyak hal sendiri. Tidak seperti biasanya. Mama Raya juga memutuskan pindah rumah. Konyolnya lagi, dia memilih pindah ke kota Sunopa. Raya tidak tahu apa menariknya kota Sunopa ini. Ini hanya sebuah kota kecil. Mungkin perpustakaan atau toko bukunya akan terlihat mengerikan. Dan anak-anaknya? Raya tidak yakin jika mereka menyenangkan dan asik diajak main atau ngobrol.

Menurutnya, keputusan mama untuk pindah rumah, sangat konyol. Bagaimana jika tiba-tiba papa pulang dan tidak ada siapa-siapa di rumah mereka sebelumnya? Tapi mama bilang, ayahmu tidak akan kembali Raya. Kalaupun dia kembali, biarkan saja. Raya tidak mengerti. Bukankah itu konyol?

“Raya! Kapan kamu bisa membereskan barang-barangmu? Ayolah, jangan seperti anak kecil!” Raya diam saja. Untuk apa menjawab. Kalimat mama jadi tidak logis. Apakah mama Raya lupa jika Raya memang anak kecil? Umur Raya masih 10 tahun. Memangnya mama pikir Raya sudah berusia berapa?

“Raya!” kepala mama muncul dari balik kardus. Raya kaget. Tapi Raya tetap melanjutkan membaca bukunya.

“Ayolah!! Bisakah kita bekerja sama?”

“Memangnya ketika memutuskan pindah, mama meminta pendapatku? Lalu kenapa tiba-tiba mama sekarang memintaku bekerja sama? Memangnya seperti itu yang namanya tim? Memutuskan sendiri?” Raya meneruskan membaca buku. Dia tidak memedulikan mama.

”Raya, bisakah kamu berhenti membaca bukumu itu?!”

“Mengapa aku harus berhenti membaca? Bukankah orang tua suka jika anak-anaknya banyak membaca?” Raya mengernyit. Mama juga mengernyit. Jidat mereka sama-sama berkerut. Raya tahu mama mulai kesal. Sebentar lagi, mama pasti marah.

Akhir-akhir ini, mama suka sekali marah. Sejak papa pergi, banyak hal bisa membuatnya marah. Raya terlambat pulang sekolah, Raya menumpahkan susu, Raya lupa menyiram tanaman, atau hal-hal lainnya. Raya selalu berpikir, kenapa orang dewasa cepat sekali marah? Tidak seharusnya mama marah. Mama bisa bicara baik-baik padanya. Ketika mama marah, segala sesuatu hanya menjadi lebih buruk.

Apakah mama berpikir, dengan marah susu itu kembali ke wadahnya, atau bunga itu kembali segar, atau papa kembali pulang ke rumah? Ya tidak mungkinlah!! Ketika mama marah, Raya seperti ingin terlempar ke planet jauh. Dia ingin jauh dari mama.

Tapi Raya juga sering berpikir, kenapa dia harus menyalahkan mama? Mungkin jika papa tidak pergi, mama akan lebih sering tertawa. Papa itu semacam obat yang membuat mama dan Raya jadi bergembira. Harusnya papa tidak pergi.

“Raya sayang, bisakah kita bicara sebentar?” Mama membelai tangan Raya, menutup buku di pangkuan Raya, dan membelai rambut Raya.

Haaaaah?!! Mengapa naganya tidak muncul?Mengapa tiba-tiba mama jadi lembut begini? Apa mama bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan? bisik Raya di dalam hatinya.

“Aku tidak suka di sini, Ma…,”

“Mama tahu, Raya. Itu hanya sementara. Nanti jika sudah terbiasa, kamu akan suka!”

“Kenapa sih kita harus pindah? Apa karena papa pergi?”

Wajah mama terlihat sedih. Lalu tiba-tiba mukanya berubah. Naganya sudah kembali lagi. Waah, ini gawat!!!

“Sekarang, bereskan barang-barangmu. Tidak ada negosiasi!”

“Aku mau baca dulu, Ma!”

“Tutup bukumu, sekarang!”

Apa mama pikir hanya mama yang punya naga? Raya juga punya naga. Naga milik Raya memang masih kecil, anak naga.

“Mama dan Papa itu aneh!! Suka sekali membuat aku bingung! Mama sama papa bilang aku harus banyak membaca. Ketika aku ingin membantu mama, mama selalu bilang, ‘Tidak usah Raya, mama bisa melakukannya. Tidak usah Raya, papa yang akan membereskannya! Mending kamu lanjutkan saja baca bukumu!’ Giliran aku ingin baca, mama dan papa suruh aku melakukan ini dan itu. Bukankah itu menganggu konsentrasiku? Jika aku terlihat tidak membaca, mama dan papa bilang, bukumu mau dibuang saja, Raya?’ Lalu aku haus melakukan apa? Apa aku harus terus membaca buku atau membantu mama dan papa? Aku juga ingin melakukan yang aku suka!”

Mama melotot. Mungkin mama kaget melihat sikap Raya. Raya menyadarinya. Dia harus memikirkan sesuatu. Bayi naganya tidak mungkin menang melawan naga milik mama.

“Raya kan jadi bingung, Ma! Sekarang giliran Raya sedang ingin membaca, mama menyuruh Raya melakukan hal lain. Jadi Raya harus bagaimana?” Raya menutup kalimatnya dengan lembut.

Raya merasa mama dan papa sangat tidak jelas. Mereka berdua labil. Orang tua yang sangat labik. Mereka berdua seperti mainan jungkat-jungkit di taman bermain. Benar-benar pasangan yang serasi.

Raya sering membayangkan bagaimana jika mamanya menikah dengan orang lain selain papa, apakah hasilnya akan berbeda? Raya pernah menanyakannya pada mama. Tetapi, setiap kali Raya bertanya , mengapa mama tidak menikah saja dengan laki-laki lain, selain papa? Dengan lembut mama selalu menjawab, jika mama menikah dengan orang lain, maka mama tidak akan pernah memiliki kamu, Raya. Raya bingung jika mama sudah menjawab seperti itu. Dia tidak ingin orangtuanya bersikap labil. Tapi, dia juga ingin tetap dilahirkan sebagai Raya.

Raya akhirnya mengalah. Percuma berdebat dengan mama. Dia tidak akan pernah menang, tidak akan pernah. Tapi lebih menyebalkan lagi jika berdebat dengan papa. Papa dan mama sangat keras kepala. Lebih keras kepala dari Raya. Melawan mereka hanya membuang waktu dan membuat Raya semakin kesal. Jika sudah berargumen dengan papa, Raya lebih sering memilih diam saja atau mengangguk saja.

Raya mengambil koper, tas, botol minum, dan plastik mainan miliknya. Dia menyeretnya ke lantai atas, ke kamarnya. Langkahnya malas, wajahnya memelas. Mama menggeleng-gelengkan kepala. Melihat mama begitu, Raya tersenyum lebar. Senyum yang dipaksakan selebar mungkin. Raya ingin menunjukkan pada mama, dia bisa jadi anak baik. Tapi dengan sangat terpaksa. Mama harus tahu itu!

Saat di tangga, Raya menoleh ke belakang. Wajah mamanya sangat lucu sekarang. Mulut mama monyong ke samping, matanya melotot, hidungnya kembang-kempis, kupingnya tegak ke samping seperti kuping elf yang kaget. Hanya rambut pendeknya yang selalu sama, terlihat seperti rambut medusa. Tidak enak dipandang. Tangannya melipat di depan dadanya, kakinya yang pendek terlihat kurang dari sejengkal telapak tangan Raya. Sungguh lucu sekali. Raya hampir mau tertawa. Tapi dia tahu, itu hanya akan mendatangkan bencana. Raya menaruh barang-barangnya pada anak tangga. Dia kembali turun, berlari mendekati mama, lalu memeluknya. Memeluk mama dengan sangat erat seakan itu pelukan yang terakhir buat mama.

“Mama yang baik, jangan marah, ya… Raya akan bantu mama, kok. Raya sayaaaaang sekali sama mama” Raya melirik mama. Wajah mama terlihat aneh, seperti keheranan. Tapi menjadi sangat lembut. Raya suka melihatnya.

Raya lalu pergi ke dapur, membuka kardus bertuliskan piring, gelas, sendok dan garpu. Raya mengeluarkan benda-benda itu dan menaruhnya di meja panjang yang ada di tengah ruangan. Raya melihat ke arah mama. Mama masih berdiri di tempat yang sama. Mama memperhatikan Raya.

“Kamu mau apa, Raya?”

“Ngg, untuk bekerja dan membereskan barang-barang ini, Raya perlu energi, Ma. Jadi, boleh Raya makan dulu?” Raya membuat senyum yang sangat lebar di bibirnya. Mama cemberut. Berjalan ke arah Raya. Raya tahu, mama bukan orang jahat.

Raya lalu mendekati tumpukan kardus berisi buku yang banyaknya minta ampun. Raya mengeluarkan buku-buku itu dan menyesuaikannya sesusai dengan genre buku. Saat merapikan buku genre Terlucu yang tertulis di kardus, Raya menemukan buku berjudul How To Make Parents Impartial To The Children. Raya tersenyum simpul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s