Daftar Kenakalan Untuk Uma*

Namaku Uma. Aku duduk di kelas Jangan Menyerah, Sekolah Terbaik Sunopa. Jika kalian kenal Alinka, aku kakak kelasnya. Aku memiliki ibu yang aneh. Ibu sangat ingin dipanggil oleh kepala sekolah. Tetapi bukan karena hal baik atau prestasi yang sudah aku lakukan, seperti juara lomba apalah atau akan tampil di kegiatan apalah atau apalah lainnya. Ibu ingin dipanggil karena aku nakal.

Aku bingung mendengar permintaan ibuku. Berhari-hari aku berpikir jika ibu hanya bercanda. Tapi setiap akan tidur, ibu selalu bertanya, kamu sudah melakukan kenakalan apa hari ini? Aku berpikir mungkin ibu sudah tidak waras. Tapi bagaimana pun, ia tetap ibuku. Jadi aku akan berusaha untuk mengabulkan permintaannya, mungkin satu kali saja.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku sedang memikirkan kenakalan apa yang bisa kulakukan besok di sekolah. Kenakalannya harus luar biasa. Jika tidak, ibu tidak akan dipanggil oleh kepala sekolah. Ya, mungkin kamu sudah tahu dari Alinka, di sekolah, aku termasuk anak yang cerdas dan rajin. Bukan aku bermaksud sombong, sih! Semua teman menyukaiku. Guru-guru menyayangiku. Bahkan kepala sekolah selalu membelaku. Aku semacam anak kebanggaan di Sekolah Terbaik Sunopa.

Aku pernah tidak masuk sekolah karena sakit, lama sekali. Padahal saat itu sedang ujian. Ketika aku masuk sekolah, harusnya aku ujian sendiri di ruang guru, karena teman-temanku yang lain sudah ujian. Tapi karena kondisiku belum pulih, bu guru malah memintaku pulang, beristirahat, membawa soal-soal ujian itu, dan membolehkanku mengerjakannya di rumah. Jika itu anak-anak lain, bahkan Alinka sekalipun, pasti mereka tetap harus mengerjakannya sendirian di ruang guru.

Mataku tak bisa terpejam. Aku membalik-balik badan ke kiri dan ke kanan. Aku bangun dari tempat tidur, duduk di kursi belajar, membuka gorden jendela di hadapanku. Di luar sudah gelap sekali. Aku melihat jam di dinding, sudah pukul satu malam. Aku mengeluarkan buku catatan dari tasku, membalik-balik halamannya. Setelah ibu meminta aku untuk nakal, aku mencoba membuat daftar kenakalan-kenakalan yang biasa dilakukan anak-anak di sekolah. Beberapa aku tahu dari cerita ayah dan dari Matilda.

  1. merokok di sekolah
  2. mencuri makanan
  3. memberi lem di kursi guru
  4. mengikat tali sepatu sebelah kiri dan kanan temanku saat upacara
  5. Kentut di depan kelas

Kubuka laptop, menyalakannya, menuliskan sesuatu di google. Kenakalan anak-anak di sekolah. Aku membaca beberapa tulisan. Aku juga melihat beberapa video anak-anak yang jahil di sekolah. Tidak ada yang menarik. Aku tidak menyukai semuanya. Kenakalan mereka terlalu umum dan kurang cerdas. Aku pikir, kenakalan yang dilakukan ayahku dulu saat masih sekolah jauh lebih keren. Aku rindu ayah.

Ayah pergi meninggalkanku dan ibu. Aku tidak tahu alasannya. Ibu tidak mau menceritakannya. Setiap aku bertanya, ibu hanya menjawab, Pikiran orang dewasa itu rumit, Uma. Ugh... Kuputuskan, aku tidak ingin jadi dewasa.

Aku mencoba mengingat-ingat lagi cerita-cerita ayah. Ayah suka sekali bercerita. Ayah akan bercerita di manapun yang ia mau, tidak harus sebelum tidur. Jika ayah sudah bercerita, maka akan sulit menghentikannya. Aku suka bepergian dengan ayah, naik sepeda. Karena di sepanjang perjalanan, ayah akan banyak bercerita. Aku paling suka jika ayah menceritakan kisah masa kecilnya. Kata ayah, dulu ia anak yang nakal, sangat nakal.

Ayah pernah dihukum guru karena ketahuan merokok di belakang sekolah. Aku sering mendengar dan membaca bahwa anak-anak tidak boleh merokok, apalagi di sekolah. Merokok bisa mengganggu kesehatan karena rokok mengandung zat berbahaya. Aku tidak bisa mengingat namanya. Itu hal yang sulit meski aku anak paling pintar di kelas. Aku hanya ingat, asap pembakaran rokok jika terhisap bisa menyebabkan banyak penyakit.

Aku bingung dengan orang-orang dewasa. Mereka mengatakan asap rokok berbahaya. Tetapi mereka tidak terganggu sama sekali dengan asap kendaraan. Di jalanan, banyak sekali sepeda motor dan mobil. Aku pikir, asap kendaraan jauh lebih banyak daripada asap rokok. Jadi, kendaraan jauh lebih berbahaya.

Aku protes pada ayah, lebih bahaya asap kendaraan daripada asap rokok, ayah! Tapi mengapa orang-orang tidak dilarang menggunakan kendaraan. Malah kendaraan semakin banyak? Ayah hanya tertawa. Aku heran ayah tertawa. Kamu benar, Uma, kata ayah. Makanya ayah tetap merokok dan lebih suka naik sepeda. Tapi, rokok ayah bukan rokok-rokok sampah bermerek keren itu, bukan produk kapitalis. Ayah merokok tembakau, dipetik oleh tangan petani dan tidak perlu masuk pabrik.

“Jika begitu, anak-anak boleh merokok, Yah?” tanyaku. Ayah tertawa lagi.

“Kamu ingin merokok? Ini, coba.” Ayah memberikan rokok di tangannya padaku. Aku menggeleng. Aku pikir, ayah sudah sinting.

“Kenapa? Kamu takut?” tanya ayah. Aku menggeleng lagi.

“Aneh melihat anak-anak merokok, Ayah. Apalagi anak perempuan. Nanti aku dicap anak nakal sama teman-teman dan guru.”

“Uma takut jadi anak nakal?” tanya ayah.

“Tidak!” jawabku. “Hanya saja, teman-teman suka mengejek dan itu menyebalkan.”

“Jika begitu, jangan merokok. Tapi jika kamu ingin merokok, jangan sembunyi-sembunyi. Merokok saja di rumah, di depan ayah dan ibu. Mengerti?” tanya ayah mengusap rambutku. Aku mengangguk.

Ah, aku tidak mungkin merokok di sekolah. Meskipun Wislawa terlihat keren dengan rokok di tangannya, tapi Wislawa sudah menuliskan puisi-puisi yang bagus. Lagipula, ayah pernah bilang, jika aku ingin merokok lakukan di rumah. Aku mencoret, merokok di sekolah, dari catatan.

Buuuuk!!! tiba-tiba aku mendengar suara, seperti sesuatu yang jatuh dengan cepat dan menyentuh tanah. Aku pikir itu buah mangga di depan rumah. Beberapa minggu ini, pohon mangga di depan rumah berbuah. Buahnya banyak sekali. Biasanya, ayah yang suka memanjat dan memetik mangga-mangga itu. Tapi ayah tidak ada. Ibuku takut ketinggian dan dia tidak memberiku izin untuk memanjat. Kami hanya mengambil beberapa menggunakan kayu panjang. Jika malam, aku sering mendengar suara-suara buuuk…buuuk…. Mangga-mangga itu berjatuhan. Lagi-lagi, aku teringat ayah. Aku juga ingat ceritanya tentang kelakuannya mencuri buah-buahan di kebun orang.

Kata ayah, dulu hidupnya susah sekali. Jangankan membeli banyak buah, bisa makan nasi saja sudah lumayan. Ayah terpaksa mencuri singkong, bengkuang, mentimun, papaya, jambu, atau apa saja. Jika tidak, ia akan kelaparan. Tapi ayah bukan hanya mencuri, ia juga mengelabui pemilik kebun.

Cerita ayah, siang itu dia mengendap-endap masuk ke sebuah kebun. Ayah lapar sekali. Berangkat sekolah, ia hanya sarapan sepotong pepaya. Beras di rumah sudah habis, dan ibunya ayah sudah tidak punya uang. Ayah terpaksa makan pepaya untuk sarapan. Perut ayah berbunyi, ribut sekali. Dia melihat kebun bengkuang. Ayah lalu menggali dan mengambil beberapa buah bengkuang. Beberapa juga dimasukkannya ke dalam tas sekolahnya. Kata ayah, bengkuang di dalam tas untuk ibu dan kakaknya. Tas dan buku-buku sekolahnya jadi kotor dipenuhi tanah. Tapi perut harus diisi.

Setelah menggali dan mengambil beberapa bengkuang, ayah menanam kembali pohon bengkuang itu dengan baik, seperti belum digali dan diambil buahnya, seperti tidak terjadi pencurian. Bukankah itu licik?

Tapi aku harus mencuri apa? Di Sunopa sudah tidak ada kebun. Semuanya dipenuhi gedung-gedung. Di rumah-rumah tetanggaku pun tidak banyak pohon buah. Lagipula, aku tidak sedang kelaparan. Ibu tidak sedang kekurangan uang. Di rumah, aku punya banyak makanan. Jadi, apa alasanku mencuri? Aku terpaksa mencoret rencana untuk mencuri.

Aku kembali melihat daftar kenakalan yang ada di catatanku. Aku belum menemukan ide yang tepat. Aku melihat jam di dinding, sudah pukul dua. Aku harus segera tidur. Jika ayah tidak pergi, aku yakin dia bisa membantuku memecahkan masalah sulit ini. Aku tidak tahu, mengapa ibu sangat ingin aku nakal di sekolah. Padahal orang tua yang lain ingin anaknya disukai dan dibanggakan guru atau kepala sekolah.

Aku menutup buku catatanku, memasukkannya kembali ke dalam tas. Tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu di dalam tas, permen karet. Aku tidak ingat bagaimana permen ini bisa ada di dalam tasku. Aku tidak makan permen karet. Aku tidak memakan semua jenis permen. Tapi ayah sesekali suka memberiku permen. Katanya sebagai hadiah. Tentu saja kami makannya sembunyi-sembunyi biar tidak ketahuan ibu. Tiba-tiba, aku mendapatkan sebuah ide. Aku pikir ini akan menarik. Ibuku pasti suka. Aku yakin, dia akan kerepotan setelahnya.

*Pertama kali dipublikasikan di http://www.sahabatgorga.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s