Aku Radio bagi Mamaku (2)

#Repost @asefsaefulanwar (@get_repost)
・・・

Sumbangan @naya_ghinajamela dalam karya sastra Indonesia adalah membongkar sekat sastra anak dan sastra dewasa. Karyanya pernah muncul di media massa dalam rubrik yg biasa diisi para penyair dewasa (padahal ada rubrik sastra anak), menjadi nominasi sejumlah penghargaan yg saingannya adalah karya para penulis dewasa, dan sepengetahuan saya pembacanya lebih banyak pembaca dewasa daripada pembaca anak-anak. Saya pernah menulis tentang bagaimana bisa pembaca dewasa menikmati karya2nya, tapi kajian itu masih saya simpan, tunggu waktu yg tepat untuk dipublikasikan.

Namun, salah satu alasan mengapa pembaca dewasa menikmati karyanya karena mampu mengantarkan pembaca dewasa bernostalgia pada imajinasi masa kecilnya. Tidak sekadar pada pengalaman masa kecil semacam: perasaan saat membolos, menemukan perpustakaan yg sepi, bermain bersama kawan, dll., tapi juga imajinasi saat kita kecil dulu: monster tembok, pohon fiktif, menghidupkan patung, dll. . .
Dan tentu, sebagaimana pernah saya singgung, karya Naya ditulis dengan gaya tutur yg mengasyikkan dan humor yg–saya tak menemukannya dalam bahasa Indonesia–dalam bahasa Jawa disebut “nggateli” di sela2 sejumlah cerita. Oh ya, ada keluhan lucu yang sering diulang2 dalam kumpulan cerpen ini ketika si tokoh kesal dg tingkah kawan2nya, yaitu: “Ugh, dasar anak zaman sekarang!” Apakah itu tanda kalau penulisnya memang sudah dewasa, sudah bukan “anak zaman sekarang”? . .
Saya tak dapat menjawab. Silakan Anda baca kumcernya dan simpulkan jawaban Anda. Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s